INDUSTRY.co.id - Citeureup - Perjalanan Mazda di Indonesia memasuki babak baru. Setelah hampir satu dekade memperkuat pasar nasional melalui jaringan penjualan dan layanan purnajual, kini merek otomotif asal Jepang itu resmi memulai perakitan kendaraan di dalam negeri dengan meresmikan fasilitas produksi pertamanya di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Peresmian Mazda Indonesia Plant pada hari ini, menjadi tonggak penting bagi PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku Agen Pemegang Merek (APM) Mazda di Indonesia. Langkah ini menandai dimulainya era manufaktur Mazda di Tanah Air sekaligus mempertegas komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung perkembangan industri otomotif nasional.

Acara peresmian dihadiri jajaran Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, perwakilan Mazda Motor Corporation, serta pimpinan Eurokars Group. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi kolaborasi antara pemerintah, prinsipal global, dan mitra regional dalam membangun ekosistem industri otomotif yang semakin kompetitif.

Mazda menggelontorkan investasi lebih dari Rp400 miliar untuk membangun fasilitas perakitan yang berdiri di atas lahan hampir 65.000 meter persegi. Pabrik ini dirancang berdasarkan Mazda Global Manufacturing Standards yang dilengkapi dengan lini produksi, area validasi kualitas, dedicated test track serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Pada tahap awal operasional, Mazda Indonesia Plant merakit Mazda CX-30 sebagai model pertama produksi lokal. Dengan sistem operasional dua shift, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi lebih dari 10.000 unit per tahun dan disiapkan untuk terus berkembang seiring pertumbuhan bisnis perusahaan.

Berbeda dengan fasilitas perakitan yang menggunakan shared assembly line, Mazda Indonesia Plant dibangun sebagai dedicated vehicle assembly facility yang secara eksklusif diperuntukkan bagi kendaraan Mazda. Seluruh peralatan, metode kerja, hingga proses produksi dirancang secara khusus sesuai karakteristik kendaraan Mazda agar kualitas produksi tetap konsisten mengikuti standar global perusahaan.

Seluruh tahapan produksi berlangsung secara terintegrasi, mulai dari penerimaan komponen Completely Knocked Down (CKD), pengelolaan material melalui Warehouse Management System (WMS), proses kitting, hingga distribusi komponen ke setiap stasiun perakitan sesuai urutan produksi. Proses tersebut dikendalikan melalui Manufacturing Execution System yang memungkinkan setiap komponen dan kendaraan terdokumentasi secara digital dengan tingkat traceability yang tinggi.

Setelah proses perakitan selesai, setiap kendaraan menjalani serangkaian pengujian kualitas yang ketat. Mulai dari body setting, wheel alignment, dynamic test pada dedicated test track yang mensimulasikan berbagai karakter jalan, water leak test, under body inspection, final inspection, hingga Product Audit sebelum akhirnya kendaraan dinyatakan memenuhi standar kualitas Mazda dan didistribusikan kepada pelanggan.

Seluruh hasil inspeksi kemudian dievaluasi di Audit Room sebagai pusat validasi kualitas kendaraan berdasarkan Mazda Quality Index for Customer (MQIC) untuk memastikan kendaraan memenuhi standar kualitas global.

President Director PT Eurokars Produksi Pratama sekaligus Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, mengatakan “Peresmian Mazda Indonesia Plant bukan sekadar menghadirkan fasilitas perakitan pertama Mazda di Indonesia, melainkan menjadi fondasi bagi masa depan Mazda di Tanah Air."

Menurutnya, investasi tersebut merupakan bentuk komitmen jangka panjang Mazda untuk tumbuh bersama Indonesia melalui penerapan standar manufaktur global sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan industri otomotif nasional.

“Ke depan, Mazda Indonesia Plant dipersiapkan untuk merakit lebih banyak model kendaraan, meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, serta memperluas kerja sama dengan industri pendukung nasional melalui peningkatan penggunaan komponen dalam negeri tanpa mengurangi standar kualitas global.” tambah Ricky.

Di Mazda, kualitas selalu dimulai dari manusia. Filosofi tersebut diwujudkan melalui pendekatan People, Process, and Quality, yang menjadi landasan operasional Mazda Indonesia Plant.

Seluruh tenaga produksi menjalani program pelatihan intensif dengan pendampingan langsung dari tenaga ahli Mazda Motor Corporation. Selain meningkatkan kompetensi teknis, program ini menjadi sarana transfer pengetahuan manufaktur, termasuk filosofi Monozukuri, semangat Takumi Craftsmanship, dan budaya kerja zero defect mindset yang menjadi ciri khas Mazda.

Senior Executive Officer ASEAN Business Office Mazda Motor Corporation, Toru Nakajima, menegaskan bahwa “Kualitas dibangun oleh manusia, disempurnakan melalui proses yang disiplin, serta dipertahankan lewat perbaikan berkelanjutan. Karena itu, setiap kendaraan yang dirakit di Indonesia diharapkan mampu menghadirkan kualitas, craftsmanship, performa, keandalan, dan pengalaman berkendara yang diharapkan pelanggan Mazda di Indonesia.”

Mazda juga menerapkan filosofi Quality Before Volume, yakni memastikan setiap kendaraan memenuhi standar kualitas global sebelum kapasitas produksi ditingkatkan. Pengendalian mutu dilakukan melalui audit internal, Product Audit, Mazda Quality Index for Customer (MQIC), hingga audit secara berkala oleh Mazda Motor Corporation untuk memastikan konsistensi penerapan standar kualitas global.

Pemerintah menyambut positif investasi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat industri manufaktur otomotif Nasional. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Setia Diarta, mengatakan “Kami menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada PT Eurokars Produksi Pratama (Mazda Indonesia) atas peresmian fasilitas produksi Mazda di Indonesia. Keberadaan pabrik dengan kapasitas produksi mencapai 10.000 unit per tahun diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah yang semakin besar bagi perekonomian nasional melalui penguatan aktivitas manufaktur dalam negeri, alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan lapangan kerja di sektor otomotif.”

Lebih dari sekadar membangun fasilitas perakitan, Mazda Indonesia Plant menjadi simbol kepercayaan perusahaan terhadap kemampuan tenaga kerja Indonesia. Dengan investasi yang berkelanjutan, transfer teknologi, dan penerapan standar manufaktur global, Mazda berharap dapat ikut memperkuat daya saing industri otomotif nasional sekaligus membuka peluang ekspansi, termasuk pengembangan model baru dan aktivitas ekspor di masa mendatang.