INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal terus memperkuat strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) guna memenuhi kebutuhan investor, khususnya perusahaan manufaktur yang mengadopsi teknologi tinggi.
Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan puluhan sekolah vokasi, perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja agar ketersediaan tenaga kerja terampil dapat mengikuti perkembangan kebutuhan industri.
Direktur Eksekutif KEK Kendal, Juliani Kusumaningrum, mengatakan pengembangan SDM menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga daya saing kawasan di tengah derasnya arus investasi yang masuk.
Menurutnya, penyediaan tenaga kerja tidak hanya mengandalkan proses rekrutmen, tetapi juga dilakukan melalui kemitraan yang erat dengan institusi pendidikan.
"Saat ini KEK Kendal sudah memiliki kerja sama dengan 54 SMK, 17 perguruan tinggi, serta balai pelatihan dan lembaga terkait lainnya," kata Juliani dalam acara Manufacture Check CNBC Indonesia bertajuk "KEK Kendal: Magnet Investasi Baru di Tengah Ketidakpastian Global" pada Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan kebutuhan kompetensi tenaga kerja akan terus berubah seiring bertambahnya perusahaan yang berinvestasi di KEK Kendal. Perusahaan yang semula berada pada tahap pembangunan fasilitas akan memasuki fase operasional sehingga kebutuhan jenis keahlian pun menjadi semakin beragam.
"Program ini merupakan program berkelanjutan. Kebutuhan industri akan berubah seiring bertambahnya jumlah perusahaan yang masuk. Dari tahap konstruksi ke operasi tentu akan lebih dinamis. Karena itu komunikasi dengan pemangku kepentingan terkait harus terus dilakukan," ujar Juliani.
Menurutnya, kerja sama tersebut juga memungkinkan kurikulum pendidikan vokasi lebih selaras dengan kebutuhan dunia usaha sehingga dapat memperkecil kesenjangan keterampilan (skill gap) yang selama ini menjadi tantangan industri manufaktur.
Juliani menambahkan, terdapat sejumlah kebutuhan kompetensi yang belum tersedia dalam kurikulum pendidikan formal. Untuk mengatasi hal itu, perusahaan yang beroperasi di KEK Kendal menyelenggarakan pelatihan khusus yang dirancang sesuai kebutuhan produksi.
"Salah satu contohnya, ada perusahaan di kawasan kami yang membutuhkan modul pelatihan khusus karena belum tersedia di SMK maupun perguruan tinggi. Akhirnya pelatihan customized tersebut dilakukan langsung oleh pelaku usaha bekerja sama dengan tenaga pengajar," ujarnya.
Model pelatihan tersebut dinilai menjadi solusi bagi industri yang membutuhkan keterampilan spesifik, terutama pada sektor manufaktur berteknologi tinggi seperti elektronik, otomotif, alat kesehatan, hingga komponen industri yang memerlukan penguasaan teknologi produksi modern.
Strategi pengembangan SDM ini menjadi bagian dari upaya KEK Kendal dalam mempertahankan daya tarik investasi. Hingga pertengahan 2026, KEK Kendal tercatat telah menarik investasi puluhan triliun rupiah dengan ratusan perusahaan dari berbagai negara yang telah beroperasi maupun berada dalam tahap pembangunan.
Kawasan hasil kerja sama Indonesia dan Singapura tersebut juga telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja dan terus melakukan ekspansi seiring tingginya minat investor, terutama di sektor manufaktur berorientasi ekspor.