INDUSTRY.co.id - Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional melalui penghentian impor solar mulai Juli. Kebutuhan solar, menurut Presiden, kini dipenuhi dari produksi dalam negeri berbasis kelapa sawit sehingga nilai tambahnya dapat dinikmati masyarakat, khususnya para petani sawit.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Panen Raya TNI di Malang, Jawa Timur, yang digelar serentak di 43 titik di seluruh Indonesia, Jumat (17/7).
"Kita sekarang menghasilkan solar dari kelapa sawit. Jadi dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia," ujar Prabowo.
Selain menghentikan impor solar, pemerintah juga mempercepat transisi menuju penggunaan bahan bakar campuran etanol. Program yang saat ini mengarah pada penerapan E10 ditargetkan berkembang hingga E20 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Prabowo mengungkapkan, pengembangan program tersebut memerlukan dukungan infrastruktur industri. Karena itu, pemerintah akan mempercepat pembangunan pabrik etanol di berbagai daerah.
"Sudah mulai kita mampu menuju E10, etanol 10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10 persen etanol. Tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik. Tadi pabrik yang baru kita miliki baru satu. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik," katanya.
Presiden juga membandingkan langkah Indonesia dengan sejumlah negara yang telah lebih dahulu memanfaatkan etanol sebagai bahan bakar. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil bahkan menggunakan etanol hingga E100.
"India sudah E20. Brasil sudah E100. Masa Indonesia tidak bisa? Indonesia bisa, kan? Bisa," ucap Prabowo yang disambut antusias peserta.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden menyampaikan penghargaan kepada para petani dan nelayan yang dinilainya sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional. Ia menyebut keduanya sebagai pahlawan yang setiap hari bekerja memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.
Menurut Presiden, kerja keras petani dan nelayan merupakan fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan pangan sekaligus kemandirian bangsa di sektor pangan dan energi.