INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Prospek industri asuransi Indonesia dinilai masih menjanjikan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan jiwa, kesehatan, dan aset. Allianz Research memperkirakan pasar asuransi nasional mampu mencatat pertumbuhan rata-rata 8,2% per tahun dalam satu dekade mendatang, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal sebesar 7,6%.
Dalam laporan Global Insurance Report 2026, Allianz Research mencatat pasar asuransi Indonesia tumbuh 11% pada 2025 dengan total pendapatan premi mencapai 15,8 miliar euro. Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya proteksi finansial, meski tingkat penetrasi asuransi nasional masih tergolong rendah, yakni sekitar 1,3% terhadap PDB.
Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Alexander Grenz, mengatakan pertumbuhan industri asuransi mencerminkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan dari berbagai risiko yang terus berkembang.
"Pertumbuhan industri asuransi Indonesia yang terus berlanjut mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan perlindungan, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset. Dengan tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan untuk memperluas akses proteksi bagi lebih banyak masyarakat," ujar Alexander Grenz.
Menurut dia, kenaikan biaya layanan kesehatan juga menjadi tantangan yang harus diantisipasi industri agar premi asuransi kesehatan tetap terjangkau dan berkelanjutan. "Melalui pendekatan ONE Allianz, Allianz Indonesia tetap berkomitmen untuk menyediakan solusi perlindungan yang relevan, mudah diakses, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan finansial masyarakat Indonesia," tambahnya.
Secara global, Allianz Research memperkirakan industri asuransi akan tumbuh 5,3% per tahun hingga 2036 atau sedikit lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan perlindungan di tengah perubahan demografi, kenaikan biaya kesehatan, serta kompleksitas risiko akibat fragmentasi geopolitik.
Segmen asuransi kesehatan diperkirakan menjadi motor pertumbuhan tercepat dengan kenaikan rata-rata global 6,7% per tahun. Di Indonesia, laju pertumbuhan segmen ini bahkan diproyeksikan mencapai 12,9% per tahun. Sementara itu, asuransi jiwa diperkirakan tumbuh 7,9% per tahun di Indonesia dan asuransi kerugian sekitar 7,3%.
Di tingkat global, Allianz Research memperkirakan total premi asuransi akan meningkat sebesar 5,26 triliun euro dalam sepuluh tahun mendatang. Sebagian besar tambahan premi berasal dari asuransi jiwa, dengan kawasan Asia menjadi kontributor terbesar. Pergeseran pusat pertumbuhan industri juga diperkirakan semakin mengarah ke Asia, terutama didorong oleh India dan Tiongkok yang terus memperbesar pangsa pasar global.
Chief Economist sekaligus Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran, menilai dinamika geopolitik menjadi faktor yang mengubah lanskap industri asuransi secara fundamental.
"Fragmentasi geopolitik membalik banyak asumsi yang selama beberapa dekade telah membentuk perekonomian global. Seiring perdagangan, arus modal, dan regulasi yang semakin terfragmentasi, ketahanan kini menggantikan efisiensi sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan," kata Ludovic Subran.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat biaya operasional meningkat sekaligus memperkuat peran strategis industri asuransi. "Yang dipertaruhkan bukan hal kecil, melainkan peran strategis asuransi: tidak hanya sebagai mekanisme transfer risiko, tetapi juga sebagai pendorong penting bagi investasi, inovasi, dan kepercayaan ekonomi," tutupnya.