INDUSTRY.co.id - Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset, inovasi teknologi, sekaligus mendukung pengembangan industri penerbangan nasional.
Melalui uji terbang tersebut, BRIN mengevaluasi performa berbagai wahana hasil pengembangan internal maupun kolaborasi nasional.
Pengujian dilakukan untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum dimanfaatkan pada berbagai sektor, seperti survei, pemetaan, pemantauan lingkungan, hingga pertahanan.
Sejumlah wahana yang diterbangkan meliputi pesawat sayap tetap, pesawat dengan kemampuan Vertical Take-Off and Landing (VTOL), serta multirotor.
Beberapa di antaranya adalah ALAP-ALAP KX-0601, NIU-V7, LSU-02 VTOL, Kresna, Skywalker, dan Trinity F90+.
ALAP-ALAP KX-0601 dan NIU-V7 dikembangkan untuk mendukung kegiatan survei dan pemetaan.
Kedua pesawat ini memiliki jangkauan operasi hingga 100 kilometer, mampu terbang selama enam jam, dan memiliki berat lepas landas maksimum 30 kilogram sehingga cocok untuk pengumpulan data di lapangan.
Sementara itu, LSU-02 VTOL menggabungkan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal dengan efisiensi jelajah pesawat sayap tetap.
Dengan bentang sayap 3,3 meter dan berat maksimum 22 kilogram, wahana ini dinilai efektif beroperasi di wilayah yang memiliki keterbatasan landasan pacu.
BRIN juga menguji Kresna sebagai flying test bed untuk mengembangkan teknologi utama pesawat nirawak, khususnya Flight Control Computer (FCC).
Pengujian tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian teknologi sekaligus menjaga keberlanjutan pengembangan PUNA nasional.
Selain wahana hasil riset, BRIN turut menampilkan platform siap pakai, yakni Skywalker dan Trinity F90+. Trinity F90+ memiliki kemampuan memetakan wilayah hingga 500 hektare dalam satu misi dengan durasi terbang hampir satu jam, sehingga berpotensi mendukung survei dan pemetaan dalam skala luas.
Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Fadilah Hasim, mengatakan uji terbang tidak hanya bertujuan memvalidasi performa teknologi, tetapi juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan pengetahuan antar pemangku kepentingan.
"Melalui uji terbang ini, kami menguji kesiapan seluruh sistem pesawat udara nirawak, mulai dari wahana, sistem kendali terbang, sistem komunikasi data, hingga stasiun kendali bumi," ujar Fadilah.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk melihat perkembangan teknologi PUNA yang terus dikembangkan BRIN dalam menjawab kebutuhan nasional di berbagai bidang.
Melalui pengujian ini, BRIN berharap inovasi pesawat udara nirawak dalam negeri semakin matang dan mampu mendukung berbagai kebutuhan strategis, mulai dari pemetaan wilayah, pemantauan lingkungan, hingga sektor pertahanan dan keamanan.