INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pohon pisang tidak pernah menjadi tanaman yang menjulang paling tinggi. Ia tidak sekokoh pohon jati, tidak pula berusia sepanjang pohon beringin. 

Namun, sebelum batangnya rebah, tunas-tunas baru telah lebih dulu tumbuh di sekelilingnya. Seluruh bagian tubuhnya memberi manfaat. Di sanalah letak keistimewaannya.

Begitulah cara Thayeb Mohammad Gobel memandang kehidupan.

Bagi pelopor industri elektronika Indonesia itu, pohon pisang bukan sekadar tanaman yang akrab ditemui di pekarangan rumah. Ia adalah metafora tentang keberlanjutan, regenerasi, dan manfaat. 

Sebuah perusahaan, menurut keyakinannya, tidak cukup hanya mengejar keuntungan. Perusahaan harus mampu melahirkan generasi penerus, memberi manfaat bagi masyarakat, dan terus tumbuh tanpa kehilangan nilai-nilai yang melahirkannya.

Falsafah itulah yang kemudian dikenal sebagai Filosofi Pohon Pisang, warisan pemikiran yang hingga kini menjadi fondasi Gobel Group.

Perjalanan itu bermula pada 1956. Di tengah Indonesia yang masih membangun fondasi industrinya, Thayeb Mohammad Gobel merakit radio transistor pertama di Tanah Air dengan merek Tjawang. 

Saat itu radio lebih dari sekadar barang elektronik. Ia menjadi jendela informasi bagi masyarakat, bahkan hingga ke pelosok yang belum menikmati aliran listrik.

Enam tahun berselang, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Momentum nasional itu membuka babak baru bagi Gobel. 

Ketika televisi masih menjadi barang langka, Gobel mendapat kepercayaan memproduksi ribuan televisi hitam putih agar masyarakat Indonesia dapat menyaksikan pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

Jika radio memperdengarkan dunia, televisi memperlihatkannya.

Bangsa Indonesia memasuki era baru ketika informasi tidak lagi hanya didengar, tetapi juga dilihat.

Puluhan tahun kemudian, kenangan masa kecil Thayeb terhadap pohon pisang berubah menjadi falsafah hidup. 

Dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang, Ramadhan K.H. menuliskan bahwa kesan terhadap pohon pisang begitu membekas hingga menjadi referensi utama Thayeb dalam membangun perusahaan.

Filosofi itu kemudian menemukan saudara sejiwanya ketika Thayeb bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., yang kemudian dikenal dunia melalui merek Panasonic.

Di balik kerja sama bisnis yang melahirkan salah satu perusahaan elektronika terbesar di Indonesia, sesungguhnya berlangsung pertemuan dua gagasan.

Jika Thayeb belajar dari pohon pisang tentang regenerasi dan kebermanfaatan, Matsushita mengembangkan filosofi "air mengalir" yang mengajarkan pemerataan kesejahteraan.

Dua filosofi lahir dari dua kebudayaan berbeda, tetapi bertemu pada satu keyakinan: perusahaan hanya akan bertahan apabila manfaatnya mengalir kepada banyak orang.

Kemitraan itu membawa Panasonic berkembang menjadi perusahaan elektronik kelas dunia. Di kawasan Asia Pasifik, pabrik pertamanya berdiri di Thailand pada 1961 sebelum akhirnya berkembang ke sembilan negara, termasuk Indonesia. 

Kini, operasinya melibatkan puluhan perusahaan dengan lebih dari 82.000 karyawan.

Di Indonesia sendiri, perjalanan Panasonic telah menjadi bagian dari sejarah keluarga Indonesia. 

Dari nama National yang diperkenalkan pada 1970 hingga resmi menggunakan nama Panasonic pada 2004, merek ini terus hadir melalui berbagai inovasi, mulai dari televisi, kamera, pendingin ruangan, kulkas, hingga mesin cuci.

Namun perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus.

Krisis ekonomi Asia pada 1998 menjadi ujian terbesar. Pasar melemah, ribuan perusahaan tumbang, dan dunia usaha berada dalam ketidakpastian. 

Di tengah situasi tersebut, estafet kepemimpinan berada di tangan Rachmat Gobel.

Jika Thayeb membangun perusahaan dari keterbatasan, maka Rachmat mempertahankannya di tengah badai. 

Tugasnya bukan hanya menyelamatkan bisnis, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang diwariskan sang pendiri tetap hidup.

Kini tongkat estafet berada di tangan Mohammad Arif Gobel.

Tantangannya berbeda.

Ia tidak mengalami masa menggembalakan kambing seperti sang kakek di Tinombo. Ia juga tidak menghadapi langsung krisis 1998 sebagai pengambil keputusan utama seperti ayahnya. Namun justru karena itulah tantangannya jauh lebih kompleks: memastikan falsafah yang lahir pada abad ke-20 tetap relevan di tengah perubahan abad ke-21.

Saat ini Gobel Group bukan lagi perusahaan yang hanya memproduksi radio dan televisi. Ia telah berkembang menjadi kelompok usaha yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari elektronik dan manufaktur, perdagangan dan jasa, makanan dan perhotelan, hingga properti dan infrastruktur, dengan lebih dari 18.000 karyawan.

Ke depan, arah perjalanan perusahaan telah dipersiapkan.

"Kami ini sedang menyiapkan juga suatu konsep ataupun suatu milestone, bagaimana Gobel Group ini sampai di 100 tahun," ujar Mohammad Arif Gobel.

Target tersebut bukan sekadar usia perusahaan. Ia merupakan upaya menjaga agar filosofi yang diwariskan Thayeb tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Komitmen itu juga tercermin melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan, mulai dari bantuan bagi masyarakat terdampak bencana hingga penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengembangan produk yang ramah lingkungan.

Bagi Gobel Group, pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan masyarakat.

Sebagaimana ditegaskan Rachmat Gobel, "Gobel Group menegaskan komitmennya untuk terus memberi manfaat bagi masyarakat, sejalan dengan perjalanan 70 tahun perusahaan yang tumbuh bersama Indonesia."

Barangkali itulah sebabnya pohon pisang tidak pernah dipilih karena tinggi batangnya. Ia dihargai karena kemampuannya meninggalkan kehidupan baru sebelum dirinya selesai.

Begitu pula Gobel Group.

Warisan terbesar yang ingin ditinggalkannya bukan semata-mata produk elektronik, melainkan nilai yang terus bertunas, memberi manfaat, dan tumbuh bersama Indonesia.