INDUSTRY.co.id, Jakarta - Penurunan suku bunga acuan BI Rate 7 days rate menjadi 4,50 % semestinya segera ditindaklanjuti dengan penurunan suku bunga kredit perbankan. Namun faktanya hingga kini belum ada tanda-tanda perbankan akan melakukannya.

Advertisement

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economic and Finance (Indef) Enny Srihartati mengatakan apabila perbankan mau menurunkan net marginnya menjadi single digit dipastikan industri nasional akan terakselerasi untuk meningkatkan produksi dan ekspansi bisnisnya. Hal ini tentu akan berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Untuk memicu hal itu terjadi, mutlak harus dimulai oleh perbankan Bank Usaha Milik Negara (BUMN) terlebih dahulu. Sebab nantinya perbankan lain dan lembaga pembiayaan akan terpicu melakukan hal yang sama demi memenangkan kompetisi dalam penyaluran kredit. Tanpa ada inisiasi dari Bank nasional, rasanya akan sulit suku bunga kredit akan turun.

Advertisement

"Ini seperti ayam dan telor (mana yang duluan), nah bagaimana terutama bank BUMN kita untuk menjadi pionir untuk menciptakan nett interest margin semakin dikurangi, kuncinya adalah efisiensi di internal seperti perbaikan teknologi, SDM dan lain sebagainya," ujar Enny di Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Enny meyakini  dengan suku bunga kredit single digit akan menumbuhkan kepercayaan diri dari dunia usaha. Pemerintah harus segera bergerak untuk mendorong realisasinya agar masuk ke era bunga murah.Memang rendahnya suku bunga bukan menjadi satu-satunya faktor yang akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Advertisement

Masih ada faktor lain seperti kebijakan fiskal dan kebijakan lain terkait iklim usaha. Namun dengan bunga kredit murah itu setidaknya separuh dari PR pemerintah untuk menggairahkan industri sudah dapat dilakukan.

"Karena ditengah kelesuan ekonomi hampir tidak ada usaha yang bisa memperoleh margin double digit, ini dulu yang harus diselesaikan sehingga momentum untuk penurunan suku bunga nanti diarahkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi," pungkasnya

Advertisement