Poin Utama

  • 34 perusahaan peternakan sapi perah aktif di Indonesia (2025), tersebar di 7 provinsi
  • Produksi susu segar 169,2 juta liter — naik 2,55% dari tahun sebelumnya
  • Total populasi sapi perah 38.060 ekor, didominasi betina (96,92%)
  • Industri sangat menguntungkan: laba bersih Rp 1,18 triliun, naik 133% dari 2024
  • Jawa Timur mendominasi produksi: 58,8% total nasional

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis publikasi terbaru bertajuk "Statistik Perusahaan Peternakan Sapi Perah 2025" pada 19 Juni 2026. Publikasi ini memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi industri susu sapi perah di Indonesia — mulai dari jumlah perusahaan, populasi ternak, volume produksi, hingga kinerja keuangan sepanjang tahun 2025.

Berikut rangkuman lengkap data dan temuan penting dari publikasi tersebut.

Profil Industri: 34 Perusahaan di 7 Provinsi

Total Perusahaan Aktif 2025
34
Perusahaan Peternakan Sapi Perah
11
Jawa Barat
7
Jawa Tengah
7
Jawa Timur
9
Lainnya (4 prov.)

Pada tahun 2025, Indonesia memiliki 34 perusahaan peternakan sapi perah yang masih aktif beroperasi. Angka ini persis sama dengan tahun 2024 — artinya ada 1 perusahaan yang tutup dan 1 perusahaan baru yang berdiri, sehingga totalnya tetap 34.

Distribusi perusahaan ini sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya tiga provinsi utama:

Distribusi Perusahaan per Provinsi
Provinsi Jumlah Persentase
Jawa Barat 11 32,35%
Jawa Tengah 7 20,59%
Jawa Timur 7 20,59%
Sumatera Utara 3 8,82%
Sumatera Barat 3 8,82%
Lampung 2 5,88%
DI Yogyakarta 1 2,94%

Dari sisi bentuk badan hukum, 73,53% perusahaan berbentuk PT, CV, atau Firma, sedangkan sisanya adalah koperasi dan yayasan. Konsentrasi di Pulau Jawa ini sejalan dengan iklim dan infrastruktur peternakan yang lebih berkembang di wilayah tersebut.

Produksi Susu: 169,2 Juta Liter, Naik 2,55%

Total Produksi Susu Segar 2025
169,2 Juta Liter
Naik 2,55% dari 2024 (165 juta liter)

Total produksi susu segar nasional pada 2025 mencapai 169,2 juta liter, naik 2,55% dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 165 juta liter. Namun, kenaikan ini bukan disebabkan oleh peningkatan produktivitas.

Temuan Penting
Produktivitas per ekor justru turun dari 28,26 liter/hari (2024) menjadi 26,53 liter/hari (2025). Lama laktasi juga turun dari 282 hari menjadi 281 hari. Kenaikan produksi murni didorong oleh bertambahnya jumlah sapi betina laktasi.

Produksi Susu per Provinsi

Kontribusi Produksi Susu per Provinsi (2025)
Jawa Timur 99,5 juta L (58,8%)
58,8%
Jawa Barat 40,7 juta L (24,1%)
24,1%
Sumatera Utara 20,0 juta L (11,8%)
11,8%
Lainnya (4 provinsi) 9,0 juta L (5,3%)
5,3%

Jawa Timur mendominasi produksi susu nasional dengan 99,5 juta liter atau 58,8% dari total. Ini menjadikan Jawa Timur sebagai lumbung susu utama Indonesia, jauh melampaui Jawa Barat di posisi kedua dengan 40,7 juta liter. Ketimpangan distribusi produksi ini menunjukkan ketergantungan industri pada segelintir wilayah saja.

Populasi Sapi Perah: 38.060 Ekor

Total Populasi Sapi Perah
38.060 Ekor
Per 31 Desember 2025 — naik 305 ekor dari 2024

Per akhir 2025, total populasi sapi perah di Indonesia mencapai 38.060 ekor, naik 305 ekor dari tahun sebelumnya (37.755 ekor). Hampir seluruh populasi adalah betina — hanya 3,08% yang jantan.

Komposisi Populasi Sapi Perah (2025)
Kategori Jumlah (ekor) Persentase
Total Betina 36.886 96,92%
- Laktasi (aktif berproduksi) 19.082 51,72%
- Belum berproduksi 15.123 41,00%
- Kering (tidak laktasi) 2.681 7,16%
Jantan 1.174 3,08%

Dari 36.886 sapi betina, hanya 19.082 ekor (51,72%) yang sedang dalam masa laktasi dan aktif memproduksi susu. Sisanya terdiri dari sapi yang belum berproduksi (41%) dan sapi yang sedang dalam masa kering (7,16%).

Kinerja Keuangan: Laba Rp 1,18 Triliun

Laba Bersih Industri Sapi Perah 2025
Rp 1,18 Triliun
Naik 133% dari Rp 507 miliar (2024)
Penerimaan
Rp 2,06 T
(+24% dari 2024)
Pengeluaran
Rp 876 M
(-24% dari 2024)

Inilah temuan paling mengejutkan dari publikasi ini. Industri peternakan sapi perah Indonesia ternyata sangat menguntungkan. Dengan total penerimaan Rp 2,06 triliun dan total pengeluaran hanya Rp 876 miliar, industri ini mencetak laba bersih Rp 1,18 triliun — atau margin laba sebesar 57%.

Kenaikan laba yang drastis (naik 133% dari Rp 507 miliar di 2024) terjadi karena kombinasi dua faktor: penerimaan naik 24% sementara pengeluaran justru turun 24%. Ini menunjukkan efisiensi operasional yang membaik di sisi produksi.

Struktur Biaya Produksi

Breakdown Biaya Produksi (2025)
69,19%
10,6%
9,8%
Komponen Biaya Persentase Estimasi (Rp)
Pakan Ternak
69,19% Rp 606 Miliar
Upah dan Gaji
10,58% Rp 93 Miliar
Biaya Lainnya
9,75% Rp 85 Miliar
Listrik dan Air
4,62% Rp 40 Miliar
Obat-obatan
3,38% Rp 30 Miliar
BBM dan Pelumas
2,47% Rp 22 Miliar
Pakan ternak mendominasi struktur biaya dengan porsi 69,19% — hampir 7 dari setiap Rp 10 yang dikeluarkan perusahaan peternakan habis untuk pakan.

Tenaga Kerja: 1.816 Orang

Komposisi Tenaga Kerja (2025)
Kategori Jumlah Persentase
Total Tenaga Kerja 1.816 100%
Pekerja Tetap 1.430 78,75%
Pekerja Tidak Tetap 386 21,25%
Laki-laki 1.648 90,75%
Perempuan 168 9,25%

Industri sapi perah menyerap 1.816 tenaga kerja pada 2025, naik 3,18% dari tahun sebelumnya. Dominasi laki-laki sangat kuat di sektor ini — 90,75% pekerja adalah laki-laki. Jawa Barat menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 773 orang, diikuti Jawa Timur.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun kinerja keuangan sangat positif, publikasi BPS ini mengungkap beberapa tantangan serius:

Tantangan
1. Produktivitas menurun — Dari 28,26 menjadi 26,53 liter/hari per ekor. Jika tren ini berlanjut, kenaikan produksi hanya bisa diandalkan dari penambahan populasi, bukan efisiensi.
2. Ketergantungan pakan — 69% biaya produksi adalah pakan. Fluktuasi harga pakan impor bisa langsung menggerus margin laba.
3. Konsentrasi geografis — 73% perusahaan ada di Jawa. Distribusi yang tidak merata membuat rantai pasok susu segar terbatas secara regional.
4. Jumlah perusahaan stagnan — Tidak ada pertumbuhan real (34 tetap dari 2024). Masuknya hambatan regulasi dan modal membuat sulit bagi pelaku baru.
5. Defisit susu nasional — Produksi 169 juta liter masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai ~4 miliar liter/tahun. Indonesia masih impor susu bubuk dalam jumlah besar.
Peluang
1. Margin laba sangat tinggi (57%) — Menarik bagi investor untuk masuk atau ekspansi. Potensi untuk menarik BUMN atau swasta besar berinvestasi.
2. Peningkatan populasi betina produktif — 41% betina belum berproduksi = potensi peningkatan produksi signifikan begitu sapi-sapi ini masuk masa laktasi.
3. Efisiensi pakan — Jika porsi pakan bisa ditekan dari 69% ke 55%, laba bisa naik Rp 120+ miliar tambahan per tahun.
4. Substitusi impor — Dengan defisit ~3,8 miliar liter, peluang pasar domestik sangat besar bagi produsen yang bisa skalasi.

Takeaways

Ringkasan Data Statistik Sapi Perah 2025
  • 34 perusahaan aktif di 7 provinsi, 73% berbentuk PT/CV/Firma
  • Produksi 169,2 juta liter susu segar — naik 2,55% dari 2024
  • Populasi 38.060 ekor sapi perah, 96,92% betina
  • Produktivitas turun dari 28,26 ke 26,53 liter/hari per ekor
  • Laba bersih Rp 1,18 triliun — margin 57%, naik 133% dari 2024
  • Pakan = 69,19% total biaya produksi (beban terbesar)
  • Jawa Timur dominasi produksi: 99,5 juta liter (58,8%)

Sumber: Publikasi BPS "Statistik Perusahaan Peternakan Sapi Perah 2025", Volume 26, dirilis 19 Juni 2026. Katalog BPS: 5303008, ISSN 0216-2636.