- [Jawaban Langsung]: Mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kondisi sangat baik, ditopang oleh pengelolaan fiskal yang sehat, hati-hati, dan disiplin.
- Perekonomian Indonesia menunjukkan performa yang semakin kuat dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan G20 dan ASEAN.
- Inflasi Indonesia tercatat 3,08% (Mei 2026), menunjukkan pengendalian harga yang efektif di tengah pertumbuhan solid.
- Indonesia memiliki ketahanan energi yang kuat dengan skor 77%, berada di atas Tiongkok (76%).
- Pemerintah menjalankan delapan klaster program prioritas nasional untuk penguatan fondasi ketahanan negara.
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik, ditopang oleh pengelolaan fiskal yang sehat, hati-hati, dan disiplin.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, Tiongkok, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan Presiden Nankai University Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, Profesor Xingmin Li, serta ratusan mahasiswa, Purbaya menyampaikan pandangan Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, pengelolaan fiskal, dan pembangunan nasional berkelanjutan.
"Kekuatan utama yang menopang ketahanan ekonomi Indonesia adalah kebijakan fiskal yang prudent. Pemerintah secara konsisten menjaga defisit anggaran di bawah batas 3% sebagaimana diamanatkan undang-undang, sehingga APBN memiliki ruang yang cukup untuk berfungsi sebagai peredam gejolak eksternal tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional," ujar Purbaya.
Menurutnya, di tengah mulai meredanya volatilitas pasar global dan membaiknya sentimen risiko, perekonomian Indonesia justru menunjukkan performa yang semakin kuat.
Pada Kuartal I-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui rata-rata pertumbuhan sejumlah negara anggota G20 maupun kawasan ASEAN. Kinerja tersebut didukung oleh stabilitas harga yang tetap terjaga. Hingga Mei 2026, inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen, mencerminkan kombinasi pertumbuhan yang solid dan pengendalian harga yang efektif.
"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel," kata Purbaya.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia yang relatif kuat dalam menghadapi potensi gangguan energi global. Berdasarkan pemetaan risiko, Indonesia berada pada kelompok negara dengan tingkat eksposur rendah dan kapasitas penyangga yang kuat.
Skor ketahanan energi Indonesia tercatat 77 persen, berada di atas Tiongkok yang memperoleh skor 76 persen.
Fundamental ekonomi Indonesia juga diperkuat oleh sejumlah indikator utama. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur tetap berada di zona ekspansif pada level 50,0, pertumbuhan likuiditas ekonomi (M0) mencapai 14,8 persen secara tahunan, sementara kredit perbankan tumbuh 11,5 persen.
Dari sektor eksternal, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Cadangan devisa juga tetap kuat di level US$144,9 miliar, setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Lebih jauh, Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak hanya tercermin dalam indikator makro, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pada 2026, sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru berhasil diciptakan sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,68 persen.
Di saat yang sama, berbagai program perlindungan sosial turut mendorong penurunan tingkat kemiskinan secara konsisten, dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.
Memasuki fase implementasi pembangunan, pemerintah kini menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang berfokus pada penguatan fondasi ketahanan negara.
"Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," jelasnya.
Selain itu, pemerintah terus mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi dan industrialisasi, memperkuat ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta memperdalam pengentasan kemiskinan melalui program bantuan sosial dan penciptaan lapangan kerja yang terintegrasi.
Langkah-langkah tersebut diperkuat dengan penguatan sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, hingga diplomasi ekonomi guna memastikan pembangunan berlangsung secara inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tegas Purbaya. Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan fiskal yang sehat, hati-hati, dan disiplin menjadi kunci utama dalam menjaga mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dalam kondisi yang sangat baik.
Baca Juga: MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, Pemerintah Genjot Reformasi Pasar Modal
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini?
[Jawaban Langsung]: Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik, ditopang oleh pengelolaan fiskal yang sehat, hati-hati, dan disiplin. Pada Kuartal I-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan G20 dan ASEAN.
Apa saja faktor pendukung ketahanan ekonomi Indonesia?
[Jawaban Langsung]: Faktor pendukung ketahanan ekonomi Indonesia meliputi pengelolaan fiskal yang prudent, stabilitas harga dengan inflasi terkendali, serta posisi kuat dalam menghadapi gangguan energi global. Fundamental ekonomi juga diperkuat oleh PMI manufaktur yang ekspansif, pertumbuhan likuiditas ekonomi, dan kredit perbankan yang positif.
Bagaimana kebijakan fiskal Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi?
[Jawaban Langsung]: Pemerintah Indonesia secara konsisten menjaga defisit anggaran di bawah batas 3% sesuai amanat undang-undang. Kebijakan fiskal yang prudent ini memberikan ruang bagi APBN untuk berfungsi sebagai peredam gejolak eksternal tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Apa saja program prioritas nasional yang dijalankan pemerintah Indonesia?
[Jawaban Langsung]: Pemerintah menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang berfokus pada penguatan fondasi ketahanan negara. Ini mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana.
- Pertumbuhan Ekonomi Kuat: Ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang sangat baik, didukung oleh pengelolaan fiskal yang sehat dan disiplin.
- Stabilitas Makroekonomi: Pertumbuhan PDB yang tinggi disertai dengan inflasi yang terkendali menunjukkan stabilitas makroekonomi yang solid.
- Ketahanan Energi: Indonesia memiliki skor ketahanan energi yang baik, menunjukkan kemampuannya dalam menghadapi potensi gangguan energi global.
- Fokus Pembangunan Nasional: Pemerintah memprioritaskan delapan klaster program untuk memperkuat fondasi ketahanan negara, yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
- Penciptaan Lapangan Kerja dan Pengentasan Kemiskinan: Pertumbuhan ekonomi yang kuat diterjemahkan menjadi penciptaan lapangan kerja baru dan penurunan angka kemiskinan yang konsisten.