INDUSTRY.co.id - Jakarta, Sistem layanan kesehatan di kawasan Asia-Pasifik memasuki fase transformasi besar di tengah meningkatnya ekspektasi pasien, tekanan tenaga medis, dan percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut mendorong perlunya model layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada pengalaman pasien.
Temuan tersebut terungkap dalam Asia-Pacific Healthcare Frontline Report 2026 yang dirilis Bain & Company. Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap 6.300 konsumen di sembilan pasar Asia-Pasifik serta 600 dokter di kawasan tersebut.
Studi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara harapan masyarakat terhadap layanan kesehatan dan kemampuan sistem yang ada untuk memenuhinya. Di sisi lain, tenaga medis menghadapi tingkat kelelahan yang tinggi, sementara kesiapan organisasi untuk mengimplementasikan AI secara luas masih tertinggal dibandingkan perkembangan teknologinya.
Sebanyak 84% responden mengaku menginginkan layanan kesehatan yang lebih mudah diakses dan digunakan. Sementara itu, 71% berharap dokter dapat memberikan respons yang lebih cepat melalui berbagai kanal komunikasi seperti telepon, WhatsApp, maupun email.
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan juga terus meningkat, tercermin dari tiga dari lima konsumen yang kini secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan dan skrining, naik dari 47% pada 2023.
Perubahan perilaku pasien turut mendorong pertumbuhan layanan kesehatan di luar rumah sakit konvensional. Rata-rata 57% konsumen menyatakan pernah menerima layanan kesehatan melalui setidaknya satu saluran alternatif, mulai dari telemedisin, klinik rawat jalan, layanan kesehatan di rumah, hingga pusat bedah rawat jalan.
Di tengah semakin terfragmentasinya layanan kesehatan, kebutuhan akan koordinasi yang lebih baik juga semakin menguat. Sebanyak 95% responden menginginkan satu titik kontak yang dapat membantu mengelola seluruh perjalanan perawatan mereka, meningkat signifikan dibandingkan 70% pada 2019.
“Kawasan Asia-Pasifik sedang mendekati titik kritis ketika permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat bertemu dengan keterbatasan tenaga kerja dan model layanan yang semakin terfragmentasi,” ujar Vikram Kapur, Head of Global Healthcare & Life Sciences Practice Bain & Company. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar memperluas akses, melainkan merancang ulang cara layanan kesehatan dikoordinasikan, diberikan, dan dirasakan oleh pasien.
Tekanan juga semakin dirasakan oleh tenaga medis. Satu dari lima dokter mengaku sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan mereka saat ini akibat beban kerja berlebih, minimnya apresiasi, dan kelelahan berkepanjangan.
Selain itu, sekitar sepertiga dokter menilai aktivitas administratif yang berlebihan, tugas-tugas repetitif, serta buruknya koordinasi antarproses menjadi sumber utama inefisiensi dalam pekerjaan sehari-hari.
Di sisi lain, pemanfaatan AI mulai mendapat penerimaan yang lebih luas. Hampir tiga perempat konsumen di Asia-Pasifik menyatakan nyaman menggunakan setidaknya satu aplikasi kesehatan berbasis AI.
Para dokter juga melihat teknologi tersebut berpotensi mengurangi beban administratif dan meningkatkan efisiensi operasional layanan kesehatan.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa peran interaksi manusia tetap menjadi fondasi utama layanan kesehatan. Konsultasi tatap muka masih menjadi pilihan utama pasien untuk menangani gejala non-akut, sementara telemedisin lebih dipandang sebagai pelengkap dibandingkan pengganti layanan langsung.
Kendala implementasi AI juga masih cukup besar. Sekitar sepertiga dokter menilai organisasi tempat mereka bekerja belum siap menerapkan AI dalam skala besar karena belum memiliki strategi yang jelas, pelatihan yang memadai, serta keterlibatan klinisi yang cukup dalam proses transformasi.
Menurut Kapur, keberhasilan transformasi layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengadopsi teknologi baru, tetapi juga oleh kemampuan organisasi membangun koordinasi layanan yang lebih baik dan melibatkan tenaga medis secara aktif dalam setiap perubahan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bain mengidentifikasi lima prioritas strategis bagi pelaku industri kesehatan di Asia-Pasifik, yakni memperkuat peran sebagai koordinator utama perjalanan pasien, merancang ulang pengalaman layanan berdasarkan kebutuhan pasien, menerapkan prinsip layanan kesehatan berbasis nilai, menjadikan AI sebagai bagian dari transformasi bisnis inti, serta meningkatkan keterlibatan dan pengalaman kerja tenaga medis.
Laporan ini mencakup survei konsumen di Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam, serta survei terhadap dokter di Australia dan Filipina.