INDUSTRY.co.id -Jakarta, Representasi perempuan di jajaran kepemimpinan perusahaan tercatat terbesar di Indonesia masih menunjukkan perkembangan yang terbatas. Temuan awal Census on Women in Executive Leadership Team (ELT) in IDX200 Companies 2022–2025 yang diluncurkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) mengungkap bahwa perempuan masih menjadi kelompok minoritas pada level kepemimpinan strategis perusahaan.
Mengusung tema “From Disclosure to Impact: Advancing Women’s Leadership in IDX200 Companies”, peluncuran hasil sensus yang digelar di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (15/6), dihadiri lebih dari 200 pemimpin perusahaan, regulator, serta pembuat kebijakan. Forum tersebut menyoroti pentingnya kesetaraan gender dalam kepemimpinan korporasi sebagai bagian dari implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sensus ini menganalisis laporan tahunan dan laporan keberlanjutan dari 200 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2022–2025. Hasilnya menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di tingkat Executive Leadership Team (ELT) masih stagnan.
Dari total 1.094 anggota ELT yang tercatat pada 2025, hanya 164 orang atau sekitar 15 persen yang merupakan perempuan. Angka tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan 2022 ketika terdapat 159 perempuan dari total 1.059 anggota ELT.
Situasi serupa juga terlihat pada posisi tertinggi perusahaan. Pada 2025, hanya 11 perusahaan dalam kelompok IDX200 yang dipimpin CEO perempuan. Jumlah tersebut sama dengan 2022, setelah sempat turun menjadi 10 perusahaan pada 2023 dan 2024. Data ini mengindikasikan bahwa peningkatan diversitas gender di level kepemimpinan puncak masih berlangsung sangat lambat.
Komisaris Utama BEI, Nurhaida, menegaskan bahwa pelaksanaan sensus merupakan bagian dari komitmen BEI dalam mendorong praktik keberlanjutan yang berdampak nyata bagi ekosistem pasar modal Indonesia.
“Pelaksanaan sensus ini merupakan kontribusi nyata untuk memperkuat basis data sekaligus meningkatkan transparansi mengenai peran perempuan dalam posisi eksekutif,” ujarnya.
Sementara itu, Advisory Board IBCWE Andrie Darusman menilai pelaporan data gender perlu dipandang sebagai instrumen strategis, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif.
Menurutnya, integrasi indikator gender dalam pelaporan ESG dapat membantu perusahaan memetakan jalur karier perempuan, mengidentifikasi hambatan dalam pipeline kepemimpinan, serta mengukur efektivitas kebijakan yang dijalankan secara berkelanjutan.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari Pemerintah Australia melalui program Investing in Women. Minister Counsellor dan Head of Economic and Investment Kedutaan Besar Australia, Jonathan Gilbert, menekankan pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Ia menilai sensus tersebut memberikan gambaran yang kredibel mengenai posisi perempuan dalam kepemimpinan korporasi Indonesia, sekaligus membantu perusahaan, investor, dan regulator memahami tren serta kesenjangan yang masih perlu diperbaiki.
Dalam pemaparan hasil sensus, Direktur BOI Research Services Indonesia Dian Irawati menyoroti lambatnya peningkatan jumlah perempuan di posisi CEO.
“Bertambah dari delapan menjadi sebelas CEO perempuan dalam empat tahun mungkin terlihat sebagai kemajuan. Namun jika melihat besarnya populasi perusahaan yang diteliti, peningkatan tersebut masih sangat kecil,” katanya.
Diskusi panel yang menjadi bagian dari acara juga menyoroti pentingnya penguatan pelaporan gender dalam kerangka ESG dan keberlanjutan perusahaan. Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI, Risa E. Rustam, menyebut ESG kini telah menjadi sinyal penting bagi investor.
Menurutnya, perusahaan yang mampu menunjukkan keberagaman gender dan pengelolaan aspek sosial yang baik berpotensi memperoleh penilaian ESG yang lebih tinggi. Karena itu, laporan keberlanjutan tidak lagi sekadar dokumen kepatuhan, tetapi juga menjadi cerminan kualitas tata kelola perusahaan.
Dari perspektif standar pelaporan, ESG Specialist Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), Dr. Unang Mulkhan, menilai pelaporan gender yang bermakna harus mampu menjelaskan kondisi representasi perempuan, proses pengembangan calon pemimpin perempuan, serta hambatan struktural yang masih menghalangi akses perempuan ke posisi kepemimpinan.
Sementara itu, Group General Manager of People and Organization PT BUMA International Grup Tbk, Kanya Sjahrir, menekankan pentingnya sponsorship dari pimpinan perusahaan dalam mendukung karier perempuan, terutama di sektor-sektor yang masih didominasi laki-laki.
Menutup diskusi, Direktur Eksekutif IBCWE Wita Krisanti menegaskan bahwa tantangan saat ini bukan lagi membuktikan kompetensi perempuan, melainkan memastikan sistem organisasi memberikan kesempatan yang setara bagi mereka untuk berkembang hingga level kepemimpinan tertinggi.
Melalui sensus ini, BEI dan IBCWE berharap data yang dihasilkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan kebijakan serta peningkatan kualitas pelaporan terkait kesetaraan gender di Indonesia. Di tengah tuntutan penerapan standar ESG yang semakin kuat, transparansi dan akuntabilitas gender dinilai menjadi elemen penting untuk mendorong perubahan yang lebih nyata di dunia korporasi.