INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau PT Indonesian Paradise Property Tbk terus melanjutkan ekspansi bisnis properti dan hospitality di tengah tekanan daya beli dan dinamika ekonomi nasional. Sepanjang 2026, emiten properti ini telah mengoperasikan 25 unit bisnis yang mencakup pusat perbelanjaan, hotel, hingga proyek penjualan properti.
Direktur Keuangan INPP Surina mengatakan tambahan portofolio terbaru berasal dari proyek Citadines Antasari, 23 Semarang, serta 88 Plaza Balikpapan yang menjadi proyek landed residential pertama perseroan.
“88 Plaza merupakan proyek di kota ke-8 kami. Saat ini Paradise Indonesia memiliki enam mal dan bulan depan menjadi tujuh mal, kemudian 13 hotel dan enam proyek property sales,” ujar Surina di Jakarta, Senin (11/5).
Pada kuartal I-2026, Paradise Indonesia mencatat pendapatan Rp157 miliar dari segmen komersial, Rp136 miliar dari hospitality, dan Rp34 miliar dari property sales. Di saat yang sama, EBITDA tercatat mencapai Rp101 miliar atau tumbuh sekitar 1% dibandingkan periode sebelumnya.
Manajemen menilai sumber pendapatan berulang atau recurring income masih menjadi penopang utama bisnis. Karena itu, perseroan memilih memperkuat aset yang telah memiliki performa stabil dibanding agresif menambah proyek baru tanpa perhitungan pasar.
“Salah satunya di FX Sudirman, kami melakukan beautification dan peningkatan kapasitas sebagai bagian dari persiapan saat kondisi ekonomi membaik nanti,” kata Surina.
Salah satu proyek yang kini menjadi fokus pengembangan ialah 23 Semarang yang diposisikan sebagai lifestyle mall terbesar di Kota Semarang. Menariknya, tingkat okupansi tenant sudah mencapai 80% bahkan sebelum mal resmi dibuka pada 23 Mei 2026.
Menurut Surina, tingginya minat tenant menunjukkan konsep mal berbasis pengalaman masih relevan di tengah perubahan perilaku konsumen. “Tenant sudah booking sejak dua sampai tiga tahun lalu dan hingga akhir tahun kami targetkan okupansi mencapai 90-95 persen,” jelasnya.
Perseroan sengaja mengusung konsep leisure mall ketimbang pusat belanja konvensional. Strategi itu dipandang lebih tahan terhadap pelemahan konsumsi karena pengunjung tidak hanya datang untuk bertransaksi, tetapi juga mencari hiburan dan pengalaman.
“Kami tidak membangun big box mall tanpa experience. Yang kami hadirkan adalah leisure mall yang menjadi destination. Orang datang untuk menikmati pengalaman, dan pada akhirnya mereka juga berbelanja,” kata Surina.
Untuk menjaga traffic pengunjung, komposisi tenant food and beverage (F&B) diperbesar. Langkah tersebut juga diperkuat melalui Cornerstone, anak usaha INPP yang fokus mengelola konsep aktivitas dan ekosistem mal.
“Bukan hanya membangun lalu tersewa, tetapi bagaimana menciptakan traffic. Itu sebabnya mal kami selalu menjadi salah satu yang traffic-nya tertinggi di kota,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Direktur sekaligus CEO INPP Anthony Prabowo Susilo mengatakan proyek 88 Plaza Balikpapan dikembangkan dengan konsep bertahap dan investasi sekitar Rp100 miliar hingga Rp150 miliar per fase pembangunan.
“Dinamakan 88 karena ini kota ke-8 kami, luas lahannya 8 hektar, dan bentuk site plan-nya menyerupai angka delapan,” ujarnya.
Anthony menilai model pengembangan bertahap menjadi strategi yang lebih adaptif terhadap kondisi pasar dan kemampuan serap konsumen. “Respons market sangat baik dan model seperti ini bisa menjadi pola pengembangan baru ke depan,” katanya.
Ia juga menegaskan keberhasilan pusat perbelanjaan tidak hanya ditentukan tingkat okupansi, tetapi kesehatan tenant dalam jangka panjang. “Mal akan hidup kalau tenant-nya sehat. Dan tenant selalu berpikir jangka panjang,” ujarnya.
Permintaan tenant yang tinggi bahkan membuat perseroan merevisi desain proyek 23 Semarang. Awalnya, proyek tersebut dirancang dengan net saleable area sekitar 30 ribu meter persegi, namun kemudian diperbesar menjadi 48 ribu meter persegi.
Di sektor hospitality, Paradise Indonesia juga masih mencatat performa positif terutama untuk hotel premium yang berada dalam jaringan Hyatt. Menurut Anthony, tekanan justru lebih terasa di segmen hotel bintang tiga ke bawah.
“Hotel kami yang berada di jaringan Hyatt malah mencatatkan kinerja tertinggi. Dari 13 hotel yang kami miliki, hanya dua yang berada di segmen bintang tiga,” tuturnya.
Dengan strategi pengembangan berbasis lifestyle destination, penguatan recurring income, serta model proyek yang lebih fleksibel terhadap kondisi pasar, Paradise Indonesia optimistis menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tantangan sektor properti dan retail nasional.