INDUSTRY.co.id - Jakarta - Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim meluncurkan buku terbarunya berjudul National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Kamis (7/5).
Dalam peluncuran itu, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) tersebut mengingatkan pentingnya Indonesia membangun sistem pertahanan udara nasional yang kuat di tengah ancaman perang modern.
Peluncuran buku yang digelar bersama President Club, Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia itu turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, mulai dari mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro hingga mantan Panglima TNI Hadi Tjahjanto.
Chappy menegaskan bahwa ancaman terhadap sebuah negara kini sangat mudah datang dari udara. Menurutnya, konflik di Timur Tengah menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.

“Misi dari buku ini sebenarnya untuk menyadarkan kita semua betapa pentingnya wilayah udara kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita harus punya long term strategic planning untuk membangun sistem pertahanan nasional, termasuk Sistem Pertahanan Udara Nasional,” kata Chappy usai peluncuran buku.
Ia menilai, kekuatan udara saat ini bukan lagi sekadar pelengkap militer, melainkan instrumen strategis negara untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
Dalam buku tersebut, Chappy membahas transformasi konsep national air power dari era awal penerbangan militer hingga menjadi kekuatan dominan dalam perang modern. Ia juga menyoroti bagaimana konflik Iran dan Amerika Serikat telah mengubah wajah peperangan dunia.
Menurut Chappy, perang modern kini berkembang ke arah perang sistem, termasuk penggunaan drone, serangan siber, hingga artificial intelligence (AI).
“Konflik Iran dan Amerika telah menciptakan sejarah baru dalam taktik dan strategi perang udara. Saat ini perang bukan lagi sekadar kekuatan senjata, melainkan perang sistem melawan sistem,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberhasilan Iran membangun teknologi pertahanan secara mandiri meski bertahun-tahun menghadapi embargo internasional.

Founder Jababeka Group sekaligus pendiri President University dan President Club, Setyono Djuandi Darmono, mengatakan buku tersebut relevan dengan kondisi geopolitik global saat ini.
Menurut pria yang akrab disapa SD Darmono itu, konflik modern membuktikan bahwa negara tidak selalu harus memiliki persenjataan mahal untuk bertahan.
“Iran menunjukkan bagaimana pertahanan udara yang kuat dan penggunaan drone berbiaya rendah mampu menghadapi sistem persenjataan modern yang jauh lebih mahal,” kata SD Darmono.
Ia menilai buku karya Chappy penting dibaca oleh kalangan militer, akademisi, hingga pembuat kebijakan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014, Prof. Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa diplomasi tetap harus menjadi prioritas utama Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara.
Meski begitu, ia menilai Indonesia tetap perlu membangun pertahanan udara nasional yang mandiri dan kuat.
“Kementerian Luar Negeri berada di depan, sementara Kementerian Pertahanan mengikuti,” ujar Purnomo.
Menurutnya, kekuatan pertahanan bukan dibangun untuk berperang, melainkan demi menjaga perdamaian.
Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Kartini Nurdin, mengatakan salah satu kekuatan utama buku National Air Power adalah analisis tajam terhadap sejumlah peristiwa besar dunia yang mengubah strategi keamanan global.
Mulai dari serangan Pearl Harbor, pemboman Hiroshima dan Nagasaki, hingga tragedi 11 September 2001 dibahas untuk menunjukkan betapa besar dampak kekuatan udara dalam menentukan arah sejarah dunia.
“Buku ini hadir pada momentum yang tepat ketika dunia sedang menyaksikan konflik dan persaingan kekuatan udara global,” ujarnya.
Selain diskusi buku, acara juga menghadirkan pakar politik Timur Tengah Dr. Nasir Tamara yang membahas bagaimana perang Iran dan Amerika kini berlangsung tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui operasi intelijen, drone, serangan siber, dan pihak ketiga.