INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan talenta muda yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kesenjangan kompetensi antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi perhatian serius, terlebih di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.
Melihat kondisi tersebut, Amartha Financial berkolaborasi dengan Indonesia Career Center Network (ICCN) menginisiasi program Career Center Officer Program 1.0 2026 yang melibatkan lebih dari 35 universitas di Indonesia.
Program ini bertujuan memperkuat kesiapan talenta muda agar lebih relevan dengan kebutuhan industri masa kini, termasuk memahami transformasi dunia kerja akibat perkembangan AI.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari sepertiga anak muda Indonesia bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Selain itu, pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor informal yang mencapai 59 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas keterampilan lulusan agar mampu terserap ke sektor formal yang lebih produktif dan kompetitif.
Chief People Officer Amartha, Rine, mengatakan bahwa pendekatan perusahaan dalam pengembangan talenta kini tidak cukup hanya berfokus pada proses rekrutmen.
“Pendekatan yang hanya berfokus pada rekrutmen tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan industri ke depan. Amartha melihat peran yang lebih strategis ketika perusahaan dapat terlibat sejak awal sebagai mitra pusat karier,” ujar Rine.
Menurutnya, perusahaan perlu berkontribusi langsung dalam membentuk kesiapan talenta agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
Sebagai perusahaan teknologi finansial yang telah melayani UMKM di lebih dari 50.000 desa selama 16 tahun, Amartha mengaku memiliki pengalaman dalam memahami dinamika kebutuhan talenta di berbagai wilayah Indonesia.
Rine menambahkan, kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga pola pikir, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman terhadap perubahan dunia kerja.
Sementara itu, Presiden ICCN, Rosaria Mita Amalia, menilai Career Development Center di kampus harus bertransformasi menjadi pusat pengembangan talenta yang aktif membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan.
“Kolaborasi yang bermakna bukan hanya bersifat seremonial, tetapi harus mampu menghasilkan program konkret yang berdampak langsung pada peningkatan kesiapan mahasiswa,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen ICCN dalam membangun kemitraan strategis lintas sektor demi menciptakan talenta Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.
Dalam program kolaborasi ini, Amartha dan ICCN menghadirkan berbagai agenda, mulai dari diskusi panel tentang masa depan dunia kerja, sesi kelompok membahas tantangan penyerapan talenta muda, hingga kesempatan interaksi langsung dengan tim rekrutmen.
Topik utama yang diangkat mencakup peran AI dalam dunia kerja dan transformasi career center menjadi strategic talent hub yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri.
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat membantu kampus merancang program pengembangan karier yang lebih relevan serta membuka akses pengalaman praktis bagi mahasiswa.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kesiapan profesional yang lebih kuat untuk menghadapi dinamika dunia kerja modern.