INDUSTRY.co.id - Jakarta — Akselerasi ekonomi digital Indonesia kian menuntut kesiapan infrastruktur yang bukan hanya andal, tetapi juga terintegrasi secara global. Menjawab kebutuhan tersebut, Digital Realty Bersama memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital melalui pengembangan pusat data berstandar tinggi dan rencana peluncuran platform interkoneksi generasi terbaru.
Perusahaan menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pusat data carrier-neutral dengan layanan colocation dan interkoneksi terintegrasi. Melalui fasilitas CGK10 dan CGK11 yang didukung platform manajemen layanan digital ServiceFabric, Digital Realty Bersama mengusung konektivitas lintas ekosistem global yang semakin efisien.
Dengan sertifikasi Tier IV—level tertinggi dalam klasifikasi pusat data—perusahaan menjanjikan tingkat ketersediaan hingga 99,995% dengan sistem redundansi penuh. Standar ini menjadi fondasi utama dalam memastikan keamanan dan keandalan operasional di tengah meningkatnya kebutuhan pengolahan data.
Director of Business & Commercial Digital Realty Bersama, Andha Yudha Permana, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada kekuatan fisik infrastruktur. “Melalui fasilitas kami yang telah tersertifikasi hingga Tier IV, kami menghadirkan fondasi digital paling kokoh dan aman di Indonesia saat ini. Kami tidak berhenti hanya pada infrastruktur fisik,” ujarnya.
Langkah strategis berikutnya adalah peluncuran ServiceFabric pada semester II 2026. Platform ini dirancang sebagai solusi interkoneksi terbuka yang memungkinkan pelanggan mengelola konektivitas secara mandiri dan menghubungkan infrastruktur lokal dengan jaringan global dalam waktu singkat.
“Kami sangat antusias untuk dapat segera meluncurkan ServiceFabric di Indonesia. Platform terbuka ini mendorong ekosistem yang kolaboratif dan terhubung dengan baik, yang menjadi kunci dalam mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkinerja tinggi (HPC),” kata Yudha.
ServiceFabric akan terintegrasi dengan PlatformDIGITAL®, ekosistem pusat data global milik Digital Realty, yang menggabungkan penyedia cloud, jaringan, dan infrastruktur IT dalam satu platform berbasis software-defined. Pendekatan ini diyakini mampu memangkas hambatan geografis dan teknis, sekaligus mempercepat arus data lintas negara dengan tingkat keamanan tinggi.
Dari sisi konektivitas domestik, keberadaan node IIX-JK2 milik Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di fasilitas CGK11 memperkuat posisi Digital Realty Bersama sebagai hub interkoneksi nasional. Infrastruktur ini memungkinkan lalu lintas data lokal diproses dengan latensi rendah, yang krusial bagi performa layanan digital.
Prospek bisnis sektor ini semakin terbuka lebar seiring proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan melampaui US$130 miliar pada 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh penetrasi internet dan lonjakan transaksi digital, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan akan infrastruktur data center berkapasitas besar dan terhubung secara global.
Chief Financial Officer Digital Realty Bersama, Krishna Worotikan, melihat tren ini sebagai momentum strategis, terutama dengan meningkatnya adopsi kecerdasan buatan. “Kami melihat AI sebagai katalis utama yang akan mengubah lanskap bisnis secara fundamental. Melalui integrasi ServiceFabric dan keahlian global Digital Realty dalam menangani beban kerja AI berskala besar, termasuk teknologi pendingin cair dan kolokasi berdensitas tinggi, kami memastikan perusahaan di Indonesia memiliki jalur ekspansi yang lebih mudah untuk terhubung dengan ekosistem global,” jelasnya.
Ia menambahkan, perusahaan berupaya menghadirkan efisiensi jangka panjang bagi pelanggan melalui ekosistem yang terhubung secara cerdas. Dengan kebutuhan AI dan high performance computing yang semakin kompleks—mulai dari kebutuhan daya tinggi hingga sistem pendingin canggih—kapasitas infrastruktur menjadi faktor penentu daya saing.
Kombinasi antara keandalan Tier IV dan konektivitas global yang ditawarkan ServiceFabric menempatkan Digital Realty Bersama tidak sekadar sebagai penyedia pusat data, tetapi sebagai enabler utama transformasi digital. Di tengah kompetisi ekonomi digital yang semakin ketat, kesiapan infrastruktur menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk menembus pasar global.