INDUSTRY.co.idJakarta – Sektor properti di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dalam laporan terbaru Colliers Indonesia yang mencatatkan adanya peningkatan permintaan di sejumlah segmen, terutama perkantoran premium dan logistik.

Advertisement

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, permintaan ruang kantor mulai bergerak positif, khususnya pada gedung kelas premium. Perusahaan kini lebih selektif dengan mengutamakan efisiensi ruang serta mempertimbangkan sertifikasi green building sebagai standar baru.

“Namun, kondisi ini belum sepenuhnya menguntungkan pemilik gedung. Tingkat kekosongan masih tinggi, membuat pasar tetap berpihak pada penyewa, meski selisih harga sewa dan transaksi mulai menyempit,” kata Ferry di Jakarta (16/4).

Advertisement

Di sektor residensial, tren pembelian masih didorong oleh apartemen siap huni yang menyumbang sekitar 60 persen transaksi sepanjang awal tahun. Insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) juga diperkirakan akan menjaga momentum penjualan.

Sementara itu, sektor ritel masih menghadapi tantangan akibat perubahan perilaku konsumen, khususnya Generasi Z yang lebih memiliki belanja online. Meski demikian, kategori seperti makanan dan minuman, hiburan, hingga produk kecantikan masih menunjukkan kinerja positif.

Advertisement

“Tenant pun kini cenderung memilih toko berukuran lebih kecil dan efisien,” terangnya.

Disisi lain, sektor logistik justru tampil paling tangguh. Tingkat hunian gudang di Jabodetabek mencapai 95,8 persen dan diproyeksikan mendekati penuh pada akhir 2026. Permintaan tidak lagi didominasi e-commerce, tetapi juga merambah sektor FMCG, elektronik, farmasi, hingga kendaraan listrik.

Advertisement

Untuk sektor perhotelan, tekanan masih terasa, baik di Jakarta maupun Bali. Ketegangan geopolitik global dan melemahnya aktivitas MICE menjadi faktor utama penurunan kinerja, khususnya bintang lima.

“Pelaku industri pun mulai mengalihkan fokus ke pasar domestik dan Asia Pasifik untuk bertahan,” ujar Ferry.

Di tengah tekanan, tren baru mulai muncul, yakni konsep luxury berbasis privasi dan pengalaman eksklusif yang diprediksi menjadi arah masa depan industri perhotelan.

Secara keseluruhan, properti Indonesia di 2026 memang mulai bangkit, tetapi dengan dinamika yang timpang. Sektor adaptif dan efisien seperti logistik dan kantor premium melaju cepat, sementara ritel dan perhotelan masih harus berjuang menghadapi perubahan pasar dan tekanan global.