INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Gagasan ekonomi hijau (green economy) kian menguat sebagai arah baru pembangunan global, termasuk di Indonesia, seiring meningkatnya dorongan terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan, rendah emisi, dan mampu menciptakan lapangan kerja masa depan.

Pengusaha dan investor Sandiaga Salahuddin Uno menilai ekonomi hijau memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak baru bagi perekonomian nasional. Menurut dia, posisi strategis Asia, termasuk Indonesia, ditopang oleh kekayaan sumber daya alam serta biodiversitas yang melimpah.

“Asia memiliki 60 persen populasi dan keanekaragaman hayati dunia. Itu bukan kerentanan, tetapi potensi,” ujar Sandiaga Uno pada diskusi panel MUTU Green Economic Series 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menegaskan, ekonomi hijau tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar tren global, melainkan telah menjadi arah strategis menuju transformasi ekonomi nasional. Dengan kombinasi inovasi teknologi, skema pembiayaan hijau, serta reformasi kebijakan, risiko perubahan iklim justru dinilai dapat dikonversi menjadi peluang ekonomi baru.

Menurut Sandiaga Uno, transformasi ini berpotensi menopang target Indonesia menuju negara maju, sekaligus menciptakan green jobs di berbagai sektor. “Ekonomi hijau mampu menciptakan peluang kerja masa depan, dengan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, potensi ini bisa dikembangkan,” katanya.

Secara sektoral, ekonomi hijau mencakup spektrum yang luas, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan limbah, kehutanan berkelanjutan, hingga ekonomi karbon yang kini memasuki fase implementasi lebih konkret.

Salah satu peluang yang tengah berkembang pesat adalah pasar karbon. Di Indonesia, perdagangan karbon tercatat menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan volume transaksi mencapai sekitar 700.000 ton CO₂ ekuivalen hingga pertengahan 2025. Perkembangan ini mempertegas meningkatnya minat pasar terhadap instrumen ekonomi rendah karbon.

Tak hanya itu, proyek berbasis alam seperti mangrove, lahan gambut, dan kehutanan diperkirakan memiliki potensi mencapai 13 miliar ton CO₂ ekuivalen dengan nilai ekonomi sekitar US$8 miliar per tahun atau setara sekitar Rp120 triliun per tahun.

Nilai tersebut memperkuat proyeksi bahwa solusi berbasis alam (nature-based solutions) dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia, sejalan dengan berbagai kajian lembaga internasional dan pemerintah.

Dalam jangka panjang, potensi ekonomi hijau nasional bahkan diperkirakan mencapai Rp3.000 triliun hingga Rp4.000 triliun. Estimasi ini mencakup sektor energi terbarukan, ekonomi karbon, serta pengelolaan sumber daya berkelanjutan, menjadikannya salah satu peluang transformasi ekonomi terbesar dalam beberapa dekade mendatang.

Sandiaga Uno menilai peluang yang masih belum tergarap justru berada pada sektor-sektor turunan, seperti penghitungan carbon footprint, perdagangan kredit karbon, serta pengembangan teknologi pemantauan emisi berbasis kecerdasan buatan dan blockchain.

Menurut dia, ekosistem ekonomi hijau bertumpu pada tiga pilar utama, yakni proyek berbasis alam, solusi berbasis teknologi, dan sistem pembiayaan serta perdagangan karbon yang terintegrasi.

Momentum transisi menuju ekonomi hijau dinilai menjadi langkah krusial bagi Indonesia, bukan hanya untuk memenuhi komitmen penurunan emisi, tetapi juga untuk membuka arus investasi baru dan memperkuat daya saing di tingkat global.

“Ekonomi hijau bukan hanya tentang lingkungan, tetapi tentang masa depan ekonomi Indonesia,” tutup Sandiaga Uno.