INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kenaikan harga plastik yang terjadi sejak awal April 2026 kian menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai.
Pemilik Kopi Dalu, Andrian Saputri, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik mencapai hingga 60 persen. Kondisi ini langsung berdampak pada biaya operasional harian usahanya.
“Untuk 2.000 cup kopi ukuran 14 oz, sebelumnya sekitar Rp1,1 juta. Sekarang naik jadi Rp1,67 juta,” ujar Putri saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta, Senin (13/4).
Kenaikan tersebut baru mencakup cup minuman. Sementara itu, kebutuhan lain seperti sedotan, kemasan take away, hingga kantong sampah juga mengalami lonjakan harga. Plastik sampah ukuran 50 misalnya, naik dari Rp23.000 menjadi Rp43.000 per pack.
Tekanan biaya ini datang di tengah kenaikan harga bahan baku lain yang sudah dirasakan sejak awal tahun. Harga cokelat bahkan sempat melonjak hingga 200 persen. Di sisi lain, pasokan susu mengalami kelangkaan sejak September 2025.

Menurut Putri, pembelian susu yang sebelumnya bisa mencapai 10 karton kini dibatasi hanya 5 karton oleh pemasok, bahkan sempat kosong pada awal 2026. Akibatnya, Putri terpaksa membeli susu di ritel dengan harga lebih mahal, yakni sekitar Rp24.000 hingga Rp35.000 per liter.
“Di supermarket juga dibatasi, maksimal 4 liter per orang per hari. Ini jelas menyulitkan untuk kebutuhan usaha,” katanya.
Meski menghadapi tekanan biaya, pelaku usaha seperti Kopi Dalu memilih tetap menjaga kualitas produk. Penggunaan susu tertentu tetap dipertahankan karena dinilai memengaruhi keseimbangan rasa kopi.
Namun, keputusan tersebut berdampak pada margin keuntungan yang semakin tipis.
Tak hanya itu, harga biji kopi juga mengalami kenaikan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan permintaan global, terutama dari pasar Eropa dan Amerika Serikat, membuat harga biji kopi asal Indonesia naik lebih dari 50 persen sejak Januari 2025.
Akumulasi kenaikan berbagai komponen biaya ini akhirnya memaksa Putri menaikkan harga jual. Meski demikian, penyesuaian dilakukan secara terbatas, hanya sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per gelas.
“Kami berusaha tidak membebani pelanggan. Jadi kenaikannya sangat tipis, walaupun margin jadi ikut tergerus,” ujar Andrian.
Kondisi ini menempatkan pelaku UMKM dalam posisi dilematis. Di satu sisi harus menjaga keberlangsungan usaha, di sisi lain tetap mempertahankan daya beli konsumen.
Putri berharap adanya stabilisasi harga, terutama untuk komoditas plastik yang menjadi kebutuhan utama dalam operasional sehari-hari. Tanpa intervensi atau perbaikan pasokan, tekanan biaya dikhawatirkan akan terus berlanjut dan mengancam keberlangsungan UMKM di sektor ini.