INDUSTRY.co.id - Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (7/4), ditutup melemah 0,33% ke level 17.095 setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di 17.100 pada intraday. Secara year-to-date, rupiah telah terdepresiasi sebesar -2,37%.

Advertisement

Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu pendorong utama. Harga minyak Brent sempat naik ke level US$111,8/barrel pada intraday Selasa (7/4), sebelum turun ke US$108,7/barrel pada sore hari yang sama. 

Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik, terutama setelah agensi berita Iran, IRNA, melaporkan bahwa Iran menolak tawaran gencatan senjata dari AS, termasuk desakan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Advertisement

Menanggapi hal tersebut, Presiden Donald Trump pada Senin (6/4) menyatakan bahwa kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz harus menjadi bagian dari kesepakatan apa pun. Ia juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi sebelum Selasa (7/4) malam waktu AS atau Rabu (8/4) pagi waktu Indonesia. 

Pernyataan ini meningkatkan ketidakpastian pasar dan turut menopang harga minyak global.

Advertisement

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi fiskal. 

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan dalam rapat bersama DPR pada Senin (6/4) bahwa defisit APBN selama 3M26 mencapai Rp240,1 T atau setara 0,93% terhadap PDB (vs. 3M25: defisit 0,43% terhadap PDB). Defisit ini terjadi di tengah pertumbuhan penerimaan negara sebesar +10,5% YoY, didorong oleh kenaikan penerimaan pajak +20,7% YoY, namun diiringi lonjakan belanja negara sebesar +31,4% YoY.

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun, dengan asumsi harga minyak rata-rata US$100/barrel. 

Ia juga menyampaikan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.

Untuk memastikan defisit tetap berada di bawah batas legal 3% terhadap PDB, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah fiskal, termasuk penghematan anggaran hingga Rp190 T, pemotongan belanja kementerian sebesar 10%, serta potensi peningkatan penerimaan melalui kenaikan royalti batu bara dan penerapan bea ekspor batu bara dan nikel. 

Dengan strategi tersebut, pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 berada di level 2,9% terhadap PDB.

Selain faktor fiskal dan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dolar AS menjelang periode repatriasi dividen pada April–Mei 2026. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan pidato Presiden Trump pada Rabu (8/4) pagi waktu Indonesia yang berpotensi memengaruhi arah harga minyak dan pergerakan nilai tukar.

Pelemahan rupiah turut berdampak pada pasar saham domestik. IHSG tercatat melemah -0,26% pada perdagangan Selasa (7/4), dengan tekanan terutama pada saham-saham blue chip seperti $BMRI (-2,17%), $BBRI (-2,42%), $ASII (-3,28%), dan $TLKM (-1,9%). 

Secara keseluruhan, pasar mencatatkan net foreign outflow sebesar Rp1,8 T pada hari tersebut.