INDUSTRY.co.id - Jakarta, Darma Henwa ($DEWA) mencatat lonjakan signifikan dalam kinerja keuangannya pada akhir 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp4,1 triliun pada kuartal keempat 2025, meningkat drastis dibandingkan Rp71 miliar pada kuartal ketiga 2025 dan Rp17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Dengan capaian tersebut, total laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp4,3 triliun, jauh melampaui realisasi tahun 2024 sebesar Rp55 miliar dan melampaui estimasi konsensus.

Lonjakan laba bersih ini terutama ditopang oleh pengakuan negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun yang berasal dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR). Hingga sembilan bulan pertama 2025, laba bersih DEWA baru mencapai Rp239 miliar, sehingga kontribusi dari transaksi ini menjadi faktor utama peningkatan kinerja tahunan. 

Pengakuan tersebut juga mengompensasi berbagai kerugian, termasuk penghapusan piutang dan persediaan, kehilangan pengendalian atas entitas anak, serta penjualan dan penghapusan aset tetap dengan total kerugian Rp724 miliar.

Akuisisi GMR sendiri rampung pada November 2025, dengan kepemilikan sebesar 99,75%. Transaksi ini dilakukan melalui realisasi uang muka investasi yang telah dicatat sejak 2024, sehingga tidak menimbulkan tambahan arus kas pada 2025. 

Negative goodwill muncul dari selisih antara nilai wajar aset GMR sebesar Rp6,7 triliun dan biaya perolehan sebesar Rp844 miliar, ditambah kepentingan non-pengendali serta liabilitas pajak tangguhan. 

GMR merupakan operator tambang emas dan tembaga yang masih dalam tahap eksplorasi dan evaluasi di Aceh, dengan nilai aset eksplorasi mencapai Rp7 triliun.

Selain itu, DEWA juga mencatat impairment atas piutang dan persediaan, serta kerugian dari penjualan dan penghapusan aset tetap. Pada November 2025, perseroan juga kehilangan kendali atas entitas anaknya, PT Dire Pratama, yang bergerak di bidang pelabuhan, sehingga menimbulkan kerugian sebesar Rp82 miliar.

Di luar faktor non-berulang tersebut, kinerja operasional inti DEWA menunjukkan perbaikan yang kuat. Core profit tercatat sebesar Rp350 miliar pada kuartal keempat 2025, meningkat dari Rp52 miliar pada kuartal sebelumnya. 

Secara tahunan, core profit mencapai Rp573 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp65 miliar pada 2024.

Peningkatan ini didorong oleh ekspansi margin laba kotor yang mencapai 16,6% pada kuartal keempat 2025, naik dari 12,8% pada kuartal sebelumnya. 

Sepanjang 2025, margin laba kotor juga meningkat menjadi 15,1% dari 7,3% pada tahun sebelumnya. Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan serta peningkatan volume material moved. 

Selain itu, beban subkontraktor turun signifikan sebesar 37% secara tahunan, sejalan dengan strategi peningkatan porsi pengerjaan secara in-house.

Ke depan, prospek kinerja DEWA dinilai tetap positif. Core profit diperkirakan meningkat menjadi Rp910 miliar pada 2026, atau tumbuh 59% secara tahunan. 

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan porsi pengerjaan in-house hingga 100%, serta tambahan volume kontrak sebesar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal. 

Perseroan juga berencana mempercepat pengambilalihan pekerjaan secara in-house di proyek Bengalon mulai April 2026.

Di sisi lain, DEWA mencatat manfaat pajak penghasilan bersih sebesar Rp93 miliar pada 2025. Hal ini berbanding terbalik dengan posisi sebelumnya yang mencatat beban pajak, dan terutama disebabkan oleh adanya pajak tangguhan sebesar Rp120 miliar.

Secara keseluruhan, meskipun lonjakan laba bersih 2025 dipengaruhi oleh faktor non-berulang, kinerja operasional inti DEWA menunjukkan tren pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan.