INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indonesia masih menjadi salah satu kekuatan besar di sektor manufaktur. Industri ini menyerap lebih dari 18,8 juta tenaga kerja, berkontribusi hampir 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan mencatat pertumbuhan sebesar 5,15 persen pada tahun lalu.

Advertisement

Namun, di tengah meningkatnya volatilitas global, pelaku industri manufaktur nasional dihadapkan pada tantangan besar untuk tetap adaptif dan kompetitif.

Transformasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak. Survei Deloitte menunjukkan bahwa modernisasi teknologi mampu meningkatkan output produksi hingga 20 persen, sekaligus mendorong produktivitas karyawan dalam tingkat yang serupa dan meningkatkan kapasitas tak terpakai hingga 15 persen.

Advertisement

Pemerintah sendiri telah mendorong percepatan transformasi melalui roadmap Making Indonesia 4.0. Meski demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari persepsi tingginya biaya hingga keterbatasan tenaga kerja terampil.

Vice President Epicor Asia, Vincent Tang, menilai sektor manufaktur Indonesia saat ini berada di titik krusial.

Advertisement

“Meskipun peluangnya besar, perusahaan perlu bergerak cepat untuk memodernisasi operasional dan membangun ketahanan di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” ujar Vincent.

Ia menambahkan, kehati-hatian dalam adopsi teknologi memang wajar, namun tidak lagi relevan jika menghambat transformasi.

Advertisement

Pasalnya, hampir seluruh aspek kehidupan kini telah terdigitalisasi. Masyarakat semakin terbiasa dengan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality (AR), hingga robotika. Namun, kondisi ini belum sepenuhnya tercermin di lingkungan pabrik.

Kesenjangan antara perkembangan teknologi dan operasional manufaktur menjadi tantangan nyata yang harus segera dijawab.

Transformasi digital yang dilakukan secara strategis dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kepuasan tenaga kerja. Bahkan, survei “Voice of the Essential Manufacturing Worker” dari Epicor menunjukkan bahwa 56 persen pekerja bersedia menerima penurunan gaji demi bekerja di pabrik yang lebih maju secara teknologi.

“Transformasi bukan hanya tentang mengadopsi teknologi baru, tetapi juga menyelaraskan manusia, proses, dan sistem untuk menghasilkan dampak nyata,” kata Vincent.

Sejumlah teknologi dinilai dapat menjadi pendorong utama modernisasi industri, seperti migrasi ke cloud yang meningkatkan fleksibilitas dan keamanan, digitalisasi proses untuk mengurangi pemborosan, serta pemanfaatan big data untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Selain itu, teknologi seperti pencetakan 3D mempercepat proses prototyping, sementara robotika dan AI memungkinkan otomatisasi yang lebih luas. Di sisi lain, AR dapat dimanfaatkan untuk pelatihan karyawan dan simulasi operasional pabrik.

Dalam proses ini, sistem enterprise resource planning (ERP) modern memegang peranan penting sebagai fondasi transformasi digital.

ERP memungkinkan integrasi data operasional di seluruh organisasi, meningkatkan visibilitas rantai pasok, serta membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.

“ERP modern kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sistem pencatatan, tetapi telah berkembang menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan melalui integrasi data,” jelas Vincent.

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat mengurangi inefisiensi, mengoptimalkan sumber daya, serta membuka peluang pertumbuhan baru.

Ke depan, daya saing industri manufaktur Indonesia akan sangat ditentukan oleh kecepatan dalam melakukan modernisasi.

Transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan global.

“Pada akhirnya, perusahaan manufaktur yang akan unggul adalah mereka yang mampu mengubah data menjadi aksi serta membangun operasional yang lincah dan tangguh,” tutup Vincent.