INDUSTRY.co.id - Jakarta – Ramadan selama ini dikenal sebagai salah satu momentum ekonomi terbesar di Indonesia, dengan lonjakan signifikan pada aktivitas belanja dan e-commerce. Namun, memasuki Ramadan 2026, terjadi perubahan perilaku konsumen yang cukup mencolok.

Di tengah tekanan daya beli akibat kenaikan biaya hidup, masyarakat kini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian. Konsumen tidak lagi sekadar tergiur promosi, tetapi mulai mengedepankan nilai (value) dan relevansi produk.

Menurut Enterprise Business Director Infobip Indonesia, Kukuh Prayogi, karakter konsumen Indonesia yang sensitif terhadap harga kini semakin diperkuat oleh kondisi ekonomi.

“Dalam situasi saat ini, konsumen semakin aktif membandingkan harga, memperpanjang fase pertimbangan, dan melakukan riset lebih awal sebelum Ramadan. Brand tidak cukup hanya menawarkan diskon besar, tetapi harus benar-benar memberikan nilai yang relevan,” ujarnya.

Data tren Ramadan sebelumnya menunjukkan bahwa puncak belanja biasanya terjadi dua minggu sebelum hingga dua minggu setelah Ramadan. Namun kini, pola tersebut mulai bergeser ke arah konsumsi yang lebih terencana.

Infobip mencatat bahwa perubahan perilaku ini tidak lagi semata didorong oleh digitalisasi, melainkan oleh meningkatnya kecerdasan konsumen dalam mengelola pengeluaran.

Konsumen modern tidak hanya menginginkan pengalaman belanja yang cepat dan praktis, tetapi juga ekspektasi bahwa brand mampu memahami kebutuhan mereka secara personal. Hal ini membuat pendekatan komunikasi massal atau “one for all” menjadi kurang efektif. 

Sebagai gantinya, strategi hyper-personalization kini menjadi kunci untuk menjaga relevansi di tengah persaingan Ramadan yang semakin ketat.

Seiring meningkatnya ekspektasi tersebut, banyak brand mulai memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memahami perilaku pelanggan.

AI memungkinkan brand mengidentifikasi pola belanja dan kebutuhan konsumen lebih awal, sehingga pendekatan pemasaran dapat beralih dari reaktif menjadi proaktif.

Saat ini, sekitar 50% implementasi AI dalam messaging telah didukung teknologi Generative AI. Teknologi ini memungkinkan brand menghadirkan konten, penawaran, hingga rekomendasi produk yang lebih personal dalam skala besar.

Namun demikian, penggunaan AI tetap harus diimbangi dengan tata kelola data yang baik. Transparansi dan perlindungan data pelanggan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

Dalam konteks Ramadan 2026, peran brand juga mengalami pergeseran signifikan. Tidak lagi sekadar mendorong penjualan, brand kini dituntut menjadi “spending partner” bagi konsumen.

Melalui pendekatan berbasis AI, brand dapat membantu konsumen merencanakan belanja, memberikan notifikasi penurunan harga, hingga merekomendasikan paket produk yang lebih hemat.

Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih kuat dan bernilai antara brand dan konsumen, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Dalam dua dekade terakhir, komunikasi brand dan pelanggan telah berkembang pesat, dari model application-to-person (A2P) menuju sistem yang lebih canggih.

Ke depan, komunikasi diprediksi akan beralih ke model agent-to-person, di mana AI tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga secara aktif membantu pelanggan berdasarkan data dan konteks real-time.

Tahap selanjutnya bahkan akan mengarah ke agent-to-agent, di mana AI dapat mengambil keputusan secara otonom dalam perjalanan pelanggan.

Untuk mendukung transformasi ini, Infobip akan meluncurkan platform AI-native terbaru bernama AgentOS pada April 2026. AgentOS hadir sebagai solusi atas tantangan silo data yang selama ini menghambat implementasi AI. Platform ini mengintegrasikan fungsi marketing, sales, dan customer support dalam satu ekosistem berbasis AI.

Dengan integrasi data yang menyeluruh, perusahaan dapat merancang strategi komunikasi yang lebih kontekstual dan efektif di berbagai channel seperti WhatsApp, SMS, email, hingga voice.

Kukuh menjelaskan, selama ini banyak proses bisnis berjalan terpisah antar divisi. Dengan AgentOS, seluruh data dapat disatukan sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.

Selain itu, teknologi ini juga mampu meningkatkan produktivitas SDM dengan mengotomatisasi pekerjaan repetitif, seperti menjawab pertanyaan pelanggan yang berulang.

“AI tidak menggantikan manusia, tetapi membantu meningkatkan produktivitas. Peran manusia tetap penting untuk pengawasan dan penyelesaian akhir,” jelas Kukuh.

AgentOS menyasar berbagai sektor yang memiliki basis pelanggan luas, seperti retail, transportasi, logistik, healthcare, serta sektor perbankan dan jasa keuangan.

Meski belum menetapkan target adopsi secara spesifik, Infobip mengaku telah menerima respons positif dari pasar terhadap kehadiran platform ini.