INDUSTRY.co.id - Jakarta - Transformasi digital Indonesia terus mengalami perkembangan positif dengan pemerataan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas ekonomi digital di berbagai daerah. 

Namun, di balik kemajuan tersebut, East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 mengungkap persoalan krusial yang perlu segera diatasi, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM) digital yang belum mampu mengimbangi laju perkembangan teknologi.

Laporan yang disusun East Ventures bersama Katadata Insight Center itu menunjukkan bahwa hampir seluruh indikator daya saing digital mengalami peningkatan. Sebanyak 37 dari 38 provinsi berhasil mencatat kenaikan skor daya saing digital, sementara 47 dari 50 indikator penyusun indeks juga mengalami perbaikan.

Median skor EV-DCI meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026, menandakan transformasi digital yang semakin merata di Indonesia. Bahkan, sejak pertama kali dirilis pada 2020, rata-rata skor daya saing digital provinsi telah meningkat lebih dari 50 persen.

Meski demikian, laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa kesenjangan digital antarwilayah masih cukup lebar. Selisih skor antara provinsi dengan daya saing digital tertinggi dan terendah mencapai hampir 60 poin, menunjukkan bahwa daerah yang sudah maju terus berkembang lebih cepat dibandingkan wilayah yang masih tertinggal.

Di tengah tren positif hampir seluruh indikator digital, pilar sumber daya manusia (SDM) justru menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan pada EV-DCI 2026, yakni sebesar 2,5 poin.

Penurunan tersebut mencerminkan bahwa pembangunan infrastruktur digital belum diikuti oleh peningkatan kualitas talenta yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.

Penilaian SDM dalam EV-DCI meliputi berbagai indikator, mulai dari jumlah mahasiswa, dosen, program studi di bidang digital, hingga tingkat literasi digital masyarakat.

Temuan ini mengindikasikan bahwa akses terhadap teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat dalam menguasai dan memanfaatkannya secara produktif.

Laporan EV-DCI 2026 juga memperlihatkan adanya ketimpangan kapasitas SDM digital di berbagai wilayah Indonesia.

Skor SDM digital di Pulau Jawa tercatat sekitar 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan Sumatra dan Kalimantan, serta hampir tiga kali lipat dibandingkan wilayah Maluku dan Papua.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama di Indonesia Timur bukan lagi sekadar ketersediaan tenaga kerja, melainkan bagaimana meningkatkan kompetensi digital agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Di sisi lain, kebutuhan talenta digital semakin mendesak seiring meningkatnya pemanfaatan internet di Indonesia. Saat ini jumlah pengguna internet telah mencapai 229,4 juta orang, yang turut mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi digital.

Penggunaan media sosial sebagai sarana berjualan meningkat 20,7 poin, sementara sektor jasa keuangan tumbuh 7,9 persen, mencerminkan semakin luasnya inklusi keuangan digital di Indonesia.

Memasuki era kecerdasan artifisial (AI), tantangan pengembangan SDM digital menjadi semakin penting.
Indonesia kini termasuk dalam 10 negara dengan jumlah pengguna AI generatif terbesar di dunia. 
Namun, investasi riset dan pengembangan (R&D) nasional masih berada di kisaran 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh tertinggal dibandingkan negara-negara yang memimpin pengembangan AI.

Padahal, teknologi AI diperkirakan mampu meningkatkan PDB Indonesia hingga 12 persen atau sekitar US$366 miliar, apabila didukung oleh talenta yang memiliki kemampuan mengembangkan sekaligus memanfaatkan teknologi tersebut.

Menanggapi hasil EV-DCI 2026, CEO MySkill, Angga Fauzan, menilai tantangan terbesar bukan hanya penguasaan teknologi, tetapi juga pemerataan akses informasi mengenai perkembangan teknologi terbaru.

"Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru. Selain itu, menerjemahkan teknologi yang terus berubah menjadi informasi yang mudah dipahami dan praktikal bagi masyarakat juga masih menjadi tantangan besar," ujar Angga.

Menurutnya, kesenjangan keterampilan antara lulusan pendidikan formal dengan kebutuhan industri juga dipengaruhi lambatnya proses penyesuaian kurikulum di institusi pendidikan.

Karena itu, Angga menilai bootcamp dan platform edutech dapat menjadi solusi yang lebih adaptif dalam menyiapkan talenta digital.

"Pendidikan formal umumnya membutuhkan waktu untuk mengubah kurikulum sesuai dengan perkembangan industri. Sementara itu, MySkill mampu mengajarkan skill terbaru bersama praktisi senior lebih cepat, baik melalui pelatihan intensif maupun konten on-demand yang dapat diakses secara luas," tambahnya.

Partner East Ventures, Melisa Irene, mengatakan Indonesia telah memiliki fondasi digital yang semakin kuat. Namun, pengembangan talenta harus berjalan seiring dengan percepatan inovasi teknologi.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci untuk mempercepat program upskilling, reskilling, serta memperkuat kompetensi AI di Indonesia.