INDUSTRY.co.id - Jakarta — Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari stable menjadi negative oleh Fitch Ratings sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah.

Advertisement

Meski peringkat kredit Indonesia masih berada pada level investment grade (BBB), perubahan outlook tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap konsistensi kebijakan ekonomi dan kredibilitas tata kelola fiskal Indonesia.

Ketua Umum HKI, Ahmad Maruf Maulana mengatakan, sinyal dari lembaga pemeringkat global harus dibaca secara hati-hati karena dapat memengaruhi keputusan investasi di sektor industri.

Advertisement

“Outlook negatif bukan sekadar penilaian teknis lembaga pemeringkat. Ini adalah peringatan bahwa pasar global mulai melihat meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Jika tidak segera direspons dengan langkah korektif yang jelas, dampaknya bisa terasa pada investasi industri dan biaya pembiayaan proyek,” ujar Ahmad Maruf dalam keterangan resminya di Jakarta (9/3).

Menurut Fitch, revisi outlook tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi serta kekhawatiran terhadap konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter dalam jangka menengah.

Advertisement

HKI mengingatkan bahwa industrialisasi Indonesia saat ini berada pada fase krusial. Berbagai sektor strategis seperti elektronik, energi baru terbarukan, industri baterai, hingga hilirisasi sumber daya alam membutuhkan investasi jangka panjang dengan nilai besar.

Dalam kondisi tersebut, stabilitas kebijakan fiskal, kepastian regulasi, dan kredibilitas tata kelola ekonomi menjadi faktor utama dalam menarik investasi industri.

Advertisement

HKI juga menilai perubahan persepsi risiko negara berpotensi menaikkan cost of capital proyek industri, karena investor global cenderung menunda ekspansi ketika melihat adanya ketidakpastian kebijakan makroekonomi.

Jika kondisi ini berlangsung lama, Indonesia berisiko kehilangan daya saing dalam perebutan investasi regional dengan negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang terus memperkuat kepastian kebijakan investasi.

Di sisi lain, situasi ekonomi global juga tengah diliputi ketidakpastian akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur logistik global, khususnya Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Gangguan pada jalur energi global dapat memicu lonjakan biaya energi dan logistik internasional, yang berpotensi menciptakan disrupsi dalam perdagangan dunia.

Dalam situasi global yang tidak menentu, HKI menilai pemerintah perlu fokus pada percepatan realisasi investasi yang sudah memiliki komitmen.

“Indonesia tidak kekurangan potensi. Kita memiliki pasar besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi strategis dalam rantai pasok global. Namun semua itu tidak cukup jika investor meragukan konsistensi kebijakan ekonomi,” kata Ahmad Maruf.

HKI mendorong pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal, memperkuat konsistensi kebijakan makroekonomi, serta meningkatkan kepastian regulasi bagi dunia usaha.

Menurut HKI, menjaga kepercayaan investor global harus menjadi prioritas agar Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi industri di Asia Tenggara.