INDUSTRY.co.id - Jakarta - Keputusan PT Agrinas mengimpor kendaraan pick up menuai sorotan tajam dari Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA). Di tengah komitmen nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan kendaraan nasional di lingkungan pemerintah, langkah tersebut dinilai bertolak belakang dengan semangat kemandirian industri.

GAMMA secara tegas menyayangkan kebijakan impor yang dilakukan perusahaan pelat merah tersebut. Padahal sebelumnya, Presiden Prabowo mendorong penggunaan kendaraan nasional, termasuk Maung produksi PT Pindad, bagi pejabat dan institusi pemerintah. 

Ketua Umum GAMMA, Dadang Asikin menilai kebijakan impor tersebut mencerminkan inkonsistensi arah srategis nasional, khususnya dalam penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), substitusi impor, dan keberpihakan terhadap produk dalam negeri.

GAMMA juga menilai keputusan impor tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak serius antara lain; Menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen keberpihakan pada industri nasional, Melemahkan daya saing industri otomotif dan manufaktur dalam negeri, serta Mengirimkan sinyal negatif kepada pelaku industri yang tengah meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi.

Industri otomotif disebut sebagai salah satu penggerak utama sektor pengerjaan logam dan mesin. Industri permesinan sendiri merupakan bagian signifikan dari rantai pasok otomotif nasional.

“Setiap satu unit kendaraan yang diproduksi melibatkan ratusan komponen hasil rekayasa mesin dan tooling,” terang Dadang melalui keterangan resminya di Jakarta.

Jika alasan impor didasarkan pada spesifikasi teknis atau pertimbangan ekonomi, GAMMA meminta PT Agrinas membuka kajian tersebut secara transparan kepada publik. Tanpa keterbukaan, keputusan tersebut dinilai berpotensi mencederai semangat nasionalisme industri.

GAMMA juga mendesak evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN agar selaras dengan visi kemandirian industri dan arahan Presiden.

“Keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten,” tegasnya.

Lebih lanjut, GAMMA menekankan bahwa industri permesinan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap perekonomian nasional, antara lain: Industri baja dan logam dasar, Industri komponen kecil dan menengah, Sektor pendidikan vokasi dan teknik, serta Penyerapan tenaga kerja terampil.

"Jika mesin, tooling, dan engineering dikuasai di dalam negeri, Indonesia tidak hanya menjadi pasar otomotif, tetapi juga berpotensi menjadi basis produksi regional hingga mengembangkan platform kendaraan sendiri. Sebaliknya, tanpa industri permesinan yang kuat, industri otomotif nasional akan terus bergantung pada desain dan teknologi luar negeri," ungkap Dadang.

GAMMA menyimpulkan bahwa industri permesinan merupakan jantung industrialisasi otomotif nasional. Setiap kebijakan yang berpotensi melemahkan industri otomotif dinilai akan berdampak langsung pada sektor penyokongnya, termasuk industri pengerjaan logam dan mesin.

Kontroversi impor pick up ini pun diprediksi akan memicu perdebatan lebih luas soal konsistensi kebijakan industri nasional di era pemerintahan Prabowo.