INDUSTRY.co.id - Cirebon — Kabar baik menjelang Ramadan hingga Lebaran. Pemerintah memastikan pasokan bawang merah asal Kabupaten Cirebon aman, melimpah, dan siap menjaga stabilitas harga nasional, meski cuaca ekstrem sempat melanda wilayah tersebut.
Kepastian itu disampaikan Kementerian Pertanian (Kementan) saat panen raya bawang merah di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Sabtu (31/1/2026).
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Agung Sunusi, mengungkapkan produktivitas bawang merah di Kecamatan Pangenan saat ini mencapai rata-rata 10 ton per hektare. Angka tersebut dinilai sangat baik, mengingat hujan dan cuaca ekstrem terjadi hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir.
“Rata-rata nasional berada di kisaran 11–12,5 ton per hektare. Dengan kondisi cuaca ekstrem, capaian Cirebon ini sudah sangat luar biasa dan di atas ekspektasi,” kata Agung.
Dia mencontohkan, dari satu hamparan lahan seluas 26 hektare di Desa Ender, potensi produksi bawang merah bisa mencapai sekitar 260 ton. Jumlah tersebut baru berasal dari satu lokasi panen.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dan Champion Bawang Merah setempat, sekitar 350 hektare lahan bawang merah siap panen hingga menjelang Lebaran, tersebar di empat kecamatan sentra produksi. Dengan asumsi produktivitas 10 ton per hektare, Cirebon dinilai mampu mengamankan pasokan bawang merah selama Ramadan hingga pasca-Lebaran.
“Artinya, Kabupaten Cirebon siap mengamankan kebutuhan bawang merah saat puasa dan Lebaran,” tegas Agung.
Menurut Agung, pola tanam bawang merah di Cirebon dilakukan berkelanjutan tanpa jeda. Setelah panen, petani langsung mengolah lahan dan kembali menanam.
“Saat ini selain 350 hektare yang dipanen, ada sekitar 500 hektare yang sudah ditanami kembali. Tidak ada istilah lahan tidur,” ujarnya.
Dari sisi distribusi, bawang merah Cirebon hanya memerlukan waktu pengeringan dua hingga tiga hari sebelum dipasarkan, termasuk ke wilayah Jabodetabek. Hal ini membuat pasokan nasional tetap lancar dan cepat terserap pasar.
Saat ini, harga bawang merah di tingkat petani berada di kisaran Rp25.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, harga di tingkat konsumen diperkirakan berada di kisaran Rp35.000 per kilogram, sesuai harga acuan pemerintah.
“Harga berada di rel yang tepat. Petani tersenyum, konsumen tenang dan bisa fokus beribadah,” ujar Agung.
Ketua Champion Bawang Merah Kabupaten Cirebon, Syaiful, mengakui produktivitas memang turun dibanding kondisi normal yang bisa mencapai 12–14 ton per hektare. Namun, ia menegaskan petani tetap meraih keuntungan.
“Dengan luas panen 350 hektare dan produktivitas 10 ton per hektare, pasokan bawang merah Cirebon aman hingga pasca-Lebaran,” katanya.
Harga bawang merah ukuran sedang di tingkat petani berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, sementara kualitas super bisa mencapai Rp30.000 per kilogram. Dengan biaya produksi sekitar Rp15.000–Rp18.000 per kilogram, margin petani dinilai masih sangat layak.
Ketua Kelompok Tani Makam Wada, Nashori, menyebut petani sudah untung pada harga Rp20.000–Rp25.000 per kilogram. Namun, ia menyoroti masih kuatnya peran tengkulak dalam rantai perdagangan.
“Rata-rata bawang sudah dibeli sejak umur tanaman 45 hari dan transaksi dilakukan langsung di lahan,” ungkapnya.
Ia juga menyebut sebagian besar bawang merah Cirebon dibeli tengkulak dari Brebes, sehingga di pasar kerap dikenal sebagai bawang Brebes, meski berasal dari Cirebon.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni, memastikan pihaknya akan mendorong penguatan permodalan, fasilitas pascapanen, dan tata niaga, agar Cirebon memiliki identitas kuat sebagai sentra bawang merah nasional.
“Produksi aman, harga sehat, tapi tata niaga harus kita perkuat. Ini jadi fokus ke depan,” pungkasnya.