INDUSTRY.co.id - Jakarta, Jam Gadang bukan sekadar penunjuk waktu. Menara jam yang berdiri di jantung Kota Bukittinggi ini adalah saksi bisu perjalanan panjang sebuah kota, bahkan sebuah bangsa. Pada 20 Juni 2026, Jam Gadang genap berusia 100 tahun-seabad berdiri, menandai detak kehidupan dari masa kolonial hingga era modern.

Advertisement

Dibangun pada 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Jam Gadang merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada Sekretaris (Controleur) Kota Fort de Kock (nama lama Bukittinggi) yang menjabat saat itu, yaitu HR Rookmaaker. Menara setinggi 26 meter ini dirancang oleh arsitek lokal, Jazid Rajo Mangkuto, sebuah penanda bahwa sejak awal, Jam Gadang telah memadukan pengaruh global dengan kearifan lokal. Mesin jamnya didatangkan langsung dari Jerman, langka dan bernilai tinggi. Konon hanya ada dua di dunia, satu di Bukittinggi dan satu lainnya di London.

Keunikan Jam Gadang tampak pada detailnya. Angka Romawi “IIII” pada jam menjadi ciri khas yang membedakannya dari menara jam lain di dunia. Atapnya pun berubah mengikuti zaman: dari gaya Eropa, kemudian Jepang, hingga akhirnya memakai gonjong sebagai mahkota menegaskan identitas Minangkabau sebagai ruh kebudayaan Bukittinggi.

Advertisement

Sepanjang satu abad, Jam Gadang menyaksikan berbagai fase sejarah: penjajahan, perang, kemerdekaan, hingga dinamika pembangunan kota. Waktu terus bergerak, namun Jam Gadang tetap berdiri kokoh. Fondasinya yang kuat menjadi metafora bagi keteguhan nilai sejarah, budaya, dan sosial yang diwariskannya lintas generasi.

Memperingati satu abad Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi menetapkan tahun 2026 sebagai tahun perayaan dengan rangkaian 100 iven. Beragam kegiatan disiapkan, mulai dari seminar sejarah, pertunjukan seni dan budaya, lomba kreatif, hingga agenda internasional seperti International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4). Seluruh rangkaian ini dirancang untuk menggali kembali nilai historis Jam Gadang sekaligus mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif kota.

Advertisement

Sebagai penanda awal peringatan, pada 22 Desember 2025 Wali Kota Bukittinggi meresmikan name sign “Satu Abad Jam Gadang” di kawasan pedestrian. Langkah ini menjadi simbol dimulainya narasi besar menuju perayaan seabad ikon kota.

Tak hanya bersifat seremonial, peringatan ini juga mengusung semangat diplomasi sejarah. Pemerintah Kota Bukittinggi berencana mengundang keturunan Ratu Wilhelmina dari Belanda sebagai bagian dari dialog lintas bangsa, sebuah upaya merefleksikan masa lalu secara dewasa dan menjadikannya pijakan untuk masa depan.

Advertisement

Seratus tahun telah berlalu. Jam Gadang kini menjadi titik temu lintas generasi: tempat janji bertemu, ruang ekspresi budaya, dan simbol kebanggaan warga. Waktu mungkin terus berjalan, tetapi Jam Gadang mengajarkan satu hal, bahwa yang membuatnya tetap berdiri bukan hanya mesin jam yang tak pernah berhenti, melainkan fondasi sejarah dan identitas yang terus menguatkan Kota Bukittinggi.