INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri keramik nasional bersiap melaju kencang. Dalam Rapat Umum Anggota (RUA) Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) yang digelar di Jakarta pada 13 Januari 2026, Edy Suyanto kembali terpilih sebagai Ketua Umum ASAKI periode 2026–2029.

Dalam forum tersebut, Edy memaparkan road map ambisius pengembangan industri keramik nasional yang digadang-gadang menjadi motor kebangkitan sektor manufaktur berbasis mineral di Indonesia.

Sejumlah target besar telah disiapkan, mulai dari investasi baru sekitar Rp5 triliun, ekspansi kapasitas produksi hingga 70 juta meter persegi per tahun, hingga penyerapan sekitar 3.500 tenaga kerja baru dalam beberapa tahun ke depan.

Langkah strategis ini diarahkan untuk memperkuat daya saing industri keramik nasional, baik di pasar domestik maupun regional, di tengah tantangan global dan persaingan produk impor.

“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kami yakin industri keramik nasional tidak hanya bangkit, tetapi juga mampu menjadi pemain utama di kawasan,” tegas Edy.

ASAKI optimistis, peta jalan tersebut akan mendorong peningkatan utilisasi pabrik, memperkuat struktur industri hulu-hilir, serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Selain itu, ASAKI juga menargetkan utilisasi produksi mencapai 80% pada tahun 2026, atau tertinggi dalam satu dekade terakhir. Optimisme ini didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.

“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujarnya.

ASAKI menilai kebangkitan industri keramik tak lepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah, antara lain, Penerapan Bea Masuk Antidumping dan Safeguard Keramik, SNI wajib untuk produk keramik, Program pembangunan 3 juta unit rumah, Insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor properti, Penurunan suku bunga perbankan, serta Program FLPP sebanyak 350.000 unit rumah. Kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan.

Lebih lanjut, Edy menyampaikan bahwa pihaknya memproyeksikan kapasitas terpasang ubin keramik nasional akan terus meningkat. Pada 2026, Asaki memproyeksi kapasitas terpasang keramik akan menyentuh 672 juta meter persegi per tahun, pada 2027 akan mencapai 701 juta meter persegi per tahun, sedangkan di 2029 mencapai 720 juta meter persegi per tahun. 

Namun demikian, tingkat konsumsi keramik per kapita Indonesia masih relatif rendah. Pada 2029, konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita, jauh tertinggal dibandingkan, China & Vietnam: ±4 meter persegi per kapita, Malaysia & Thailand: 3–3,5 meter persegi per kapita.

“Artinya, ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar,” tegas Edy.

Di balik optimisme tersebut, ASAKI mencatat sejumlah tantangan krusial yang membutuhkan perhatian serius pemerintah antara lain; pertama, Krisis Pasokan Gas Industri. Industri keramik di Jawa Barat hanya menerima sekitar 60% pasokan gas, sementara Jawa Timur 50–55%, sesuai HGBT USD 7/MMBTU. Kekurangannya harus ditebus dengan harga surcharge mahal hingga USD 15,4/MMBTU, yang menekan daya saing dan utilisasi produksi.

Kedua, Lonjakan Impor Keramik. Berdasarkan data Asaki sepanjang 2025, impor keramik melonjak drastis, India naik 55%, Vietnam 32%, dan Malaysia melonjak 210%.

"Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I 2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia," ungkapnya.

Tantangan Ketiga, Masalah Bahan Baku Tanah Liat. Menurut Edy, pencabutan izin tambang di Jawa Barat menyebabkan gangguan pasokan bahan baku utama industri keramik.

Keempat, Usulan Pemindahan Pintu Masuk Impor. "Kami mendorong percepatan kebijakan pemindahan pelabuhan masuk impor ke luar Pulau Jawa guna melindungi industri domestik," tuturnya.

Terpilihnya kembali Edy Suyanto dinilai menjadi sinyal kuat keberlanjutan kepemimpinan ASAKI dalam mendorong transformasi industri keramik menuju sektor yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.