INDUSTRY.co.id - Jakarta - TBS Re/define menandai tonggak penting dalam transformasi PT TBS Energi Utama Tbk (TBS). Acara ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan identitas baru sekaligus menegaskan komitmen TBS beralih dari energi konvensional menuju perusahaan berkelanjutan yang berorientasi pada masa depan.
Lebih dari sekadar peluncuran identitas, TBS Re/define merepresentasikan redefinisi jati diri dan arah strat perusahaan. Melalui inisiatif di bidang pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, TBS menegaskan perannya dalam menciptakan pertumbuhan yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut digelar “Building a Circular Future” yang merupakan sesi fireside chat yang digagas TBS untuk memperkuat dialog antara pelaku industri, pembuat kebijakan, dan investor terkait arah pengelolaan limbah dan peluang ekonomi sirkular di Indonesia. Sesi ini menjadi wadah berbagi pengalaman, insight kebijakan, dan strategi investasi menuju ekosistem waste-to-resource yang berkelanjutan dan kompetitif.
Dalam kegiatan tersebut, Gundy Cahyadi yang merupakan Research Director Prasasti Center For Policy Studies mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor penyebab terjadinya growing waste problem di Indonesia.
"Penyebab growing waste problem di indonesia ada tiga faktor. Pertama population growth kita yang terus bertambah, kedua changing pattern of consumerism dimana orang lebih banyak membeli barang fast fashion dan food yang kemasanya terlalu banyak, dan yang ketiga adalah waste management infrastruktur di Indonesia masih sangat kurang sekali," ungkap Gundy di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Gundy menyebut 40 persen problem dari waste management ternyata adalah miss manage atau pengelolan yang kurang baik yang berakhir dibakar dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Problem dari waste management itu 40 persen dari waste itu ternyata miss manage yang tidak di manage dengan baik. Dari miss manage waste di Indonesia itu berakhir di bakar, dan ini akhirnya pada kenyataannya bukan hanya ada polusi bau tapi akan sangat berdampak buruk bagi lingkungan. Dan ini jelas sekali inilah masalahnya yang kadang kita overload," ungkap Gundy.
Meski begitu, menurut Gundy, yang menjadi menarik adalah saat ini kian banyak perusahaan yang tertarik untuk masuk ke sektor waste management. "Yang menarik adalah, saat semakin banyak perusahaan yang mau masuk untuk ke sektor manage waste dan salah satunya adalah TBS, dimana adanya beberapa akuisisi di tahun terakhir," ujarnya.
Nafi Sentausa, SVP Corporate Strategy TBS menjelaskan bahwa TBS mengembangkan portofolio bisnis pengelolaan limbah melalui kemitraan lintas sektor untuk menciptakan solusi yang terintegrasi dan berdampak luas. Strategi ini menegaskan komitmen TBS dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan profitabilitas.
"Bagaimana TBS masuk ke sektor waste management. Satu fakta yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir waste management ternyata adalah sebuah bisnis yang cukup profitable. TBS melihat bahwa waste management segmen bisnis yang kita lihat tingkat profitabilitasnya itu sangat baik dan di satu sisi impact yang kita berikan itu juga dampaknya sangat positif. Jadi, TBS komit di tahun 2030 ingin menjadi carbon neutral," ungkap Nafi.
Secara keseluruhan, diskusi ini menyoroti dinamika dan tantangan sektor pengelolaan limbah di Indonesia mulai dari isu struktural seperti rendahnya kesadaran publik, kurangnya dukungan kebijakan, hingga belum terintegrasinya para pelaku industri. Selain itu, pembicaraan juga mengulas bagaimana perusahaan dapat menavigasi tingginya kebutuhan investasi awal melalui strategi kolaboratif antara sektor privat, masyarakat, dan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan finansial dan dampak sosial.