INDUSTRY.co.id - Jakarta – Akamai Technologies (AKAM) mengumumkan telah terpilih sebagai mitra strategis untuk AI Readiness Model for Operational Resilience (ARMOR) milik World Wide Technology (WWT). Kolaborasi tersebut menjadikan Akamai sebagai arsitektur keamanan dasar bagi "AI factory" yang dibangun WWT dan dipercepat oleh NVIDIA.
Kemitraan ini ditujukan untuk membantu perusahaan menjembatani kesenjangan antara inovasi kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber. Seiring semakin masifnya adopsi AI di berbagai sektor, banyak perusahaan menghadapi tantangan berupa "pajak keamanan", yakni ketika sistem keamanan tradisional harus berbagi sumber daya komputasi dengan beban kerja AI.
Melalui ARMOR, Akamai dan WWT menjawab tantangan tersebut dengan mengintegrasikan kecerdasan perangkat lunak Akamai langsung ke dalam NVIDIA BlueField Data Processing Units (DPUs), sehingga keamanan dapat berjalan tanpa mengorbankan performa komputasi AI.
ARMOR diklaim sebagai kerangka kerja keamanan AI holistik dan netral vendor pertama di industri. Berbeda dengan arsitektur lain yang umumnya terbatas pada platform cloud tertentu, ARMOR menyediakan blueprint yang mencakup enam domain penting, yaitu Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan (GRC), Perlindungan Model, Operasi AI yang Aman, Keamanan Infrastruktur, Perlindungan Data, serta Sistem Pengembangan yang Aman (SDLC).
"Sebelum adanya ARMOR, banyak organisasi sering kali terpaksa menyusun strategi keamanan yang terpisah-pisah. Dengan menyelaraskan portofolio kami dengan kerangka kerja ini, kami menyediakan metodologi proaktif untuk mengisolasi kluster AI berskala besar dan mencegah pergerakan lateral ancaman tanpa mengorbankan kinerja yang dibutuhkan dalam pelatihan dan inferensi AI," kata Executive Vice President Global Sales and Services Akamai, PJ Joseph pada Jumat (17/7/2026).
Dalam implementasinya, peran Akamai dalam framework ARMOR berfokus pada tiga pilar utama. Pertama, membebaskan "pajak keamanan" dengan mengalihkan segmentasi Akamai Guardicore ke NVIDIA BlueField sehingga lingkungan AI dapat beroperasi lebih efisien. Langkah ini juga menciptakan lapisan keamanan yang tetap berfungsi meskipun sistem operasi host disusupi, sekaligus mempercepat penanggulangan ransomware rata-rata sebesar 21,4%, bahkan mencapai 32,6% pada perusahaan besar.
Selain itu, Akamai API Security digunakan untuk mengamankan agentic AI dan data lakes dengan memantau jalur komunikasi AI serta mencegah akses tidak sah terhadap data sensitif yang menjadi sumber bagi large language models (LLMs).
Di sisi lain, Akamai juga menghadirkan pertahanan end-to-end melalui layanan mitigasi DDoS Prolexic yang dirancang untuk melindungi infrastruktur AI dari serangan volumetrik yang berpotensi melumpuhkan sistem.
Advanced Technology Center (ATC) milik WWT akan berfungsi sebagai pusat pengujian global bagi arsitektur AI. Dengan mengintegrasikan Akamai ke dalam model referensi ARMOR, WWT menilai perusahaan dapat melampaui sekadar kepatuhan regulasi menuju ketahanan siber yang lebih kuat.
"Tidak ada satu vendor pun yang dapat mengamankan AI frontier sendirian. Melalui kemitraan erat dengan Akamai, kami mengubah antusiasme terhadap AI perusahaan yang aman menjadi kenyataan dan dapat terus ditingkatkan bagi para pelanggan," ujar Global VP of Cybersecurity WWT, Chris Konrad.