INDUSTRY.co.id-Jakarta-Pefindo mencatatkan total penerbitan surat utang korporasi secara keseluruhan hingga Kuartal III-2025 mencapai Rp160,1 triliun, tumbuh 68,65% dari kuartal III-2024 (Rp94,9 triliun).
"kebutuhan refinancing diperkirakan masih tinggi. Masih terdapat Rp44,57 triliun surat utang korporasi yang jatuh tempo pada Q4-2025 (27,6% dari total Rp161,22 triliun FY2025),” kata Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto di Jakarta, Kamis (17/10/2025).
Penerbitan obligasi korporasi & sukuk tercatat sebesar Rp159,1 triliun, naik 70,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp93,4 triliun.
Namun, penerbitan MTN menunjukkan penurunan yaitu baru mencapai Rp0,8 triliun dibandingkan Rp1,0 triliun pada 9M2024 lalu (-20,62% YoY). Sementara penerbitan efek utang lainnya (sekuritisasi), baru mencapai Rp0,2 triliun, menurun 70% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp0,5 triliun).
Kebutuhan refinancing diperkirakan masih tinggi. Masih terdapat Rp44,57 triliun surat utang korporasi yang jatuh tempo pada Q4-2025 (27,6% dari total Rp161,22 triliun FY2025).
Suku bunga acuan telah diturunkan 5 kali dan berpeluang dilonggarkan lebih lanjut, sejalan dengan ruang penurunan suku bunga yang masih terbuka dan upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Yield Benchmark diperkirakan akan terus menurun seiring pelonggaran kebijakan moneter. Menurunkan kupon atau biaya dana dari penerbitan surat utang korporasi. Perusahaan akan lebih cenderung mencari pendanaan di dalam negeri, di tengah kondisi volatilitas nilai tukar dan suku bunga di dalam negeri yang telah lebih rendah secara signifikan.
Aktivitas sektor riil memiliki prospek yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik. Premi diperkirakan relatif melandai. Suku bunga lebih rendah diharapkan memperbaiki leverage keuangan, membuat premi yang diminta investor tidak setinggi tiga tahun terakhir.
Permintaan investor menguat. Investor seperti manajer investasi mulai mengejar return tinggi di pasar surat utang korporasi dan saham daripada di pasar surat utang pemerintah.
Tantangan
Ketidakpastian masih di level yang relatif tinggi akibat kebijakan ekonomi global, utamanya karena perang dagang, kelanjutan pemangkasan suku bunga, dan kebijakan anggaran AS, berpotensi menyebabkan fluktuasi nilai tukar dan yield tertahan untuk turun.
Meksipun mereda, risiko geopolitik masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Gejolak di Timur Tengah dan Eropa Timur relatif mereda namun belum usai sepenuhnya. Eskalasi tiba-tiba dapat memicu volatilitas pasar dan permintaan premi yang lebih besar.
Outlook Defisit Fiskal 2025 yang melebar (dari Rp616,2 triliun/ 2,53% dari PDB menjadi Rp662,0 triliun/ 2,78% dari PDB) berpotensi membuat persaingan pencarian dana masih relatif ketat dan membuat yield benchmark kaku untuk turun.
Likuiditas lembaga keuangan relatif masih longgar. Pasca injeksi Dana SAL Pemerintah kepada Perbankan, Loan-to-Deposit Ratio bank menurun. Sementara sektor multifinance memiliki FAR yang relatif stabil.
Berpotensi menekan nilai penerbitan Surat Utang Korporasi dari industri keuangan.
Subtitusi pasar saham. Perusahaan melirik pasar ekuitas untuk menggalang dana seiring dengan prospek kinerja IHSG yang lebih baik, mengurangi minat menerbitkan surat utang, terutama oleh perusahaan tercatat.