Delusi Ekonometrika

Oleh : Yudhie Haryono | Senin, 21 Agustus 2017 - 09:06 WIB

Direktur Nusantara Centre Yudhie Haryono. (Foto: IST)
Direktur Nusantara Centre Yudhie Haryono. (Foto: IST)

TENTANG filosofi angka. Hal purba yang kita abaikan karena alpa dan terbatasnya nalar ingatan. Juga karena banjir dan delusi ekonometrika. Ilmu yang mencabut nyawa filsafat dari ekonomi. Ekonometrika adalah ilmu yang membahas pengukuran hubungan ekonomi yang mencakup teori ekonomi, matematika, dan statistika dalam satu kesatuan sistem yang bulat, menjadi ilmu yang berdiri sendiri.

Singkatnya, ekonometrika adalah anak haram dari persetubuhan ekonomi, statistik dan matematika.

Karena itu, fungsi utama ekonometrika digunakan sebagai alat analisis ekonomi yang bertujuan untuk menguji kebenaran teorama-teorama teori ekonomi yang berupa hubungan antarvariabel ekonomi dengan data empirik.

Teorama-teorama yang bersifat apriori pada ilmu ekonomi dinyatakan terlebih dahulu dalam bentuk matematik sehingga dapat dilakukan pengujian terhadapnya. Bentuk matematik teorama ekonomi ini disebut model. Pembuatan model ekonometri, pembuatan prediksi (peramalan atau forecasting) dan pembuatan berbagai keputusan alternatif yang bersifat kuantitatif adlh hasil ekonometrika yang dapat mempermudah para pengambil keputusan untuk menentukan pilihan.

Dalam ekonometrika ada analisis regresi yang digunakan untuk mengetahui kaitan antara satu variabel dengan variabel lain. Berdasarkan data yang digunakan, ekonometrika dibagi menjadi tiga analisis, yaitu analisis runtun waktu (time series), antar-wilayah (cross section), dan analisis data panel.

Analisis runtun waktu menjelaskan mengenai perilaku suatu variabel sepanjang beberapa waktu berturut-turut.

Analisis antar-wilayah menjelaskan antara beberapa daerah dalam satu waktu tertentu (snapshot).

Sementara itu analisis data panel menggabungkan antara data runtun waktu dengan data antar-wilayah.

Tetapi, dosa utama ekonometrika terhadap manusia adalah membuat orang memuja dan mengejar angka. Padahal, angka tiada habisnya. Ia bagai usaha menggarami lautan.

Dus, agama, tuhan dan ajaran angka ini menghancurkan kebijaksanaan dan filosofi kehidupan. Akibatnya kering makna. Padahal, hidup tak sekedar memburu angka, harta dan tahta. Tidak percaya? Mari kita lihat.

Pagi ini, kita bicara soal konstanta plus (+) dan konstanta minus (-). Dalam sejarahnya, tanda plus dimaknai kebenaran (benar). Sedang tanda minus dimaknai kesalahan (salah). Selanjutnya adalah, mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1) Mengapa plus dikali plus hasilnya plus? 2) Mengapa minus dikali plus atau sebaliknya plus dikali minus hasilnya minus? 3) Mengapa minus dikali minus hasilnya plus?

Begini jawabannya. Karena plus (+) adalah konstanta benar. Sedang minus (-) adalah konstanta salah. Sehingga:

1) Mengatakan benar terhadap yang benar adalah tindakan benar. Rumus matematikanya (+ x + = +). 2) Mengatakan benar terhadap yang salah, atau sebaliknya mengatakan salah terhadap yang benar adalah tindakan salah. Rumus matematikanya (+ x – = –) dan (– x + = –). 3) Mengatakan salah terhadap yang salah adalah tindakan benar. Rumus matematikanya (– x – = +).

Jadi, kebenaran dan kesalahan itu konstan (tetap), tidak berubah kapanpun dan di manapun serta oleh siapapun plus dalam kondisi apapun.

Kita memang bisa memanipulasinya, tapi Tuhan, alam raya dan orang jenius tahu. Mereka tak bisa dibohongi. Singkatnya, pelajaran angka (sebelum ditunggangi kaum neoliberalis jahat) ternyata sarat makna dan bisa kita ambil sebagai pelajaran kehidupan, bagi yang mau belajar kearifan, kejujuran dan revolusi.

Penulis adalah Yudhie Haryono, Teoritikus trias-ekonomika dan pskio-hermeneutika. Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah (tengah) bersama Direktur Consumer Service Telkom Siti Choiriana (kedua dari kiri), Direktur Wholesale and International Business Telkom Edwin Aristiawan (kedua dari kanan), dan Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin (paling kanan)

Minggu, 15 Desember 2019 - 19:15 WIB

Indigo Game Startup Incubation Dukung Pengembangan Ekosistem Game di Indonesia

Jakarta – Setelah diluncurkan pada September 2019 lalu, rangkaian kegiatan Indigo Game Startup Incubation yang diiniasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) secara resmi berakhir yang…

Dukung Industri Pariwisata, Wings Air Terbang dari Sorong ke Nabire

Minggu, 15 Desember 2019 - 18:00 WIB

Dukung Industri Pariwisata, Wings Air Terbang dari Sorong ke Nabire

Apa yang terlintas dibenak ketika mendengar Papua Barat? Mayoritas yang terpikir ialah nama Raja Ampat dengan surga bawah laut sebagai tujuan popular berwisata dari berbagai penjuru dunia.

Perum Jamkrindo tanam pohon di Ciletuh

Minggu, 15 Desember 2019 - 17:18 WIB

Jamkrindo Ikut Hijaukan Geopark Ciletuh

Sukabumi - Perum Jamkrindo ikut berpartisipasi menghijaukan kawasan Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark sebagai bagian upaya perusahaan dalam mendukung pelestarian alam. Program itu…

Agoda Tawarkan Kesempatan Menginap Gratis di Kereta Mewah Eksklusif

Minggu, 15 Desember 2019 - 17:00 WIB

Agoda Tawarkan Kesempatan Menginap Gratis di Kereta Mewah Eksklusif

Ikuti kontes terbaru Agoda! Agoda, salah satu platform perjalanan digital yang paling cepat berkembang dan berkantor pusat di Asia Tenggara, menawarkan warga Indonesia kesempatan menginap gratis…

Cek Toko Sebelah The Series musim ke-2

Minggu, 15 Desember 2019 - 16:54 WIB

HOOQ Mempersembahkan Musim Baru ‘Cek Toko Sebelah The Series’

HOOQ, meluncurkan musim kedua serial drama komedi segar Cek Toko Sebelah The Series. Konten original HOOQ yang bekerjasama dengan Starvision ini hadir penghujung tahun 2019 guna menghibur para…