INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perubahan iklim, pertumbuhan populasi perkotaan, serta meningkatnya kebutuhan akan efisiensi energi telah mendorong perlunya penataan ulang terhadap cara bangunan dirancang dan dioperasikan. Tanpa visi yang berkelanjutan, ruang hidup manusia tidak akan mampu memberikan dampak positif terhadap kualitas hidupnya. Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), wilayah perkotaan mengonsumsi 78% pasokan energi utama dan menghasilkan lebih dari 60% emisi gas rumah kaca global.

Menjawab tantangan tersebut, konsep Society 5.0 hadir sebagai visi masa depan di mana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data untuk mengatasi berbagai persoalan sosial sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia. Secara konseptual, Society 5.0 memiliki lima prinsip utama sebagai panduan implementasi lintas sektor, yaitu:

1. Automation and Human-Centered AI – menghadirkan teknologi pintar yang tetap menempatkan manusia di pusatnya.

2. Data-Driven Solutions – memanfaatkan data untuk mendorong efisiensi dan pengambilan keputusan yang lebih baik.

3. Sustainability and Green Innovation – mendukung upaya keberlanjutan melalui inovasi ramah lingkungan.

4. Inclusive Society – memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

5. Governance and Ethics – menerapkan tata kelola yang baik dan etis dalam penggunaan teknologi.

Dalam sektor bangunan, implementasi Society 5.0 tercermin melalui penerapan Sistem Otomasi Bangunan Terintegrasi (Integrated Building Automation System). Sistem ini memungkinkan efisiensi energi dan transparansi operasional bangunan secara penuh, sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah tanpa harus selalu bergantung pada platform analitik data yang kompleks.

“Integrated Building Automation System menghubungkan sistem HVAC (Heating, Ventilation, Air Conditioning), pencahayaan, listrik, keamanan, lift/escalator, energi, hingga manajemen air ke dalam satu platform terpusat yang saling terintegrasi. Dalam platform tersebut, bangunan tidak hanya menjadi struktur mati, namun telah menjadi sistem cerdas, responsif, terhubung, dan berdampak. Sehingga pengelolaan bangunan bisa berfokus pada kebutuhan manusia dan mengedepankan prinsip keberlanjutan," ujar Muhamad Muchsin, Sales Manager – Process Automation & Building Automation, Industrial Automation Department, PT Mitsubishi Electric Indonesia.

Melalui platform ini, pengelola bangunan dapat mengatur suhu ruangan berdasarkan jumlah okupansi dan pola pemanfaatan ruang. Penggunaan energi juga dapat dioptimalkan melalui penjadwalan pintar serta integrasi dengan energi terbarukan. Tak hanya itu, sirkulasi udara, kelembaban, dan kadar karbon dioksida dalam ruangan pun dapat dikontrol secara lebih efektif.

Sebagai mitra sekaligus penyedia teknologi yang mengusung visi Society 5.0, PT Mitsubishi Electric Indonesia aktif mendorong kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan. Salah satunya melalui seminar bertajuk ‘Realizing the Vision of Society 5.0 through Integrated Building Systems with Mitsubishi Electric Solutions’. Seminar ini bertujuan membahas studi kasus nyata implementasi Society 5.0 di sektor bangunan yang diharapkan bisa menjadi bahan diskusi lanjutan ke depannya.

Dalam konteks ini, bangunan bukan sekadar struktur fisik, tapi bagian dari ekosistem yang harus adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Mitsubishi Electric mendorong transformasi ini lewat integrated building automation solutions, redundant system, real-time energy monitoring, dan HVAC system.

Dalam konteks ini, bangunan bukan lagi sekadar struktur fisik, melainkan bagian dari ekosistem yang harus adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Mitsubishi Electric mendorong transformasi tersebut melalui berbagai solusi seperti integrated building automation solutions, redundant system, real-time energy monitoring, dan sistem HVAC.

Lebih jauh, kunci menuju bangunan net-zero di era Society 5.0 terletak pada peningkatan efisiensi energi. Dengan memanfaatkan analitik data real-time, bangunan dapat meminimalkan pemborosan, menekan emisi, dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, sehingga menjadikannya ekosistem yang cerdas dan berkelanjutan.

Salah satu contohnya adalah sistem air conditioning (AC) yang dapat dikendalikan melalui controller, baik untuk unit dalam ruangan (indoor unit) maupun unit luar ruangan (outdoor unit). Dengan konektivitas yang tinggi antar unit indoor, pengelola bahkan mampu mengontrol hingga dua ribu unit sekaligus.