INDUSTRY.co.id - Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mendesak PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selaku pemasok gas mencabut aturan batas harian dan surcharge yang dibebankan terhadap industri.
“Saya minta pemasok gas untuk mencabut aturan batas harian pasokan gas dan surcharge yang terlalau tinggi,” kata Ketua Umum Asaki Edy Suyanto di Jakarta (22/8).
Berdasarkan surat yang beredar, PGN memberlakukan kuota harian pasokan gas untuk industri penerima program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar 48%, selebihnya industri dikenakan surcharge sebesar 120%.
Menurut Edy, kondisi tersebut membuat sejumlah industri keramik nasional merana, bahkan berdasarkan laporan yang diterima Asaki sudah ada tiga pabrik keramik yang menghentikan proses produksinya dan merumahkan ratusan karyawan.
“Kami sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan kondisi gas hari ini, dimana ada dua perusahaan tableware yang berada di Tangerang dan Balaraja dan satu perusahaan ubin keramik di bogor dengan sangat terpaksa harus menghentikan proses produksinya dan merumahkan ratusan karyawannya,” tegasnya.
Dia mengatakan, dengan kondisi pemberlakuan kuota harian gas telah memaksa para pelaku industri keramik untuk tidak berani melakukan proses produksi.
“Industri keramik tidak memiliki pilihan, kami tidak memiliki energi substitusi. Gas adalah satu-satunya nyawa untuk industri keramik. Terbukti, begitu tekanan gasnya tidak normal, kita setop produksi. Kami tidak ada pilihan, tidak ada substitusinya,” ungkap Edy.
Oleh karena itu, Asaki berharap situasi krisis gas ini bisa segera diatasi dan kembali normal, serta tidak lagi dikenakan kuota harian guna keberlangsungan proses produksi industri keramik nasional.
“Industri tidak mungkin bisa merencanakan produksi dengan baik dengan kondisi kuota harian gas, enggak mungkin kami produksi pagi sorenya harus mematikan kilangnya. Industri keramik membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk mematikan tungku bakarnya dari 1200 derajat ke 0 derajat, sebaliknya untuk menghidupkan juga butuh waktu lebih dari 24 jam, mulai dari 0 derajat sampai 1100-1200 derajat. Jadi, ini membutuhkan proses,” paparnya.
Asaki mengharapkan kehadiran pemerintah untuk segera mencari solusi dan mengatasi permasalahan krisis gas yang saat ini tengah dialami sejumlah industri.
Selain itu, Asaki juga mengapresiasi dan berterima kasih kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selaku pembina industri yang telag cepat dan tanggap merespon kegelisahan dan membantu industri yang terdampak gangguan suplai gas.
“Harapan kami jangan sampai ada lagi perusahaan yang setop produksi, jangan sampai ada pembatasan pasokan gas harian dan surcharge yang tinggi,” harapnya.