INDUSTRY.co.id - Tangerang – Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief melakukan kunjungan ke PT Doulton dalam rangka monitoring dampak krisis pasokan gas bagi industri.

PT Douton merupakan salah satu anggota Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) yang memproduksi tableware, sekaligus perusahaan yang menerima manfaat program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Dalam kunjungan tersebut, Febri secara langsung menyaksikan proses produksi PT Doulton terutama proses produksi yang berkaitan dengan suplai gas berhenti beroperasi.

“Hari ini kami datang kesini (PT Doulton) dalam rangka memonitoring dampak dari krisis HGBT pada industri pengguna HGBT. Kami juga sudah menyaksikan secara langsung bagaimana proses produksi terutama proses produksi yang berkaitan dengan suplai gas itu berhenti beroperasi,” tegas Febri di Tangerang (22/8).

Selain itu, lanjutnya, PT Doulton juga dengan terpaksa merumahkan ratusan karyawan untuk beberapa hari kedepan akibat suplaai gas yang dibatasi oleh panyalur gas dalam hal ini PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

“Mereka (PT Doulton) juga sudah merumahkan karyawannya untuk beberapa hari kedepan,” katanya.

Menurutnya, ada yang janggal dan aneh dalam krisis gas kali ini, dimana pasokan gas untuk harga normal, harga diatas USD 15 per MMBTU stabil. Akan tetapi, mengapa pasokan untuk HGBT yang berharga USD 6,5 per MMBTU dibatasi. “Itu artinya, tidak ada masalah dalam produksi dan pasokan gas dari industri hulu gas nasional,” kata Febri.

Jubir Kemenperin juga mengklaim bahwa hingga saat ini pasokan gas pada industri masih belum aman dan stabil. Hal ini berbanding terbalik dengan penyataan PGN yang menyebut bahwa pasokan gas untuk sejumlah industri sudah baik dan stabil.

“Kami sampaikan, kami cek tadi mungkin pasokannya masih belum cukup aman dan stabil dari kacamata industri. Belum stabil dari sisi pasokan harian dan surcharge. Jika penggunaan gas harian itu dibatasi 70%, kami sepakat dengan industri bahwa itu membuktikan masalah pasokan gas bagi industri masih belum selesai,” papar Febri.

Dirinya mengatakan bahwa hasil monitoring ini akan dia sampaikan kepada Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. “Saya akan melaporkan hasil monitoring ini kepada Pak Menteri (Menperin) dan kami juga akaan memberikan beberapa rekomendasi untuk nantinya Pak Menteri lakukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur PT Doulton Gery mengungkapkan, kondisi memprihatinkan yang harus diterima oleh perusahaan dengan merumahkan ratusan karyawan sudah terjadi sejak terbitnya surat edaran dari PGN pada tanggal 15 Agustus 2025.

“Kondisi kita merumahkan 450 karyawan itu sejak menerima surat edaran dari PGN, kita terus monitor, ternyata sampai dengan dua hari setelah surat itu suplai gas yang masuk ke kita zero. Maka untuk melihat bisnis, kita memutuskan merumahkan karyawan dalam periode waktu tertentu sampai kita benar-benar mendapatkan kepastian suplai gas yang masuk ke kit aitu benar-benar stabil,” kata Gary.

Dirinya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang selalu memonitoring dampak dari pembatasan suplai gas untuk industri yang dilakukan oleh pihak penyalur gas.

“Jadi, kami membutuhkan pasokan gas yang berlanjut guna mendukung perintah Presiden Prabowo untuk subsidi gas bagi sektor industri.” Ungkapnya.

Gary berharap semiga krisis gas ini dapat diatasi dan cepat berakhir demi melindungi investasi, menjaga keberlangsungan proses produksi, dan juga menjaga lapangan kerja yang ada di sektor industri.