INDUSTRY.co.id - Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyebut bahwa memanasnya perang antara Israel dan Iran tidak berdampak signifikan terhadap kelangsungan industri keramik nasional. 

Advertisement

“Untuk sementara industri keramik nasional masih relatif aman. Perang Israel dan Iran sangat minim berdampak terhadap industri keramik nasional,” kata Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta (25/6).

Terkait rencana Iran menutup selat Hormuz, Edy menyampaikan bahwa penutupan tersebut akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dunia. 

Advertisement

“Penutupan selat Hormuz akan mempengaruhi harga minyak dunia, dan sekali lagi dampaknya sangat minim untuk industri keramik dalam negeri,” jelasnya.

Meski demikian, Asaki tetap memantau kondisi terkini dari situasi geopolitik yang saat ini tengah terjadi, dan meminta pemerintah untuk menerbitkan kebijakan pro industri.

Advertisement

Sebelumnya, Asaki meminta perhatian pemerintah terkait besaran presentase Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) yang semakin menurun baik di Jawa Bagian Barat maupun Timur. 

Menurut Edy, kebijakan tersebut telah menggerus daya saing industri keramik nasional, dimana industri harus berproduksi dengan rata-rata biaya gas naik menjadi lebih dari USD 8 MMBTU, artinya 15% lebih mahal dari kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Advertisement

Oleh karena itu, Asaki mendesak agar pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM turun langsung untuk menengahi masalah defisit pasokan gas, karena industri tidak mungkin bertumbuh tanpa kelancaran pasokan gas. 

“Ketidakpastian supply gas dan mahalnya harga surcharge atau regasifikasi tentunya merusak iklim investasi dan kepastian berusaha di Indonesia, sehingga menganggu road map industri keramik nasional,” tutup Edy.