INDUSTRY.co.id - Jakarta - Bidang hematologi dan onkologi dalam dunia medis, mengalami kemajuan yang signifikan selama beberapa periode terakhir. Terutama karena meningkatnya pemahaman mengenai proses mutasi sel-sel kanker serta berkembangnya targeted-agent (agen bertarget) non-kemoterapi.

Advertisement

Jika sebelumnya proses pengobatan kanker banyak yang mengandalkan kemoterapi, saat ini makin banyak jenis pengobatan yang lebih spesifik dalam menargetkan sel kanker, termasuk untuk kanker darah.

Dr Lee Yuh Shan, Konsultan Senior Hematologi di Parkway Cancer Centre, Singapura mengatakan kanker darah memiliki perbedaan dibandingkan dengan kanker lainnya. 

Advertisement

Seperti kanker paru-paru atau kanker payudara yang proses diagnosisnya didasarkan pada pemeriksaan foto rontgen atau CT Scan. 

"Diagnosis kanker darah menggunakan sampel cairan seperti sampel darah dan cairan sumsum tulang sehingga membutuhkan pemeriksaan yang lebih mendalam dan spesifik untuk masing-masing jenis kanker," kata Dr Lee Yuh Shan dalam bincang santai bersama media mengenai pengobatan Kanker Darah, Kamis (30/5/2024).

Advertisement

Selama sekian dekade, kemoterapi merupakan jenis pengobatan utama bagi kanker darah, memiliki efek samping yang berat terutama bagi pasien yang rentan seperti anak-anak dan pasien usia tua. Namun, setelah munculnya jenis pengobatan baru seperti agen bertarget, kemoterapi mulai ditinggalkan.

Menurut Dr Lee pengobatan bertarget ini pertama kali muncul sekitar 20 tahun yang lalu, dan saat ini perkembangannya pesat. Efek samping pengobatannya pun bisa lebih ditoleransi dibandingkan dengan kemoterapi konvensional.

Advertisement

Pengobatan bertarget akan lebih sedikit menyebabkan kerusakan sel normal serta memiliki tingkat kemanjuran pengobatan yang lebih tinggi. 

“Contohnya pada kasus lekuemia myeloid akut atau AML, kombinasi agen bertarget inhibitor FL3 dengan kemoterapi memiliki angka kelangsungan hidup 75%, dibandingkan dengan kelangsungan hidup pasien yang diberi kemoterapi konvensional saja yaitu 25%,” jelasnya. 

Salah satu jenis pengobatan bertarget yang digunakan untuk mengobati kanker darah terutama jenis leukemia dan limfoma agresif adalah terapi CAR-T cell. Terapi ini melibatkan modifikasi genetik dari sel-sel T pasien sehingga mampu mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker darah.

“Berbeda dengan transplantasi sel sumsum tulang yang menggunakan sel orang lain, kalau CAR-T cell berasal dari sel T pasien sendiri yang kemudian dimodifikasi secara genetik, lalu disuntikkan kembali ke tubuh pasien,” jelasnya. 

Namun, terapi CAR-T cell membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 minggu untuk proses pengambilan sampel hingga kembali ke pasien. Maka saat ini muncul modalitas imunoterapetik yakni antibodi bispesifik.

Antibodi bispesifik mampu mengenali antigen spesifik pada permukaan sel-sel kanker dan bekerja dengan menghubungkan sel-sel T dengan sel-sel kanker darah, sehingga sistem kekebalan tubuh mampu mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker tersebut.

Salah satu antibodi bispesifik pertama yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) untuk pengobatan leukemia limfoblastik akut (ALL) di beberapa kasus adalah Blinatumomab. 

Sementara itu, antibodi bispesifik terbaru untuk pengobatan kanker leukemia dan limfoma yang saat ini sedang dikembangkan salah satunya oleh Parkway Cancer Centre adalah Glofitamab dan Teclistamab.

Menurut Dr Lee, jenis pengobatan baru tersebut membawa harapan baru bagi pasien yang membutuhkan perjuangan dalam melawan kanker darah. 

Sebagian besar pengobatan jenis ini juga relatif lebih aman, dapat ditoleransi, dan bisa digunakan pada pasien-pasien usia lanjut yang mungkin menghindari kemoterapi. Apalagi proses tahapan pemberiannya pun makin awal, tidak lagi sebatas untuk pasien yang mengalami kekambuhan. 

"Terapi agen tertarget tersebut biasanya diberikan pada pasien-pasien yang relaps atau sakit berulang tetapi saat ini sudah bisa diberikan pada pasien yang positif terdeteksi kanker darah dengan tahap pemberian lebih awal,” tuturnya.

Dengan adanya kombinasi terapi pengobatan mulai dari kemoterapi, terapi tertarget dan imunoterapi, saat ini angka harapan hidup pasien semakin membaik.