INDUSTRY.co.id, Yogya - Ketua Panitia Pagelaran Seni yang sekaligus Ketua P3PKN Ridwan MD menegaskan pihaknya telah mempersiapkan kegiatan Promosi Pariwisata dan Kebudayaan Aceh di Bali dengan judul Pesona Aceh di Bali 2018.

Advertisement

"Promosi ini akan digelar selama tiga hari di bulan April 2018 di Discovery Mall Bali," ujar Ridwan MD, di Yogyakarta, Senin (31/7/2017).

Ridwan memaparkan, pada kegiatan promosi di Bali tersebut akan digelar Pameran Potensi Aceh, Kuliner Aceh, Pentas Seni Budaya Aceh, Lomba dan Workshop Batik Motif Aceh serta Talkshow Sejarah Aceh.

Advertisement

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuty M.Si dalam sambutannya saat membuka talkshow mengharapkan event promosi wisata dan kebudayaan Aceh bisa dilaksanakan di luar daerah Aceh. seperti Bali, Jogja, Lombok hingga ke mancanegara.

Promosi Pesona Aceh di Bali 2018, menurut Ridwan, merupakan langkah aktif P3PKN yang sejalan dengan masukan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara tersebut. Oleh karena itu, diharapkan seluruh Kabupaten/Kota di Aceh yang berjumlah 23 dapat berperan aktif dalam kegiatan promosi ini.

Advertisement

Selain itu, P3PKN juga menyiapkan road show pagelaran seni dan sejarah Aceh di beberapa kota rumpun Melayu dan kota dengan karakteristik yang sama dengan Aceh. Kota-kota tersebut adalah Pontianak, Riau, Padang dan Lombok. Roadshow ini dimulai pada bulan Februari 2018.

Sejarah Aceh yang dikemas dalam monolog teatrikal seperti yang dimainkan di Gedung Sapta Pesona Kemenpar dimainkan oleh Sanggar Rampoe UGM dan Gita Seurune. Judul "Tun Sri Lanang Sejarah Perekat Dua Bangsa" diambil karena peran penting Tun Sri Lanang dalam sejarah Aceh.

Advertisement

Tun Sri Lanang adalah salah satu raja di Aceh tepatnya di Samalanga, Bireun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang, Malaysia. Pada tahun 1613 setelah Sultan Iskandar Muda merebut Malaka dari Portugis, seluruh bangsawan Pahang dan rakyatnya dibawa ke Samalanga, Aceh.

Tun Sri Lanang selain seorang pujangga, budayawan juga negarawan. Dia memiliki karya berupa kitab Salalatuss Salatin. Sultan Iskandar Muda mengangkat dia sebagai Raja Kerajaan Samalanga Pertama setelah mengalami berbagai proses.

Sampai saat ini bukti sejarah peninggalan Tun Sri Lanang masih ada di Samalanga berupa Istana (Rumoh Krueng), makam, peninggalan benda-benda seperti Siwah dan benda sejarah lainnya masih berdiri dan tersimpan dengan baik. Peninggalan sejarah itu dirawat oleh keturunan Tun Sri Lanang yang ke-8 yaitu Dato’ Hj. Pocut Haslinda Syahrul.

Sumber: Kemenpar