INDUSTRY.co.id - Jakarta – Perlambatan perekonomian global sudah terlihat di depan mata. Sejumlah negara telah mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih kecil dari perkiraan, termasuk Indonesia. BahanaTCW Investment Management menilai perlunya pemerintah bersama otoritas moneter mengambillangkah segera untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kedepan.
Badan Pusat Statitik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) selama Juli-September 2023, tercatattumbuh 4,94% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini lebih rendah biladibandingkan kuartal dua yang tumbuh sebesar 5,17%. Sehingga secara akumulasi selama sembilan bulanpertama tahun ini, ekonomi Indonesia telah tumbuh sebesar 5,05%.
‘’Kedepan kami melihat perlunya menambah amunisi stimulus fiskal dan moneter,’’ ungkap Ekonom Bahana TCW, Emil Muhamad.Selasa (7/11/2023)
Respon kebijakan BLT El-nino serta pembebasan PPN bagi rumah di bawahRp 2 miliar, kami lihat akan mampu mendorong aktivitas perekonomian selama dua bulan terakhir tahun ini, tambahnya.
Langkah pemerintah yang sigap dalam merespon tanda-tanda perlambatan ekonomi yang mulai muncul kami nilai sangat tepat.
Sementara itu dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) perlu melonggarkan likuiditas melalui diskon girowajib minimum (GWM) serta menurunkan rasio penyangga likuiditas makroprudensial yang dapatmempermudah perbankan dalam menyalurkan kredit. Pelonggaran ini diharapkan mampu menjagamomentum pertumbuhan ekonomi hingga tahun depan.
Tantangan perekonomian dunia termasuk Indonesia tidaklah semakin mudah kedepan. Era suku bungatinggi secara global telah menurunkan daya beli masyarakat dan juga berdampak pada kinerja eksporIndonesia.
Tak heran bila pertumbuhan ekspor terhadap PDB domestik mulai memperlihatkan penurunan minus 4,26% secara tahunan. Bahkan rasio kontribusi ekspor terhadap PDB turun ke 21,3%, dariperiode yang sama tahun sebelumnya masih tercatat sebesar 25,5%.
Konsumsi rumah tangga yang selalu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan hanya tumbuh sebesar 5,06%, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar52,62%. Bandingkan dengan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 5,39%.
Hal ini terjadi di tengah masih lambatnya realisasi belanja pemerintah.Menurut anak usaha IFG ini, melemahnya konsumsi masyarakat dapat dibantu oleh penyaluran belanjanegara. Selama kuartal tiga tahun ini, belanja negara hanya tumbuh 1,75% secara tahunan.
Berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2023, belanja fiskal barumencapai 64,3% dari target APBN. Dengan kondisi tersebut, ruang stimulus fiskal masih cukup lebar untukdioptimalkan menjaga momentum pertumbuhan.
Ditengah bergejolaknya perekonomian global, investasi masih mampu mencatat kinerja positif yaknitumbuh sebesar 5,77% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 29,68%. Mengalami pertumbuhan yangbesar bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya tercatat sebesar 4,98%.
‘’Risiko perlambatan ekonomi global dapat menekan perekonomian Indonesia jika momentumpertumbuhan domestik tidak dijaga,’’ ungkap Emil. Indonesia tidak lagi membutuhkan suku bunga tinggibila nilai tukar Rupiah dapat terjaga stabil hingga akhir tahun. Sejalan dengan hal tersebut, percepatanbelanja fiskal pada sisa tahun ini sangat diperlukan untuk mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal tahun ini, tambah emil.