INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri otomotif optimis pasar mobil domestik mampu tembus 2 juta unit pada tahun 2030. Hal ini ditopang stabilnya pertumbuhan ekonomi, peluncuran model-model baru di segmen gemuk, dan masih rendahnya penetrasi mobil di Tanah Air.
Mobil di segmen A dan B dengan banderol di bawah Rp 300 juta akan memimpin pertumbuhan pasar hingga 2030, karena cocok dengan daya beli masyarakat Indonesia.
Tahun lalu, penjualan mobil domestik mencapai 1,013 juta unit, naik 18% dari tahun 2021. Sementara itu, ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) melejit 60% menjadi 473 ribu unit. Dengan demikian, total produksi mobil mencapai 1,4 juta unit.
Di sisi lain, pemerintah sempat menargetkan produksi mobil mencapai 2 juta unit tahun 2025. Dari jumlah itu, sebanyak 1,69 juta unit merupakan penjualan domestik, sedangkan sisanya diekspor.
Selanjutnya, tahun 2030, produksi mobil ditargetkan mencapai 3 juta unit. Saat itu, pasar domestik ditargetkan menembus 2 juta unit atau tepatnya 2,1 juta unit, sedangkan ekspor dibidik 900 ribu unit.
Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi mengatakan, Toyota optimistis menatap pasar mobil ke depan. Sebab, rasio kepemilikan mobil di Indonesia lebih rendah dibandingkan negara-negara pesaing.
Dirinya mencatat, tahun 2000-an, pasar mobil domestik hanya 300 ribu unit. Namun pada 2012, pasar mobil sudah menembus 1 juta unit.
Anton menyebut bahwa industri mobil nasional juga sanggup memacu ekspor. Di era 2000-an, ekspor mobil utuh sangat kecil, namun tahun lalu sudah mencapai 473 ribu unit. Artinya, produksi mobil tahun lalu sudah berkisar 1,4-1,5 juta unit.
"Saya melihat target produksi mobil 2 juta unit yang sempat disebut pemerintah bukan mustahil, karena ekspor juga cukup kuat. Contohnya, Toyota sudah mulai mengekspor All New Kijang Innova Zenix tahun ini ke beberapa negara dengan target 8.000 unit," kata Anton Jimmy Suwandi dalam workshop bertajuk "Tancap Gas Kejar Target Pasar Mobil 2 Juta Unit” yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Kamis (23/2/2023).

Sejauh ini, kata Anton, mobil di segmen A dan B dengan kapasitas mesin kecil, harga di bawah Rp 300 juta masih menjadi motor pertumbuhan penjualan. Kontribusi segmen ini terhadap total pasar mencapai 48%.
“Segmen ini perlu dikembangkan untuk mendongkrak pasar mobil. Di Toyota, mobil segmen A dan B menyumbangkan 70% penjualan," papar Anton.
Anton menambahkan, Toyota juga terus berupaya menghasilkan produk yang ramah lingkungan, dari sisi efisiensi bahan bakar dan emisi gas buang di semua pilihan powertrain. Sebagai contoh, konsumsi bahan bakar Zenix bensin kini bisa mencapai 1 liter per 15 kilometer (kpl), membaik dibandingkan generasi sebelumnya 1 kpl.
Dia menambahkan, Toyota juga memasukkan pilihan mobil elektrifikasi untuk konsumen, mulai dari hybrid electric vehicle (HEV), plug in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV).
“Intinya kami menyasar ke seluruh segmen dengan menyediakan line up produk lengkap," tegasnya.
Dikesempatan yang sama, Kasubdit Industri Alat Transportasi Darat Ditjen IMATAP Kementerian Perindustrian Dodiet Prasetyo menyatakan, industri otomotif tumbuh 10,67% tahun lalu. Angka tersebut di atas laju ekonomi 5,3% dan industri 5,01%. Jumlah ini juga di atas rata-rata pertumbuhan industri mobil dunia 3,1%.
Dia memastikan, kapasitas produksi mobil nasional sebanyak 2,3 juta unit per tahun sanggup menopang penjualan mobil 2 juta unit.
Dalam konteks ini, lanjutnya, Kemenperin terus mendorong terciptanya iklim usaha yang baik dengan menerbitkan regulasi mendukung penjualan mobil 2 juta unit.
Tahun lalu, dia menyatakan, produksi mobil 1,4-1,6 juta unit, terdiri atas penjualan domestik 1 juta unit dan ekspor 478 ribu unit. Adapun tahun ini, produksi mobil dibik 1,6 juta unit. Dengan demikian, dibutuhkan tambahan produksi 400 ribu unit untuk mencapai target produksi 2 juta unit.
Dodiet menyebut, rasio kepemilikan mobil di Indonesia sangat rendah, yakni 99 per 1.000 orang. Artinya, pasar mobil ke depan masih berpotensi tumbuh kencang.
"Pemerintah bisa melakukan intervensi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan mobil. Pemerintah juga mendorong peralihan mobil dari ICE ke elektrifikasi," tegas dia.
Sejauh ini, dia menyatakan, pemerintah baru menetapkan target kuantitatif BEV, yakni 400 ribu unit tahun 2025, 600 ribu unit tahun 2030, dan 1 juta unit tahun 2035 dalam Permenperin 6 Tahun 2022.
"Kemenperin berharap baterai yang diproduksi di Indonesia bisa digunakan untuk mobil PHEV dan HEV," kata dia.
Sementara itu, Pengamat otomotif LPEM UI Riyanto menyatakan, pasar mobil domestik berpotensi besar menembus 2 juta unit tahun 2030. Syaratnya, pertumbuhan ekonomi mencapai 5% per tahun dan populasi 1% sepanjang 2023-2030.
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar itu, dia menyatakan, PDB per kapita Indonesia mencapai USD 6.500 pada 2030, dibandingkan tahun lalu USD 4.783 tahun 2022. Selanjutnya, rasio kepemilikan mobil pada tahun 2030 mencapai satu unit per 150 penduduk.
Jika semua syarat itu terpenuhi, pasar mobil akan mencapai 2,1 juta unit tahun 2030, di luar faktor mikro, seperti perubahan preferensi masyarakat yang bisa saja lebih memilih memakai transportasi umum atau angkutan online.
"Kemudian, bisa saja generasi muda nantinya lebih memilih investasi ketimbang membeli mobil," tegas dia.
Dia menambahkan, untuk mencapai penjualan mobil 2,1 juta unit, mau tak mau mobil segmen A dan B harus digenjot. Namun, segmen ini sangat elastis terhadap harga jual. Oleh sebab itu, dibutuhkan stimulus untuk merangsang penjualan.
"Kalau harga mobil segmen A dan B turun 1%, demand bisa naik 3,5%. Jadi, kalau harga turun 10%, permintaan bisa melejit 35%. Intinya, segmen ini ada ruang untuk dibesarkan," tuturnya.

Direktur Operasional PT Toyota Astra Financial Services (TAF) Devy Santoso menyatakan, industri pembiayaan terkait erat dengan pergerakan pasar mobil. Sebab, sebesar 43% pembiayaan konsumsi disumbangkan pembiayaan mobil baru.
Dia menyatakan, industri pembiayaan kini dihadapkan pada beberapa tantangan, terutama kenaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Oleh sebab itu, dia berharap pemerintah bisa menahan BI7DRR di level saat ini, sebesar 4,75%.
“Dalam kondisi seperti ini, kami mengeluarkan paket-paket kredit menarik untuk menarik orang membeli mobil sehingga diharapkan dapat memacu pasar secara keseluruhan," tutupnya.