INDUSTRY.co.id - Jakarta- Dalam wawancara yang diinisiasi Oxford Business Group baru-baru ini, Niko Safavi selaku Presiden Direktur dan CEO PT Mowilex Indonesia mengungkapkan bahwa beberapa produsen cat dan pelapis dalam negeri mulai menyelaraskan kegiatan bisnis mereka agar sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan dan menciptakan keberlanjutan di Indonesia.

Advertisement

Niko mengatakan bahwa pabrik seharusnya tak boleh lagi menggunakan timbal (lead) dalam memproduksi cat karena bahan baku tersebut sangatlah berbahaya. Timbal merupakan bahan baku beracun yang telah mencemari lingkungan di berbagai negara Asia dan Afrika. Bahan baku ini juga disebut sebagai salah satu yang paling berbahaya selain merkuri dan formaldehida.

 “Menghilangkan timbal dalam produksi cat hanya akan menambah biaya bahan baku sekitar 3%. Sayangnya, belum ada regulasi yang melarang penggunaan timbal. Apabila kita terus menggunakan timbal, Indonesia akan mengalami kerugian ekonomi sebesar 3% dari PDB, atau sekitar US$40 miliar. Kerugian ini justru tidak sebanding dengan nilai industri cat Indonesia. Langkah kecil ini tentunya akan membawa dampak positif yang signifikan bagi lingkungan, “ujar Niko.

Advertisement

Niko juga mengungkapkan bahwa kemasan merupakan satu aspek yang sangat tidak ramah lingkungan. Apalagi, banyak produsen cat yang telah mengganti kemasan kaleng dengan plastik. Masalah ini semakin parah karena jumlah fasilitas daur ulang plastik di Indonesia masih dapat dihitung jari.

Selain penegakan hukum yang lebih ketat, Niko mengatakan bahwa pemberian sertifikasi dapat mendorong seluruh produsen cat di Indonesia untuk menerapkan praktik bisnis yang ramah lingkungan secara sungguh-sungguh dan tak hanya sekadar iklan saja.

Advertisement

Meskipun demikian, Niko memiliki pandangan optimis terhadap para produsen cat yang kini mulai menerapkan praktik bisnis dan proses manufaktur yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. “Sejumlah perusahaan cat terkemuka telah melakukan berbagai inisiatif untuk memenuhi standar pemerintah dalam hal carbon neutrality, menjaga kebersihan udara dan air, serta penggunaan kendaraan listrik,” ujar Niko.

Marc-André de Blois, Director of PR and Video Content, OBG mengatakan bahwa industri manufaktur Indonesia sudah mencapai banyak kemajuan dalam upaya pelestarian lingkungan dan menciptakan keberlanjutan serta menghadirkan berbagai solusi baru untuk masa depan yang lebih hijau.

Advertisement

“Dari video wawancara kami dengan Niko, kami menemukan bahwa sudah banyak perusahaan manufaktur Indonesia yang semakin memprioritaskan aspek ESG dalam berbisnis. Kami meyakini bahwa mengutamakan aspek ESG akan memberikan manfaat yang menyeluruh dan menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan industri, menarik perhatian investor, dan memenuhi permintaan konsumen yang semakin banyak.”