INDUSTRY.co.id, Cianjur-Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan jumlah korban bertambah setelah dilakukan pendataan ulang, ketika sekitar 265 korban gempa yang meninggal tidak dilaporkan namun langsung dimakamkan oleh keluarganya.
"Banyak yang tidak melaporkan anggota keluarganya yang meninggal akibat gempa, setelah dilakukan pendataan ulang jumlahnya mencapai 600 orang yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Pacet, Cugenang, Cianjur dan Warungkondang," katanya di Cianjur Senin (12/12). Per 12 Desember 2022, jumlah rumah rusak akibat gempa Cianjur mencapai 56.480 unit yang teriri dari 13.633 rumah rusak berat, 16.059 rumah rusak sedang dan 26.856 rumah rusak ringan.
Perkumpulan Alumni Atma Jaya Jakarta (Perluni-UAJ) menyelesaikan misi kemanusiaan pertolongan pertama bagi korban gempa Cianjur pada 12 Desember 2022. Keberlanjutan belarasa untuk korban akan diwujudkan dalam beberapa aktivitas pengabdian masyarakat yang diselaraskan dengan program pengabdian masyarakat Unika Atma Jaya. Selama di Cianjur, Komunitas Atma Jaya Jakarta bergabung ke dalam tim kolaborasi Pos Layanan Kemanusiaan St. Petrus Cianjur.
Perluni-UAJ menegaskan bahwa kunci efektivitas misi kemanusiaan untuk korban bencana alam adalah kesiapsiagaan dan komitmen. Perluni-UAJ mendemonstrasikan kesiapsiagaan dengan hadir berkordinasi di Gereja St.Petrus Cianjur pada hari pertama gempa (21/11) dan tim relawan sudah hadir di tenda pengungsian korban gempa pada keesokan hari (22/11). Komitmen ditunjukkan aktivitas harian belasan relawan Komunitas Atma Jaya Jakarta hadir fisik membantu korban gempa di titik pengungsian dari tanggal 22 November sampai dengan 12 Desember 2022.
“Kita tidak pernah tahu pasti kapan bencana alam akan terjadi, tetapi kita harus bersiap. Begitu banyak nyawa tidak perlu hilang, banyak penderitaan tidak perlu terjadi dan banyak dampak buruk kehidupan sosial yang dapat dihindari, seandainya ada kesiapsiagaan yang baik. Kesiapsiagaan itu harus dilengkapi komitmen jangka waktu yang cukup sampai korban stabil untuk survive. Puji syukur bahwa Komunitas Atma Jaya Jakarta punya keduanya.” kata Michell Suharli, Ketua Perluni-UAJ di Pondok Pesantren Al-Mutamainah, Kampung Sarampad, Cianjur (11/12).
Haji Dede Pemilik Pondok Pesantren AL – Muthmainnah, Kampung Sarampad, Cugenang Cianjur memuji kesiapsiagaan para relawan. Beliau mengucapkan "Alhamdulilah. Terima kasih kepada relawan dari Gereja Santo Petrus yang sejak hari pertama gempa, tim medis sudah hadir menolong warga di sini. Korban tertua usia 95 tahun, beliau mendapat banyak jahitan dari tim medis yang dipimpin dr. Juanli dan bisa diselamatkan.”
Haji Dede menerima langsung tambahan 4 tenda besar berkapasitas 60-80 orang dari Komunitas Atma Jaya Jakarta yang akan dipergunakan untuk para santri mengaji dan belajar kembali. Komunitas Atma Jaya juga menyalurkan 7 tenda ukuran sama ke berbagai daerah terdampak bencana lain. Di samping itu, diserahkan juga ratusan ember, lampu darurat, terpal, matras, obat-obatan, makanan, minuman dan berbagai keperluan korban di tenda pengungsian.
Sementara itu Agustinus Prajaka Wakil Rektor UNIKA Atma Jaya menyampaikan apresiasi atas peran alumni sebagai motor tim belarasa peduli korban gempa Cianjur. “Perluni-UAJ semakin menunjukkan peran sebagai alumni yang relevan dan berdampak, dalam kesiapsiagaannya merespon bencana gempa di Cianjur: dari sejak awal Kloter 1 tanggal 22 Nov 2022 sampai dengan kloter 5 di tanggal 12 Desember 2022.”, kata Prajaka.
Prajaka juga menyampaikan terima kasih atas sinergi yang sangat kolaboratif biro dan unit pendukung internal Atma Jaya (BKAK, BPPS, BAK, Biro Marketing), serta koordinasi BEM KM UAJ dengan para ormawa di level Universitas dan fakultas (Medisar, KSR, Menwa, UPM dan ormawa lain). Termasuk dengan pihak eksternal, seperti RS Carolus, Pemuda Katolik, Orang Muda Katolik (OMK), Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Wanita Katolik Republik Indonesia, Perdaki Jawa Barat, SFS Sukabumi, Yayasan Kasih Bangsa, LDD-KAJ, Caritas Indonesia, OSIS SMA Mardi Yuana Cianjur, Seminari Tinggi St.Petrus Paulus, ORARI, Serikat Puteri Kasih, Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BNPB menyampaikan apresiasi bagi relawan yang terlibat dalam penanganan Gempa Cianjur. Direktur Kesigapan BNPB Pangarso Suryotomo menjelaskan bahwa hadirnya relawan dari Cianjur maupun luar Cianjur sangat membantu dalam penanganan bencana. “BNPB mendata hingga kini sudah terdata sekitar 10 ribu relawan yang telah berkontribusi dalam penanganan Cianjur. Setiap harinya yang bergerak sekitar 4 ribuan dengan berbagai klaster sesuai kemampuan relawan masing-masing.”, kata Pangarso di Pendopo Bupati Cianjur.
Sejak hari pertama gempa, Bendahara Umum Perkumpulan Alumni Atma Jaya Jakarta (Perluni-UAJ) Irene Sinurat berada di Gereja Santo Petrus Cianjur. Selanjutnya Irene bertugas sebagai sekretaris umum yang bertugas berhubungan dengan instansi pemerintah agar aktvitas di pos terupdate dan terkordinasi. Kordinasi ini menjadi vital untuk kelancaran penyaluran donasi dan kegiatan membantu korban gempa. Pangarso menilai kolaborasi baik terjadi antara relawan Cianjur dan relawan luar Cianjur, terutama pemahaman lokasi dan adat kebiasaan setempat, sehingga mengurangi kesalahpahaman dengan warga lokal.
Perluni-UAJ memimpin 5 (lima) kloter keberangkatan relawan dari Komunitas Atma Jaya Jakarta untuk belarasa terhadap korban gempa Cianjur. Kelimanya yaitu Kloter 1 (23-27 Nov), Kloter 2 (27 Nov – 01 Des), Kloter 3 (01-04 Des), Kloter 4 (04-08 Des) dan Kloter 5 (08-12 Des). Relawan itu bergabung dengan Posko Layanan Kemanusiaan St Petrus Cianjur, yang dipimpin oleh Pastor RP Bonefasius Budiman, OFM dan Pastor Gabriel Maing, OFM. Gereja Katolik yang dibangun tahun 1931 ini beralamat di Jalan Siliwangi Nomor 66 Cianjur. Fokus tim adalah korban dari warga paroki Cianjur, masyarakat sekitar gereja, korban yang belum mendapat tenda pengungsian dan korban yang terdampak berat.