INDUSTRY.co.id - Washington DC – Pada hari kedua pertemuan tahunan musim semi (spring meetings) IMF – World Bank, Menteri Keuangan dan jajaran hadir pada 5 kegiatan, yaitu Joint G20 Finance and Agriculture Ministers’ Meeting (JFAMM), pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen, Seminar Capital Adequacy Framework (CAF), launching buku “Keeping Indonesia Safe from the Covid-19 Pandemic: Lesson Learnt from the National Economic Recovery Program”, dan pertemuan informal Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors’ Meeting/AFMGM).
Dalam perhelatan JFAMM, para Menteri Keuangan dan Pertanian G20 berkumpul untuk menindaklanjuti hasil pertemuan Deputi Keuangan dan Pertanian G20 terkait permasalahan ketahanan pangan dunia. Permasalahan ketahanan pangan telah menjadi perhatian forum G20, sejak Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) ketiga pada Juli 2022 lalu.
“Presidensi G20 Indonesia telah menegaskan kembali komitmennya untuk menggunakan semua perangkat kebijakan yang tepat untuk mengatasi tantangan ekonomi dan keuangan saat ini, termasuk risiko kerawanan pangan. G20 siap untuk mengambil tindakan kolektif yang cepat tentang ketahanan pangan dan gizi, termasuk dengan bekerja sama dengan inisiatif lain,” ungkap Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati yang dikutip INDUSTRY.co.id, Kamis (13/10/2022).
Pertemuan JFAMM pertama ini menjadi dasar koordinasi erat yang diperlukan di masa depan untuk menentukan cara terbaik dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan. Di hari yang sama, Indonesia yang menjadi Presidensi G20 saat ini bersama dengan Center for Global Development juga menggelar konferensi bertemakan “Peningkatan Peran dan Kapasitas Bank Pembangunan Multilateral (Multilateral Development Banks/MDB) dalam Pembiayaan Pembangunan”.
Konferensi ini bertujuan untuk mendiskusikan dampak dari rekomendasi hasil analisis/review laporan kajian tingkat kecukupan modal Capital Adequacy Framework/CAF) dari MDB. Review ini dilaksanakan sesuai mandat dari para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral anggota G20 yang sepakat membentuk Independent Panel on CAF Review.
Presidensi G20 Indonesia memberikan dukungan penuh untuk pelaksanaan kajian dan review CAF tersebut. Hasil review memuat sejumlah poin penting antara lain: (i) memberikan tolok ukur yang kredibel dan transparan mengenai tata cara evaluasi CAF Modal dari MDB; (ii) memungkinkan pemegang saham, MDB dan Credit Rating Agencies (CRA) untuk mengembangkan pemahaman yang konsisten tentang CAF dari MDB; (iii) memungkinkan pemegang saham untuk mempertimbangkan kemungkinan adaptasi terhadap kerangka kerja saat ini untuk memaksimalkan kapasitas pembiayaan MDB.
Dalam keynotenya, Menkeu menyampaikan bahwa negara-negara di dunia membutuhkan dukungan untuk pemulihan ekonomi dari krisis pandemic dan krisis pangan dan energi saat ini. Peran MDBs menjadi sangat kritikal. Oleh karenanya laporan Kerangka Kecukupan Modal sangat tepat waktu dan merupakan salah satu solusi yang tepat yang dapat membantu mengoptimalkan neraca pembiayaan MDB.
Agenda selanjutnya, Kementerian Keuangan mengadakan peluncuran buku “Keeping Indonesia Safe from The Covid-19 Pandemic: Lessons Learnt from The National Economic Recovery Programme”. Buku ini merupakan buku yang berisi asesmen dampak pandemi dan evaluasi efektivitas stabilisasi fiskal (PEN) di tengan pandemi global sejak tahun 2020. Buku ini ditulis oleh pembuat kebijakan dan analis independen yang membahas terkait dampak kebijakan dan outcomenya seperti yang tertuang dalam beberapa survey dan studi mandiri.
Kementerian Keuangan Indonesia di akhir tahun 2021 menginisiasi upaya mendokumentasikan bagaimana Indonesia selama periode pandemi dan diterbitkan bersama dengan the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapura.
“Buku ini menyajikan pembaca berbagai pelajaran tentang bagaimana Indonesia menavigasi arah kebijakan selama dua tahun pertama periode pandemi. Kami berharap dengan menyampaikan cerita tersebut melalui publikasi dalam bentuk buku, kami berkontribusi untuk mendokumentasikan pengetahuan dan bertukar pengalaman sebagai upaya bersama untuk melanjutkan pemulihan bersama dan lebih kuat”, ujar Menkeu.
Dalam agenda pertemuan bilateral, Menteri Keuangan bertemu dengan US Secretary of Treasury, Janet Yellen. Pada pertemuan tersebut, Menkeu menyampaikan tantangan ekonomi saat ini dan pentingnya koordinasi dan kerjasama multilateral. Dengan kolaborasi antar negara, koordinasi kebijakan dapat membantu mencegah krisis dan konflik serta meningkatkan outcome. Diskusi juga membahas isu – isu seputar ekonomi global seperti ketahanan pangan dan energi, pembiayaan iklim, dan mekanisme transisi energi. Pada kesempatan tersebut, kedua pihak juga mendiskusikan peluang investasi di Indonesia khususnya pada investasi hijau dan infrastruktur hijau.
Menteri Keuangan RI juga mengundang para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ke dalam pertemuan informal dan mendiskusikan agenda terkait ASEAN Finance Ministers and Governors Meeting (AFMGM). Pertemuan ini merupakan kesempatan bagi seluruh negara Kawasan untuk berbagi agenda prioritas yang diusulkan Indonesia untuk Keketuaan ASEAN tahun 2023.
“Saya yakin pertemuan itu akan membantu memastikan transisi yang mulus dari Kamboja ke Indonesia dan berharga untuk mengidentifikasi setiap kegiatan pembangunan 2022 yang berpotensi dibawa ke 2023. Tahun depan, Indonesia melalui jalur keuangan di bawah Pilar Ekonomi akan mengajukan tiga agenda strategis, yaitu pemulihan dan pembangunan kembali (recovery-rebuilding), ekonomi digital (digital economy), dan keberlanjutan (sustainability). “Indonesia akan terus memperkuat kerja sama dalam agenda sektor keuangan menuju tujuan regional kita sebagaimana tertuang dalam Cetak Biru 2025, dan kita juga akan bekerja sama untuk menjawab tantangan regional dan global saat ini”, tutup Menkeu.