Jababeka Berikan Kiat Siasati Masalah Disrupsi Rantai Pasok Pangan

Oleh : Ridwan | Kamis, 06 Oktober 2022 - 20:00 WIB

Founder and Chairman PT Jababeka Tbk, S.D. Darmon bersama Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman saat webinar "A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’,
Founder and Chairman PT Jababeka Tbk, S.D. Darmon bersama Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman saat webinar "A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’,

INDUSTRY.co.id

Cikarang - Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) merupakan sebuah bentuk kerja sama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Australia. Dengan hadirnya IA-CEPA kini, Indonesia dan Australia semakin mudah bekerja sama dalam meningkatkan aktivitas ekonomi masing-masing negara.

Dalam masalah disrupsi supply chain produk pertanian akibat pemanasan global dan perubahan iklim serta akibat persoalan geopolitik, PT Jababeka Tbk. sebagai pengembang kota mandiri mendorong adanya kerja sama konkret antar Indonesia dengan Australia untuk menyiasati masalah disrupsi food supply chain saat ini. 

Hal itu karena Founder and Chairman PT Jababeka Tbk, S.D. Darmono menilai Australia dan Indonesia memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Di mana Indonesia memiliki pasar yang besar dengan total 250 juta populasi sedangkan Australia memiliki teknologi, inovasi, akses kapital dan akses ke market dunia. 

Pembahasan lengkap mengenai solusi dibahas melalui webinar "A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’, dan disiarkan langsung melalui zoom di President Lounge, pada Senin (5/9) lalu.

Darmono, begitu ia biasa disapa menyampaikan bahwa kerja sama bisa memanfaatkan lahan yang belum digunakan Indonesia dan Australia dalam bentuk kerja sama joint venture. Tujuannya, memperlihatkan ke dunia bahwa Indonesia-Australia bisa berkontribusi terhadap permasalahan rantai pasok pangan.

“Kita bisa dengan open source di KEK Tanjung Lesung (di Banten) seluas 1500 hektar, di mana banyak orang berdatangan. Kita punya hotel, golf course, marina juga sedang dibangun. Ini merupakan tempat orang bisa datang dan relaks. Selain itu, secara geografis sangat strategis karena berdekatan dengan selat sunda yang menjadi jalur perdagangan. Kita bisa mulai dari sana dalam upaya menjalankan proyek agrobisnis,” terang Darmono.

Atau, tambah Darmono, juga bisa melalui KEK Morotai, Maluku Utara. Dengan luas 1.101,76 hektar, KEK Morotai punya potensi di perikanan, yaitu ikan tuna, cakalang, tongkol dan udang vaname dan budidaya rumput laut. 

Selain itu, KEK Morotai memiliki potensi pertanian (agrobisnis) dan sumber daya alam, seperti seperti batu bara, emas, mangan, dan nikel serta berada di lokasinya strategis yaitu jalur perdagangan antar negara dan benua yang dekat dengan Australia. 

Seperti apa gambaran potensi pertanian di Pulau Morotai? Daerah yang dikenal sebagai hasil pertaniannya ini memiliki empat lima komoditas unggulan, yaitu kelapa, cengkih, pala, padi dan kakao. Untuk luas padi sawah 1.450 hektar (BPS:2016), dengan luas panen padi di Pulau Morotai mencapai sekitar 1.249 hektar dengan produksi padi 4.048 ton. 

Sementara untuk komoditas kelapa, sudah mulai digarap oleh investor dari Jepang termasuk pelatihan-pelatihan untuk masyarakat lokal. Tujuannya, untuk menghasilkan produk-produk bernilai tinggi di pasaran internasional.

“Kita tinggal start dengan merumuskan konsep dan plan untuk bekerja sama. Juga, kita harus punya mimpi bersama dengan investor Australia mengenai kerja sama (food) supply chain ini," kata Darmono di webinar yang diikuti lebih dari 100 orang ini.

Adhi Lukman selaku Chairman GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia) menambahkan bahwa Indonesia bukan hanya membutuhkan investor dari Australia datang ke Indonesia, tetapi Indonesia butuh partner strategis untuk membuat bersama-sama produk yang punya added value sekaligus juga membangun ekosistem makanan end to end. Mulai dari bahan mentah, teknologi hingga ekosistemnya agar harga terjangkau dan kompetitif harganya untuk rantai pasok global.

Tujuannya, untuk perkembangan ekonomi bagi Indonesia dan Australia serta hubungan bisnis yang berkelanjutan. Sebab, industri agro seperti industri makanan dan minuman serta pertanian demand dari Indonesia sangat tinggi. Dengan populasi masyarakat Indonesia yang besar dan Gross Domestic Product (GDP) yang tinggi, maka permintaan F & B juga naik secara signifikan. 

“Adapun bidang-bidang yang bisa dikerjasamakan antara Indonesia dengan Australia ialah makananan pertanian (agro food), pendidikan, seperti food innovation center,“ kata Yonathan Wijaya selaku Direktur Perdagangan dan Investasi untuk Indonesia dari Australian Trade and Investment Commission (Austrade).

Yonathan menambahkan bahwa pihak Australia menaruh minat ekspor atas kebutuhan masyarakat Indonesia yang makin meningkat. 

Tetapi, Yonathan menekankan bahwa Australia tidak bisa memenuhi semua bidang untuk bekerja sama dengan Indonesia. 

Menurut Yonathan, pihak Indonesia perlu meningkatkan kapabilitas dan melakukan adjustment yang perlu dilakukan agar kerja sama antara Indonesia dan Australia terjalin komprehensif.

Solusi atas kondisi tersebut, SD Darmono menerangkan bahwa perlunya edukasi dan inovasi dalam regulasi dari pemerintahan kedua negara. Hal itu untuk mempermudah sharing knowledge, investasi, kerja sama hingga mudah menjalankan proyek. 

Dengan hadirnya kemudahan regulasi, maka kedua negara bisa mengatasi permasalahan kendala mengenai kerja sama dan persoalan rantai pasok ketahanan pangan.

“Edukasi masyarakat tanpa praktek sama aja teori. Oleh karenanya, posisi Jababeka, kita coba memanfaatkan lahan yang belum terpakai di Indonesia dengan Kawasan Ekonomi Khusus (yaitu KEK Tanjung Lesung dan Morotai, Kendal), dengan investor, bangun infrastruktur dan bekerja sama pemerintahan lokal. Untuk itu, kita bisa bekerja sama lewat akademi, penggunaan lahan-lahan  dan melakukan pemberdayaan masyarakat,” kata Darmono

“Kami (di Indonesia) memiliki land yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan profitability. Tapi, kita harus juga bisa create the market. Untuk itu, kami terbuka untuk open source, siap membuka diskusi mengenai teknologi dan bidang lain-lain untuk investor Australia datang ke Indonesia dalam memanfaatkan land untuk mengembangkan lokal dan global market. Kita bisa lakukan dengan perlahan, tapi butuh kesabaran. Pertama, mulai dengan langkah kecil dan perlahan kita akan berkembang bersama,” tambah penulis buku Building a Ship While Sailing ini. 

Menurut Darmono, proyek joint venture antara Indonesia dengan Australia perlu disegerakan karena problem pemanasan global dan perubahan iklim merupakan masalah dunia, serta persoalan makanan merupakan tentang bertahan hidup. Artinya, jika kerja sama tidak dilakukan sekarang, maka generasi selanjutnya akan merasakan dampaknya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Prof Satyanegara diangkat sebagai MWA dan dihadiri SD Darmono pendiri Jababeka di President University

Jumat, 01 Maret 2024 - 19:47 WIB

Fakultas Kedokteran, President University, Angkat Prof. Satyanegara sebagai Ketua Wali Amanat

President University secara resmi mengangkat Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS (K) sebagai Chairman of the Board of Trustees atau Ketua Wali Amanat Fakultas Kedokteran. Prosesi pengangkatan dilakukan…

Menteri Basuki Dampingi Presiden Jokowi Resmikan 10 Ruas Inpres Jalan Daerah di Kalimantan Timur Senilai Rp561 Miliar.

Jumat, 01 Maret 2024 - 19:25 WIB

Menteri Basuki Dampingi Presiden Jokowi Resmikan 10 Ruas Inpres Jalan Daerah di Kalimantan Timur Senilai Rp561 Miliar.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan perbaikan 10 ruas jalan dan 1 jembatan di Kalimantan Timur yang dilaksanakan…

Presiden Jokowi Lakukan Topping-Off Hunian ASN-Hankam di IKN

Jumat, 01 Maret 2024 - 19:18 WIB

Presiden Jokowi Lakukan Topping-Off Hunian ASN-Hankam di IKN

Menter Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan Topping Off Hunian ASN dan Hankam di IKN, Penajam Paser Utara, Kalimantan…

Diskusi Mengenai Obesitas dan Pemahaman Ilmiahnya pada Hari Obesitas Sedunia

Jumat, 01 Maret 2024 - 18:09 WIB

Cegah miskonsepsi, Novo Nordisk Indonesia Dorong Diskusi Mengenai Obesitas dan Pemahaman Ilmiahnya pada Hari Obesitas Sedunia

Obesitas dan obesitas sentral merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengkhawatirkan di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018, prevalensi obesitas di kalangan…

Presiden Jokowi (ist)

Jumat, 01 Maret 2024 - 17:30 WIB

Dahsyat! IKN Magnet Baru Investasi, Jokowi: Yang Antre Banyak...

Ibu Kota Negara (IKN) tengah menjadi incaran para investor. Bak gadis cantik, investor rela antre untuk menanamkan modalnya di IKN. “Yang antre ini banyak, hanya mengatur di mana lahan yang…