INDUSTRY.co.id - Peluang pasar ekspor untuk komoditas lada hitam dari Indonesia punya cukup prospektif ke depannya, karena diminati pasar global.

Advertisement

Keunggulan komparatif rempah khas Nusantara itu adalah memiliki aroma lebih pedas sehingga membuat komoditas tersebut mempunyai keunikan dibanding produk serupa dari negara lain.

Pada perhelatan puncak Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Lagawi Fest di Pulau Tegal Mas, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara resmi meluncurkan Desa Devisa Lada Hitam di Kabupaten Lampung Timur. Lada Hitam Lampung memiliki reputasi yang baik di pasar domestik dan internasional.

Advertisement

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, ekspor lada hitam Lampung atau dikenal sebagai Lampung black pepper mampu menembus angka 39.961 ton ke negara-negara seperti India, Kenya, Australia dan Jerman. Saat ini, sentra lada hitam yang paling besar ada di Kabupaten Lampung Timur dengan 500 lebih petani di enam desa.

Keenam desa tersebut, yaitu Sukadana Baru, Catur Swako, Tanjung Harapan, Negeri Katon, Putra Aji Dua dan Surya Mataram. Terdapat sebanyak 505 orang petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) Cahaya Baru dan 80 orang di antaranya merupakan petani perempuan.

Advertisement

Desa Devisa Klaster Lada Hitam merupakan kolaborasi antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank dengan Kementerian Perindustrian RI. Proyek kolaborasi ini merupakan tindaklanjut dari Nota Kesepahaman tentang Pengembangan Industri Kecil dan Industri Menengah Berorientasi Ekspor yang telah ditandatangani oleh LPEI dengan Kemenperin pada tanggal 30 Mei 2022 lalu guna meningkatkan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor dan mengembangkan potensi wilayahnya.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, pihaknya sudah memiliki program Desa Devisa yang bekerjasama dengan LPEI dan ini sebagai percontohan.

Advertisement

"Kami bekerjasama dengan Kabupaten Lampung Timur dengan komoditas pilihannya adalah lada hitam. Kami akan segera melakukan penetrasi pasar-pasar ekspor untuk lada hitam. Kami juga sampaikan terima kasih kepada LPEI," ungkapnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita mengemukakan besarnya prospek rempah-rempah Indonesia ini seiring dengan berkembangnya industri makanan dan konsumsi masyarakat yang menggunakan bahan baku lada sebagai penyedap makanan.

"Lada hitam Lampung telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG) yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM sejak tahun 2016 karena reputasi baik tersebut," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso mengungkapkan, kerja sama Ditjen IKMA dan LPEI dalam program pendampingan Desa Devisa Lada Hitam Lampung Timur turut melibatkan Dinas Koperasi dan UMKM Lampung Timur.

"Akan ada pelatihan penguatan manajemen usaha, pemberian sarana produksi untuk peningkatan kapasitas produksi, pendampingan akses pasar, pendampingan sistem keamanan pangan, dan pelatihan aplikasi keuangan dalam penyusunan laporan keuangan," kata Riyani.

Seperti diketahui, Lada merupakan salah satu komoditas subsektor perkebunan yang telah memberikan kontribusi nyata sebagai sumber devisa, penyedia lapangan kerja, dan sumber pendapatan petani. Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir utama lada di dunia, Ladang lada terbesar di dunia terletak di Indonesia.

Lada hitam berasal dari Lampung dikenal di pasar dunia sebagai Lampung black pepper, sedangkan lada putih berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan dikenal di pasar dunia sebagai Muntok white pepper.

Produksi lada dari kedua provinsi tersebut sudah merambah hingga ke pasar dunia. Prospek komoditas lada Indonesia dapat dilihat dari potensi pasar domestik yang cukup besar yaitu dengan semakin berkembangnya industri makanan yang menggunakan bahan baku dari lada serta meningkatnya konsumsi masyarakat dalam menggunakan lada sebagai penyedap makanan.