Sikap Netral Indonesia dalam Invasi Rusia Dipertanyakan Guru Besar Ilmu Politik UI

Oleh : Herry Barus | Kamis, 23 Juni 2022 - 15:43 WIB

Prof Maswadi Rauf, Gubes Ilmu Politik UI
Prof Maswadi Rauf, Gubes Ilmu Politik UI

INDUSTRY.co.id - Bandung- -- Sikap Indonesia yang menyatakan diri ‘netral’ dalam persoalan invasi Rusia ke Ukraina dipertanyakan Prof. Maswadi Rauf. Guru besar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, sejatinya dalam politik luar negeri Indonesia, terma ‘netral’ adalah istilah yang tidak dikenal. 

“Bisa saya katakan, kata ‘netral’ adalah istilah yang tidak dikenal dalam politik luar negeri Indonesia,”kata Prof Maswadi. Ia mengatakan hal itu dalam acara peluncuran buku “Cinta Keduaku Berlabuh di Ukraina” karya mantan Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Georgia dan Armenia, Prof Dr Yuddy Chrisnandi, yang berlangsung di Aula Harian Umum ‘Pikiran Rakyat’, Jalan Asia-Afrika, Bandung, kemarin.  

Prof Maswadi menegaskan, negara kita memiliki istilah tersendiri yang lebih cederung menegaskan sikap proaktif. “Kita memilih memakai terma bebas aktif dalam politik luar negeri,”kata dia. Karena itu, kata Prof Maswadi, dirinya mempertanyakan mengapa Indonesia memilih dan menyatakan sikap ‘netral’ dalam sengkarut kemanusiaan yang tengah berlangsung di Ukraina tersebut.

“Mengapa Indonesia mengambil sikap tersebut? Mengapa menyatakan ‘netral’, sementara jelas-jelas politik luar negeri Indonesia adalah bebas-aktif,”kata Prof Maswadi, yang didaulat memberikan sambutan pertama mengomentari buku yang membahas sisi-sisi budaya dan kemanusiaan yang dialami Dubes Yuddy selama bertugas di Ukraina.

Menurut Prof. Maswadi, ‘netral’ mencerminkan pilihan sikap dari pihak yang tidak punya prinsip. ‘Netral’ pun cenderung dipilih mereka yang tak punya pegangan untuk bersikap, terutama saat menghadapi kesulitan memilih di antara dua alternatif.

“Apa mentang-mentang karena Indonesia jadi presiden G-20?” tanya Prof Maswadi, cenderung retoris. Bagi guru besar ilmu politik tersebut, apa salahnya bersikap ‘bebas-aktif’, termasuk bebas untuk menyatakan dengan tegas siapa yang bersalah dalam sengkarut tersebut.

Bagi Prof Maswadi, ‘netral’-nya Indonesia juga cenderung mengingkari komitmen terhadap Dasa Sila Bandung yang dihasilkan bangsa-bangsa dunia ketiga dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955. Menurut Prof Maswadi, dari 10 poin hasil pertemuan KAA tersebut, setidaknya empat di antaranya relevan dengan persoalan perang Ukraina-Rusia saat ini.

Keempat sila itu adalah sila kedua, menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa; sila keempat yakni tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain; sila kelima menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB; sila ketujuh, tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara; serta sila kedelapan, yakni menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.

 

Sementara itu, berkenaan dengan peluncuran buku Yuddy Chrisnandi, Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu-ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (UNPAD), Widya Setiabudi, mengakui besarnya pengaruh Yuddy dalam kehidupan masa mudanya. Agak hiperbolis Widya mencontohkan perkataan Imam Hanafi (Abu Hanifah) soal pengaruh Imam Ja’far Ash-Shadiq dalam hidupnya.

“Kalau Imam Hanafi mengatakan,”Celakalah Nu’man—nama muda Imam Hanafi—kalau saja tak pernah bertemu Ja’far Ash-Shadiq, maka saya boleh juga mengatakan,”Celakalah Widya bila tak sempat bertemu Yuddy Chrisnandi,”kata dekan FISIP UNPAD tersebut, disambut tepuk tangan hadirin yang memenuhi Aula HU Pikiran Rakyat itu.

Mengomentari perjalanan karier Yuddy sebagai duta besar, Widya mengatakan, cukup sulit untuk menjadi seorang diplomat yang sukses. Namun, menurut dia, lebih sulit lagi menjadi seorang diplomat legendaris.

“Untuk menjadi diplomat legendaris itu, ada syarat lain yakni perlunya kemampuan berjejaring yang tinggi atau dalam bahasa agama, memiliki antusiasme yang tinggi dalam bersilaturahmi,”kata Widya.

Dalam dunia diplomatik, Widya mengatakan, dirinya percaya bahwa orang Sunda memiliki idiosyncrasy (kekhasan karakter atau temperamen) yang pas untuk menjadi seorang diplomat. “Dalam bahasa saya, pada diri ‘urang Sunda’ itu mengalir DNA diplomat,”kata Widya. Karena itulah, di dunia diplomasi Indonesia--dalam hal ini Kementerian Luar Negeri-- orang Sunda menjadi bagian yang menonjol.

Widya menunjuk nama-nama diplomat besar Indonesia, seperti Juanda Kartawidjaya, Mochtar Kusumaatmadja, Nurhasan Wirayudha, hingga Marty Natalegawa.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika

Senin, 04 Juli 2022 - 09:22 WIB

Hingga 1 Juli 2022, Kemenperin Mencatat Sebanyak 130 Perusahaan Terdaftar Dalam Program SIMIRAH 2

Kementerian Perindustrian mencatat, hingga 1 Juli 2022, sebanyak 130 perusahaan sudah mendaftar ke dalam Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (SIMIRAH) 2.0. Dari total tersebut, meliputi 51…

Menteri Basuki Tinjau Peningkatan Jalan Sirip Nias Utara

Senin, 04 Juli 2022 - 09:20 WIB

Tinjau Peningkatan Jalan Sirip Nias Utara - Gunung Sitoli , Menteri Basuki Instruksikan Perhatikan Kualitas

Selain pembangunan Jalan Lingkar Nias, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini juga tengah memulai pekerjaan peningkatan struktur Jalan Laehuwa - Ombulata -Tumula-Faekhuna’a…

Program Makmur Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petami Tenu Kidiri

Senin, 04 Juli 2022 - 09:19 WIB

Program Makmur Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petami Tebu Kidiri

– PT Pupuk Indonesia (Persero) menyebut program Makmur berhasil meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani tebu di Kecamatan Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur. Hal ini diungkapkan oleh…

PT Hutama Karya (Persero) Laksanakan Pelebaran Geometrik Jalan Soreang-Rancabali- Cidaun

Senin, 04 Juli 2022 - 09:00 WIB

PT Hutama Karya (Persero) Laksanakan Pelebaran Geometrik Jalan Soreang-Rancabali- Cidaun

PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) melalui kerja sama operasi (KSO) dengan PT Brantas Abipraya (Persero) (Brantas Abipraya) yaitu KSO HK-Abipraya dipercaya untuk mengerjakan proyek Penanganan…

Pembangunan infrastruktur

Senin, 04 Juli 2022 - 08:47 WIB

Kurangi Kemiskinan Ekstrem, Kementerian PUPR Bangun Sejumlah Infrastruktur di Pulau Nias

Pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 4 Tahun 2022 tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (PKE). Sebagai upaya mendukung hal tersebut, Kementerian Pekerjaan…