INDUSTRY.co.id - Jakarta - Asia Pasifik kian menegaskan posisinya sebagai motor pertumbuhan industri jasa keuangan global. Laporan terbaru yang dirilis Colliers bertajuk Global Financial Services Markets: Top Talent Locations 2026 menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan ini mencatat kinerja kuat dari sisi talenta, investasi, hingga output industri, sekaligus menjadi tujuan utama perusahaan jasa keuangan dalam menyusun strategi lokasi bisnis mereka.
Riset yang menganalisis lebih dari 200 pasar di seluruh dunia tersebut menemukan bahwa strategi penempatan operasi perusahaan jasa keuangan kini mengalami pergeseran. Selain mempertimbangkan akses terhadap talenta, perusahaan juga semakin memperhatikan daya saing biaya dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Meskipun pusat-pusat keuangan global yang mapan masih menjadi jangkar industri, jaringan pasar strategis dan pasar berkembang kini memainkan peran yang semakin penting dalam mendukung aktivitas bisnis.
Asia Pasifik menyumbang 39% dari seluruh perusahaan jasa keuangan global yang masuk dalam analisis, menjadi porsi terbesar dibandingkan kawasan lain di dunia. Dominasi ini juga tercermin dari sebaran pusat talenta yang mencapai sekitar 36% dari total pusat talenta global dalam pemeringkatan tersebut. Bahkan untuk kategori pusat operasional dan domestik, kawasan Asia Pasifik menguasai 44% pasar yang masuk daftar peringkat.
Head of Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo, mengatakan Jakarta terus memperkuat perannya sebagai pusat operasional dan domestik yang penting, didukung oleh basis talenta yang kuat untuk mendukung berbagai fungsi operasional perusahaan.
“Jakarta terus memperkuat perannya sebagai pusat domestik dan operasional utama yang ditopang oleh basis talenta yang mendalam dan berfokus pada fungsi delivery. Hal ini menempatkan kota ini sebagai mesin penting bagi aktivitas back-office, layanan bersama, dan fungsi-fungsi khusus yang mendukung pusat regional maupun global,” ujar Bagus.
Menurutnya, posisi Jakarta yang masuk lima besar pusat domestik dan operasional di Asia Pasifik mencerminkan meningkatnya daya saing ibu kota Indonesia sebagai pasar talenta yang andal dan mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Pengakuan ini mencerminkan tidak hanya efisiensi biaya dan kedalaman tenaga kerja yang dimiliki Jakarta, tetapi juga meningkatnya daya tarik kota ini bagi perusahaan yang mencari basis operasional yang tangguh dan berkinerja tinggi di Asia Tenggara,” tambahnya.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pusat gravitasi kemampuan industri jasa keuangan global semakin bergeser ke Timur. Managing Director, Occupier Services Asia Pacific Colliers, Mike Davis, menilai organisasi dari dalam maupun luar kawasan Asia Pasifik semakin tertarik beroperasi di lokasi yang memiliki ketersediaan talenta terbaik.
“Pusat gravitasi kemampuan jasa keuangan sedang bergeser ke Timur dan organisasi, baik dari kawasan Asia Pasifik maupun dari seluruh dunia, ingin berada di tempat talenta terbaik berada. Pasar talenta Asia Pasifik sedang berada dalam tren kenaikan,” katanya.
Lebih lanjut, laporan itu mencatat bahwa pasar-pasar di Asia Pasifik kini tidak lagi hanya berperan sebagai pusat operasional. Banyak kota mulai bertransformasi menjadi pusat pengambilan keputusan dan aktivitas bernilai tambah tinggi. Managing Director Office Services Southeast Asia Colliers, Chris Archibold, mengatakan semakin banyak kota yang mampu menjalankan fungsi strategis sekaligus operasional.
“Kami melihat adanya konvergensi yang lebih besar antara lokasi kantor pusat dan pusat delivery, di mana banyak kota kini mendukung pengambilan keputusan strategis sekaligus aktivitas operasional bernilai tinggi,” ujarnya.
Transformasi tersebut didorong oleh digitalisasi dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas, yang mengubah cara serta lokasi pekerjaan dilakukan dalam industri jasa keuangan.
Dari sisi kedalaman talenta, India masih menjadi pemimpin kawasan dengan tiga kota utamanya, yakni Delhi, Mumbai, dan Bengaluru, masuk dalam jajaran pasar talenta jasa keuangan terkuat di Asia Pasifik. Ketiga kota tersebut didukung oleh tenaga kerja yang besar, terampil, dan memiliki pasokan profesional jasa keuangan yang berkelanjutan.
Sementara itu, di Asia Tenggara, Manila dan Kuala Lumpur tetap menjadi pusat layanan operasional yang mapan berkat ketersediaan tenaga kerja berkualitas dengan biaya yang kompetitif.
Bagus menambahkan bahwa Jakarta kini menjadi pasar talenta terbesar keenam di Asia Pasifik. Menurutnya, posisi tersebut menunjukkan fondasi yang kuat sekaligus peluang pertumbuhan yang besar bagi Indonesia.
“Meski India masih memimpin dari sisi skala, Jakarta menonjol sebagai alternatif penting di Asia Tenggara dengan tenaga kerja yang besar dan semakin terampil. Kota ini mampu mendukung strategi diversifikasi perusahaan yang ingin menyeimbangkan skala operasi dengan penyebaran geografis,” ujarnya.
Di sisi lain, pusat-pusat keuangan utama seperti Tokyo, Hong Kong, Singapore, Seoul, dan Sydney terus menunjukkan kinerja yang solid, didukung oleh ekosistem keuangan yang matang serta aliran modal yang berkelanjutan ke sektor tersebut.
Ke depan, para pelaku industri jasa keuangan diperkirakan akan semakin mengandalkan data dalam menentukan strategi pengelolaan talenta dan lokasi bisnis. Davis menegaskan bahwa perusahaan yang mampu mengambil keputusan berbasis data akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam bersaing memperebutkan talenta dan menangkap peluang pertumbuhan.
“Perusahaan yang menerapkan pendekatan berbasis bukti akan berada pada posisi yang lebih baik untuk bersaing mendapatkan talenta dan meraih pertumbuhan. Temuan laporan ini menunjukkan model layanan jasa keuangan global yang semakin terdistribusi dan fleksibel, dengan Asia Pasifik berada di pusat pertumbuhan masa depan,” tutupnya.