Kabar Baik untuk Petani: BRIN Kembangkan Cabai Tahan Kutudaun, Kurangi Pestisida dan Dukung Produksi Berkelanjutan

Oleh : Candra Mata | Senin, 29 Juni 2026 - 08:59 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Upaya meningkatkan produktivitas cabai nasional tidak hanya bergantung pada teknik budidaya, tetapi juga pada pengembangan varietas yang memiliki ketahanan alami terhadap hama. 

Langkah ini dinilai penting mengingat cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus memengaruhi laju inflasi pangan di Indonesia.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ady Daryanto, mengatakan pengembangan varietas cabai tahan hama menjadi solusi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida secara intensif.

"Perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman membuat budidaya cabai semakin menantang. Pengembangan varietas tahan hama merupakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan produksi cabai," ujar Ady dalam webinar HortiActive #27 bertajuk Pemuliaan Cabai Tahan Kutudaun: Pendekatan Bioassay dan Analisis Genetik, Senin (22/6).

Menurutnya, kutudaun (Aphis gossypii) menjadi salah satu hama utama yang menyebabkan kerugian pada tanaman cabai. Selain mengisap cairan tanaman sehingga menghambat pertumbuhan, serangga ini juga menghasilkan embun madu (honeydew) yang memicu pertumbuhan jamur jelaga. 

Lebih dari itu, kutudaun berperan sebagai vektor lebih dari 50 jenis virus pada tanaman famili Solanaceae, di antaranya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Pepper Yellow Mosaic Virus (PepYMV), dan polerovirus.

Ady menjelaskan, tanaman secara alami memiliki dua mekanisme pertahanan terhadap serangan hama, yakni antixenosis yang memengaruhi perilaku hama agar enggan menyerang tanaman serta antibiosis yang mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama setelah berinteraksi dengan tanaman. 

Penelitian BRIN lebih difokuskan pada mekanisme antibiosis karena dinilai lebih efektif dalam menekan perkembangan populasi kutudaun.

Dalam penelitian tersebut, tim mengevaluasi tujuh genotipe cabai untuk mencari sumber ketahanan terhadap kutudaun. 

Hasilnya menunjukkan bahwa genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi hama sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai donor gen ketahanan dalam program pemuliaan cabai.

Untuk memastikan hasil pengujian akurat, peneliti mengembangkan tiga metode skrining berbasis no-choice test, yaitu seedling cage, detached leaf, dan clip cage. Ketiga metode tersebut digunakan untuk mengamati perkembangan populasi kutudaun selama tujuh hari setelah infestasi.

"Hasil pengujian menunjukkan seluruh metode memiliki nilai heritabilitas yang sangat tinggi, sekitar 90 hingga 91 persen. Artinya, karakter ketahanan lebih banyak dikendalikan oleh faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan," kata Ady.

Dari ketiga metode tersebut, clip cage dinilai paling praktis sekaligus andal karena pengujian dilakukan pada daun yang masih melekat pada tanaman. 

Metode ini memungkinkan kondisi tanaman tetap alami serta meminimalkan risiko kerusakan selama proses pengujian.

Penelitian juga mengungkap bahwa ketahanan terhadap kutudaun merupakan sifat kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen dengan interaksi yang kompleks. 

Meski demikian, adanya pengaruh gen aditif yang cukup kuat memberikan peluang bagi pemulia tanaman untuk meningkatkan ketahanan melalui proses seleksi pada generasi F4 hingga F6.

Temuan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam pengembangan varietas cabai unggul yang tidak hanya memiliki produktivitas tinggi, tetapi juga mampu bertahan terhadap serangan hama secara alami. 

Melalui inovasi ini, BRIN menargetkan lahirnya varietas cabai tahan kutudaun yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida, meningkatkan efisiensi budidaya, serta memperkuat penerapan pengendalian hama terpadu yang lebih ramah lingkungan.

Ke depan, hasil riset tersebut diharapkan berkontribusi pada peningkatan produktivitas cabai nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga cabai sebagai salah satu komoditas strategis dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →