INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pengamat pasar modal Jemmy Paul Wawointana menilai peringkat layak investasi (investment grade) yang diberikan lembaga pemeringkat internasional Standard and Poors (S&P) mendorong peningkatan kinerja reksadana pendapatan tetap lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya pada 2017.
"Faktor S&P menaikan peringkat utang Indonesia menjadi 'investment grade' akan memicu dana asing masuk ke surat utang atau obligasi, itu yang menjadi salah stau faktor yang akan mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap," ujar Jemmy Paul Wawointana yang juga Plt CEO PT Sucorinvest Asset Management di Jakarta, Jumat (26/5/2017)
Ia mengemukakan bahwa Fitch Ratings dan Moody's Investors Service menaikkan peringkat Indonesia ke investment grade pada 2011 dan 2012, kinerja reksa dana pendapatan tetap membukukan kinerja yang paling tinggi.
"Situasi itu tentunya juga dapat mendorong performa reksa dana pendapatan tetap pada 2017, karena obligasi merupakan aset dasar pengelolaan portofolionya," katanya.
Ia mengemukakan bahwa sejak awal 2017 ini banyak spekulan telah masuk ke pasar obligasi menyusul potensi kenaikan peringkat utang Indonesia cukup besar seiring dengan perekonmian nasional yang kondusif.
Jemmy menambahkan bahwa dampak dari "investment grade" secara langsung akan terasa pada pasar obligasi. Dampak utamanya adalah meningkatnya harga obligasi.
Sementara itu, Research Analyst PT Infovesta Utama, Reza Viola Purba mengemukakan bahwa sepanjang tahun berjalan ini, seluruh indeks reksadana mencatatkan kinerja positif, dengan indeks reksadana pendapatan tetap mencatat kinerja tertinggi hingga 19 Mei 2017.
Ia memaparkan bahwa pada periode itu, reksadana pendapatan tetap membukukan pertumbuhan kinerja sebesar 4,80 persen diikuti reksadana campuran 4,57 persen, reksadana saham sebesar 4,37 persen, dan reksadana pasar uang tercatat 1,87 persen.
"Kinerja positif seluruh indeks reksadana itu ditopang oleh kondisi pasar obligasi dan saham di dalam negeri yang juga mengalami penguatan," katanya.(Ant)