INDUSTRY.co.id - Jakarta – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Sunarso mengatakan holding ultra mikro dipastikan tidak akan mematikan keberadaan koperasi. Pasalnya, koperasi dapat dilibatkan dan menjadi bagian dari ekosistem tersebut, sehingga mampu menghadirkan layanan yang efisien melalui digitalisasi.

“Caranya bagaimana? Mereka kita libatkan dalam ekosistem ini dan kemudian mereka didigitalkan juga dan mereka bagian dari ekosistem ini. Kalau rentenir saja bisa kita jadikan agen, kemudian memberikan layanan efisien dengan digital, maka koperasi-koperasi pun akan lebih bisa lagi,” ujar Sunarso dalam diskusi daring bertema “Jaga UMKM Indonesia” yang dikutip INDUSTRY.co.id, Senin (9/8/2021)

Penjelasan Sunarso tersebut menjawab adanya kekhawatiran sejumlah pihak yang menilai bahwa keberadaan holding ultra mikro dapat mematikan koperasi.

Seperti diketahui, pemerintah membentuk holding ultra mikro yang melibatkan tiga BUMN yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pegadaian (persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Kehadiran holding tersebut akan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat yang belum bankable melalui perluasan jangkauan layanan dan integrasi ini ditargetkan mendorong peningkatan inklusi keuangan nasional.

Sejauh ini, peran besar segmen mikro dan ultra mikro dalam menopang perekonomian nasional belum diimbangi pemberdayaan dan akses pembiayaan yang merata terutama di segmen usaha ultra mikro.

Mengacu data BRI, dari sekitar 45 juta usaha ultra mikro pada 2018, hanya sekitar 15 juta unit usaha ultra mikro yang baru memperoleh akses pendanaan dari lembaga keuangan formal.

Sekitar 12 juta usaha ultra mikro lainnya mendapatkan akses pendanaan dari sumber informal seperti rentenir dan keluarga atau kerabat. Adapun sekitar 18 juta usaha ultra mikro lainnya belum mendapatkan akses pendanaan sama sekali.

“Jadi secara ekonomi, itu memberikan nilai tambah bagi pemegang saham di segitiga ini. Dan secara sosial meningkatkan kapabilitas masyarakat, terutama di ultra mikro melalui pemberdayaan. Dan kemudian sustainable. Ini akan meningkatkan kontribusi terutama meningkatkan iklusi keuangan secara berkelanjutan,” jelas Sunarso.

Sunarso memastikan pihaknya sudah menetapkan value proposition bagi pelaku usaha ultra mikro, sebagai target pasar dari holding tersebut. Yakni produk yang komprehensif, kemudian akses yang lebih luas, dan yang terpenting adalah integrasi data base.

Untuk itu, langkah tersebut menurutnya perlu ditopang dengan joint customer acquisition, penyediaan micro payment hingga layanan beyond banking.

Melalui nilai-nilai yang dijanjikan tersebut harapannya dapat mengubah persepsi di masyarakat bawah bahwa transaksi melalui layanan jasa keuangan resmi tidak sulit. Dengan demikian pelaku usaha ultra mikro bisa mengambil manfaat yang optimal atas holding yang memang dihadirkan negara untuk mendorong pertumbuhan dan pemberdayaan segmen tersebut.